Konten dari Pengguna

Memahami Big Five Personality: Definisi, Kategori, dan Pengaruhnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Big Five Personality. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Big Five Personality. Gambar: Pexels.

Dalam kehidupan sehari-hari, memahami kepribadian seseorang dapat membantu membangun hubungan yang lebih efektif. Salah satu model yang sering digunakan adalah Big Five Personality Traits, yang membagi kepribadian manusia ke dalam lima dimensi utama. Model ini banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga dunia kerja.

Pengertian Big Five Personality

Big Five Personality merupakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi dan memahami berbagai dimensi kepribadian manusia. Menurut Asina Christina Rosito dalam artikelnya Eksplorasi Tipe Kepribadian Big Five Personality Traits dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Akademik (2018), kepribadian adalah pola-pola dari sifat yang relatif permanen dan memiliki karakter unik secara konsisten, yang pada akhirnya memunculkan perilaku individu. Rosito (2018) mengutip Feist dan Feist (2008) untuk definisi ini, serta menjelaskan bahwa McCrae dan Costa membagi teori kepribadian The Five Factor Model of Personality ke dalam lima besar faktor atau dimensi kepribadian, yaitu neuroticism (neurotisme), extraversion (ekstraversi), openness (keterbukaan), agreeableness (persetujuan), dan conscientiousness (kehati-hatian).

Sejarah dan Perkembangan Big Five Personality

Penting dicatat bahwa sumber Rosito (2018) tidak membahas sejarah perkembangan model Big Five secara rinci. Berdasarkan literatur internasional, investigasi terhadap model lima faktor dimulai sejak tahun 1949 ketika D.W. Fiske tidak menemukan dukungan terhadap 16 faktor kepribadian Cattell, melainkan hanya lima faktor. Lewis Goldberg kemudian memopulerkan istilah "Big Five," sementara Costa dan McCrae mengembangkan NEO Personality Inventory (NEO-PI) untuk mengukur neuroticism, extraversion, dan openness, lalu menambahkan agreeableness dan conscientiousness dalam versi revisinya (NEO-PI-R). Sejak awal 1990-an, konsensus psikolog secara bertahap mendukung model lima faktor ini sebagai kerangka utama dalam psikologi kepribadian.

Pentingnya Big Five dalam Psikologi Modern

Rosito (2018) menjelaskan bahwa berbagai hasil studi empiris menunjukkan pentingnya aspek kepribadian sebagai prediktor dalam prestasi akademik. Ketika kemampuan kognitif merujuk pada "apa yang dapat dilakukan" oleh seorang pembelajar (what an individual can do), maka kepribadian merujuk pada "apa yang akan dilakukan" pembelajar tersebut (what an individual will do). Aspek motivasional individu merupakan fitur dari kepribadian yang mencerminkan kemauan atau dorongan seseorang untuk bertindak.

Lima Kategori Utama Big Five Personality

Kelima kategori utama dalam big five personality memberikan gambaran mendalam tentang ciri khas kepribadian seseorang. Setiap dimensi memiliki karakteristik yang dapat diamati dalam aktivitas harian maupun saat menghadapi tantangan.

Openness to Experience

Rosito (2018) menjelaskan bahwa pribadi dengan openness yang tinggi secara konsisten mencari pengalaman-pengalaman yang beragam. Tipe kepribadian ini memiliki kesamaan dengan aspek kreatif dan inovatif dalam motivasi berprestasi. Furnham dan Chamorro-Premuzic (2008) dalam sumber yang sama menunjukkan bahwa openness berkorelasi positif dengan prestasi belajar yang dimediasikan oleh deep learning.

Conscientiousness

Rosito (2018) menjelaskan bahwa tipe dimensi conscientiousness berasosiasi dengan perilaku disiplin, pekerja keras, teratur dan tertib seperti merencanakan dan mengorganisir tugas, berperilaku dengan rasa tanggung jawab dan berambisi sukses di bidang akademik. Dimensi ini juga berhubungan dengan pendekatan pembelajaran achieving learning yang secara positif berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi.

Extraversion

Rosito (2018), mengutip De Raad dan Schouwenburg (dalam Poropat, 2009), menjelaskan bahwa siswa dengan tingkat extraversion yang tinggi cenderung memiliki prestasi yang baik dikarenakan tingginya energi ditambah dengan attitude yang positif yang mengarahkan pada motivasi untuk belajar dan memahami. Dimensi ini menyangkut kelekatan seseorang, yaitu bersahabat, memiliki hasrat untuk bersama orang lain, dan ingin menghibur orang lain.

Agreeableness

Rosito (2018) menjelaskan bahwa tipe kepribadian agreeableness membedakan pribadi yang berhati lembut dari pribadi yang berhati kejam. Dimensi ini berhubungan dengan kepatuhan terhadap perintah guru dan berusaha fokus kepada materi pembelajaran. Namun dalam penelitian Rosito, dimensi ini tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik.

Neuroticism

Rosito (2018) menjelaskan bahwa pribadi dengan skor neuroticism tinggi cenderung menjadi cemas, temperamental, mengasihani diri sendiri, dan rapuh terhadap gangguan yang berkaitan dengan stres. Kecemasan yang tinggi berpengaruh negatif terhadap motivasi untuk berprestasi. Menariknya, dalam penelitiannya di Universitas HKBP Nommensen, dimensi ini justru ditemukan berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik, yang dikaitkan dengan tingginya persaingan di kalangan mahasiswa.

Penerapan Big Five Personality: Pengaruh terhadap Prestasi Akademik

Rosito (2018) menemukan bahwa kepribadian dengan model Big Five Personality Traits memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik (R = 0,26; R² = 6,9%; F = 4,69; p-value < 0,001). Secara khusus, tiga dimensi — neuroticism, extraversion, dan conscientiousness — memberikan kontribusi pengaruh signifikan, sementara agreeableness dan openness tidak. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional sebelumnya, terutama terkait peran conscientiousness sebagai prediktor prestasi akademik yang konsisten.

Relevansi untuk Pendidikan

Rosito (2018) menyarankan agar para pendidik di lingkungan perguruan tinggi mendorong berkembangnya sikap tekun, gigih, sistematis, dan terorganisir dalam proses belajar mahasiswa. Selain itu, keterbukaan dan asertivitas dalam proses belajar perlu dikembangkan, misalnya melalui metode diskusi atau tugas kelompok yang terarah. Implikasinya, dosen dapat mengajarkan dan melatih teknik manajemen stres pada mahasiswa dalam mengarahkan emosi negatif menjadi energi untuk melakukan hal yang positif.

Kesimpulan

Big Five Personality memberikan kerangka yang terstruktur untuk memahami karakter seseorang melalui lima dimensi utama: neuroticism, extraversion, openness, agreeableness, dan conscientiousness. Penelitian Rosito (2018) menunjukkan bahwa model ini mampu memprediksi prestasi akademik secara signifikan, dengan conscientiousness, neuroticism, dan extraversion sebagai prediktor utama. Dengan mengenali tipe kepribadian berdasarkan Big Five, interaksi sosial dan proses pembelajaran dapat dikelola secara lebih efektif.