Memahami Dark Personality dalam Psikologi: Konsep dan Dampaknya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia psikologi, konsep dark personality menjadi topik yang semakin banyak dibicarakan, terutama seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Istilah ini merujuk pada kecenderungan sifat-sifat kepribadian yang dikaitkan dengan perilaku manipulatif dan kurangnya empati. Memahami dark personality penting untuk mengenali pola perilaku yang dapat memengaruhi hubungan sosial dan interaksi sehari-hari.
Pengertian Dark Personality
Menurut Irfani Rizal dan Benni Handayani dalam artikel Gambaran Kepribadian Gelap (Dark Triad Personality) pada Pengguna Media Sosial (2021), kepribadian gelap atau dark triad personality merupakan kepribadian yang didominasi pada tingkah laku negatif. Kepribadian mengacu pada seperangkat karakteristik yang cenderung stabil yang menentukan perbedaan tingkah laku seperti berpikir, gerakan dari seseorang dengan durasi waktu yang lama (Alwisol, 2016). Dalam kepribadian tidak ada yang benar ataupun yang salah, tetapi berada pada kecenderungan seseorang dalam berperilaku atau terlihat dalam suatu tingkah laku yang sering muncul.
Tiga Komponen Utama Dark Personality (Dark Triad)
Rizal dan Handayani (2021), mengutip Goodboy et al. (2015), menjelaskan bahwa yang termasuk dalam kepribadian gelap adalah Machiavellianism, Narcissism, dan Psychopathy. Ketiga traits ini menurut O'Boyle et al. (2012) memiliki tingkatan keburukan yang akan berpengaruh ke dalam perilaku seseorang, dan Jones serta Figueredo (2013) mengungkapkan bahwa dark triad personality memiliki sifat antagonis yaitu perasaan tidak berperasaan dan manipulasi — yang berpotensi mengancam kesejahteraan orang lain.
Machiavellianism
Kepribadian machiavellianism merujuk pada kecenderungan untuk memanipulasi orang lain. Rizal dan Handayani (2021), mengutip Lyons (2019), merinci tiga karakteristik machiavellianism: (1) ketika berkomunikasi dan berurusan dengan orang lain, suka melakukan tindakan manipulatif; (2) berpandangan sinis terhadap sifat bawaan manusia; serta (3) berpandangan bahwa mencari keuntungan melampaui prinsip-prinsip hidup. Individu dengan machiavellianism tinggi juga cenderung rendah dalam locus of control dan fokus pada pencapaian tujuan dengan cara apapun. Dalam konteks media sosial, mereka biasanya tidak memperlihatkan profil asli tentang diri sendiri karena senang untuk memanipulasi, menipu orang lain, dan berbohong; mereka lebih suka berkomunikasi secara online di mana mereka dapat memanipulasi orang lain dengan mudah.
Narcissism
Penilaian diri secara berlebihan merupakan ciri khusus dari traits narcissism. Rizal dan Handayani (2021), mengutip O'Boyle et al. (2012), menyebutkan beberapa karakteristik narcissism: berpandangan secara berlebihan tentang pribadi sendiri, memiliki angan-angan atau imajinasi yang tinggi terhadap suatu keberhasilan, merasa kagum secara berlebihan kepada diri sendiri, sering membanggakan prestasi secara berlebihan, cenderung tidak menerima kritikan, tidak mau diajak berkompromi, dan mencari hubungan dengan orang lain yang merasa kagum dengan kelebihan yang mereka punya. Kepribadian narcissism biasanya menolak umpan balik negatif, tetapi jika dikritik, cenderung merespons secara agresif.
Psychopathy
Rizal dan Handayani (2021), mengutip Sbarbaro (2011), menjelaskan bahwa individu dengan psychopathy mengacu pada kecenderungan terhadap rendahnya rasa empati, terlibat dalam perilaku impulsif, dan suka mencari sensasi. Trait's psychopathy dicirikan sebagai seseorang yang kurang empati dan peduli dengan orang lain — ketika bersalah, cenderung tidak merasa menyesal dengan perbuatannya. Secara emosional tidak peka, sering membebani orang lain, dan terlibat dalam berbagai kegiatan kriminal untuk mencapai tujuan tertentu. Psychopathy awalnya didiagnosis sebagai gangguan klinis (sering disebut gangguan antisosial), tetapi penelitian terbaru mengungkapkan bahwa psychopathy dianggap sebagai suatu personality traits.
Dampak Dark Personality di Media Sosial
Penelitian Rizal dan Handayani (2021) menggunakan 386 responden (usia 15–24 tahun, pengguna media sosial aktif di Pekanbaru) dengan skala adaptasi Dark Triad Personality oleh Jones dan Paulhus (2014). Hasil penelitian menunjukkan: 15.80% memiliki kepribadian machiavellianism tinggi, 14.76% berada pada kepribadian narcissism tinggi, dan 15.02% memiliki kepribadian psychopathy tinggi. Berdasarkan nilai mean, kepribadian machiavellianism memiliki nilai mean tertinggi (21.09) dan skor terendah terletak pada traits psychopathy (11.20).
Sebagian besar responden menggunakan Instagram (95.5%), diikuti WhatsApp/Line (83.8%), dan Facebook (53%). Durasi penggunaan media sosial terbanyak adalah 3–6 jam per hari (42.7% responden).
Perilaku di Media Sosial
Dalam konteks media sosial, Rizal dan Handayani (2021) menjelaskan bahwa individu dengan machiavellianism tinggi cenderung tidak memperlihatkan profil asli diri mereka dan lebih suka memanipulasi orang lain secara online. Individu dengan narcissism tinggi dalam menggunakan media sosial cenderung tidak menggunakan perasaannya serta berani menyakiti orang lain — termasuk berswafoto demi mendapatkan pujian dan like. Individu dengan psychopathy tinggi sesuka hati dan tanpa memikirkan perasaan pengguna lain, seperti berkomentar secara spontan dan menyebarkan berita tanpa berpikir panjang.
Perspektif Islam
Rizal dan Handayani (2021) menambahkan perspektif Islam bahwa dark triad personality — sebagai kepribadian yang didominasi tingkah laku negatif — termasuk dalam kepribadian ammarah dalam perspektif Islam, yang berarti individu tersebut cenderung pada tabiat jasad dan mengejar prinsip kenikmatan. Kepribadian ammarah menarik kalbu manusia untuk melakukan perbuatan yang buruk dan tingkah laku tercela.
Kesimpulan
Dark triad personality mencakup tiga komponen — Machiavellianism, Narcissism, dan Psychopathy — yang masing-masing memiliki karakteristik khas namun saling berkaitan dalam mendorong perilaku negatif. Penelitian Rizal dan Handayani (2021) pada 386 pengguna media sosial di Pekanbaru menunjukkan bahwa machiavellianism memiliki mean tertinggi, diikuti narcissism dan psychopathy. Memahami dark personality membantu kita lebih waspada dan membangun hubungan sosial yang lebih sehat, baik di dunia nyata maupun digital.