Konten dari Pengguna

Memahami Empati: Pengertian dan Pentingnya Empati dalam Psikologi

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Empati. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Empati. Gambar: Pexels.

Empati sering disebut sebagai kemampuan memahami perasaan dan pikiran orang lain. Dalam konteks psikologi, empati menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan antarindividu yang sehat.

Definisi Empati Menurut Psikologi

Menurut Surya dalam Herri Zan Pieter (2012) sebagaimana dikutip dalam artikel Lidya Wati & Muslim Afandi (2021) yang berjudul Empati dalam Prespektif Teori Konseling Rational Emotive Behaviour Therapy, empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang tampak maupun yang tidak nampak maupun yang terkandung, khususnya pada aspek perasaan, pikiran, dan keinginan. Selanjutnya empati adalah suatu tindakan yang munculnya setelah terjadinya suatu proses interaksi, yang kemudian akan meningkatkan kualitas hubungan sosialnya — manusia melakukan aktivitas-aktivitas untuk memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh yang bersangkutan terhadap kondisi yang sedang dialami orang lain, tanpa yang bersangkutan kehilangan kontrol dirinya (Wati & Afandi, 2021, mengutip Taufik, 2012).

Menurut Albert Ellis sebagaimana disimpulkan Wati & Afandi (2021), empati adalah kemampuan seseorang dalam merasakan apa yang dirasakan orang lain dengan cara memulai berpikir rasional.

Empati dalam Perspektif Teori Konseling

Teori Konseling Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) mengatakan bahwa gangguan emosional akan menyebabkan seseorang acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, dan hal ini merupakan salah satu penyebab kurangnya empati (Wati & Afandi, 2021). Teori REBT dapat meningkatkan empati melalui teknik ABCDE (Wati & Afandi, 2021).

Komponen-Komponen Empati

Empati sering kali memiliki komponen kognitif yaitu kemampuan melihat keadaan psikologis dalam diri orang lain atau yang disebut dengan kemampuan mengambil perspektif orang lain (Wati & Afandi, 2021). Empati memiliki korelasi yang sangat erat dengan perilaku pro-sosial — siswa dapat berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka maupun duka, berkesediaan dalam memberi bantuan kepada orang lain baik materil maupun moril, dan dapat meningkatkan harga diri individu (Wati & Afandi, 2021).

Perbedaan Empati dengan Simpati

Empati berbeda dengan simpati. Menurut Enjang dalam Emi Indriasari (2015) sebagaimana dikutip Wati & Afandi (2021), empati adalah identifikasi kepada seseorang yang muncul sampai batas-batas tertentu dalam setiap percakapan, bahkan empati merupakan proses mendasar dalam cinta. Empati melibatkan pemahaman mendalam terhadap perasaan, pikiran, dan keinginan orang lain — berbeda dari simpati yang lebih pada rasa kasihan tanpa benar-benar memahami perasaan orang tersebut.

Pentingnya Empati dalam Psikologi

Empati sangatlah penting bagi peserta didik atau konseli karena sikap empati dapat menghubungkan hubungan baik seseorang dengan orang lain, terutama dengan teman sebaya dan lingkungan sekitarnya (Wati & Afandi, 2021). Menurut Goleman dalam Leny Latifah (2016) sebagaimana dikutip Wati & Afandi (2021), individu dengan tingkat empati yang rendah dapat menyebabkan munculnya perilaku menyimpang, seperti tindakan bullying dan menyiksa, memiliki egois yang tinggi, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, sulit bersosialisasi, dan mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak pantas.

Teknik ABCDE dalam Meningkatkan Empati melalui REBT

Meningkatkan empati berdasarkan konsep teori Ellis melalui teknik ABCDE dalam konseling REBT mencakup (Wati & Afandi, 2021):

A (Activity event): Kondisi individu kurangnya rasa empati.

B (Belief): Individu yang kurang memiliki rasa empati akan menimbulkan tidak peduli dengan keadaan sekitar, emosional yang tidak stabil, egois, selalu merasa dirinya paling benar, hubungan dengan lingkungan sekitar yang buruk, senang mengkritik, dan ucapan yang selalu menyakiti orang lain.

C (Consequences): Konsekuensi yang dialami individu; pemikiran yang irasional mengakibatkan individu egois, senang mengkritik orang lain, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dan menyakiti hati orang lain.

D (Disputing): Pertentangan antara pemikiran irasional dengan pemikiran yang rasional. Dari proses konselor, pemikiran yang rasional dapat kembali pada diri individu yang mengalami kurangnya rasa empati.

E (Effect): Efek atau dampak dari pertentangan dengan pemikiran yang irasional, berupa kognitif ataupun perilaku, yang mendorong individu menuju perilaku yang positif.

Proses Konseling REBT untuk Meningkatkan Empati

Konseling REBT lebih menekankan pada perubahan cara berpikir dan persepsi peserta didik. Hasil yang ingin dicapai dari konseling REBT bagi peserta didik yang kurang memiliki empati antara lain: peserta didik memperoleh pandangan hidup yang rasional atau logis dan dapat mengelola emosionalnya dengan baik; peserta didik mampu memahami perilaku negatif yang terjadi pada dirinya dan mampu mengubah perilakunya menjadi positif (Wati & Afandi, 2021).

Kesimpulan

Empati menurut Albert Ellis adalah kemampuan dalam merasakan apa yang dirasakan orang lain yang dilakukan dengan cara berpikir rasional (Wati & Afandi, 2021). Teknik ABCDE dalam teori REBT Albert Ellis memberikan kerangka terstruktur untuk meningkatkan rasa empati, sehingga individu yang awalnya berpikir irasional dapat berubah menjadi rasional dan membangun hubungan sosial yang lebih baik.