Memahami Id: Pengertian, Perbedaan Id, Ego, dan Superego Menurut Psikologi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam psikologi, konsep Id seringkali muncul saat membicarakan struktur kepribadian manusia. Istilah ini diperkenalkan oleh Sigmund Freud dan kini menjadi salah satu fondasi dalam memahami perilaku serta motivasi dasar seseorang. Untuk memahami Id secara utuh, penting juga mengenal bagaimana Id berhubungan dengan Ego dan Superego.
Pengertian Id Menurut Psikologi
Pembahasan mengenai Id tidak dapat dilepaskan dari pandangan klasik Freud. Dalam artikel jurnal Dinamika Id, Ego, Superego dalam Konteks Kebutuhan Intimasi oleh M. Septian Eko P. N. (2017), Id dipahami sebagai bagian inti dari struktur kepribadian manusia yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan dan dorongan-dorongan dasar.
Definisi Id
Id merujuk pada bagian terdalam dari kepribadian yang berisi dorongan dan naluri paling mendasar. M. Septian Eko P. N. (2017) menjelaskan bahwa Id adalah induk dari sistem kepribadian dan dibawa sejak lahir; dari Id inilah kemudian muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls, dan dorongan-dorongan. Segala keinginan dan impuls spontan bersumber dari Id, dan Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit.
Fungsi Id dalam Kepribadian
Id memiliki peran untuk mendorong individu memenuhi kebutuhan dan naluri dasarnya. M. Septian Eko P. N. (2017) menegaskan bahwa Id bekerja sepenuhnya secara tidak sadar dan tidak mempertimbangkan norma maupun realitas di sekitarnya. Oleh karena itu, komponen ini cenderung mencari pemuasan secara spontan dan segera, tanpa memperhatikan konteks sosial maupun moral.
Perbedaan antara Id, Ego, dan Superego
Ketiga struktur kepribadian ini memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Freud (dalam M. Septian Eko P. N., 2017) menjelaskan bahwa di dalam struktur kepribadian, Id tidak bekerja sendiri: ada Ego yang bekerja berdasarkan prinsip realistik (realistic principle) dan Superego yang bekerja berdasarkan prinsip idealistik (idealistic principle).
Penjelasan Singkat tentang Ego
Ego bertugas menengahi dorongan Id dengan realitas. M. Septian Eko P. N. (2017) menyebut Ego sebagai “eksekutif kepribadian” karena Ego mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan ke mana ia akan memberikan respons, dan memutuskan insting-insting mana yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Dengan kata lain, Ego berperan memastikan tindakan yang diambil tetap dapat diterima dalam situasi nyata.
Penjelasan Singkat tentang Superego
Superego merupakan bagian dari kepribadian yang mewakili kekuatan moral dan etik. Menurut M. Septian Eko P. N. (2017), Superego beroperasi memakai prinsip idealistik (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik Ego. Superego kerap bertindak sebagai “penjaga” agar tidak semua dorongan Id dipenuhi begitu saja, dengan menilai apakah tindakan tersebut sesuai dengan standar moral yang dianut.
Komponen Ciri Utama Fungsi Utama Id, Ego, dan Superego
Id: Tidak sadar, impulsif, beroperasi atas pleasure principle Mendorong pemenuhan naluri dan dorongan dasar secara segera
Ego: Sadar, realistis, beroperasi atas realistic principle Menengahi antara Id dan realitas; eksekutif kepribadian
Superego: Moral, etis, beroperasi atas idealistic principle Mengontrol dan membatasi perilaku berdasarkan standar moral
Id, Ego, dan Superego dalam Kebutuhan Intimasi
Struktur kepribadian ini juga memengaruhi kebutuhan intimasi dalam kehidupan manusia. M. Septian Eko P. N. (2017) meneliti dinamika Id, Ego, dan Superego secara khusus dalam konteks kebutuhan intimasi pada aktivis dakwah kampus sebagai kelompok dewasa muda.
Hubungan Id dengan Kebutuhan Intimasi
Menurut M. Septian Eko P. N. (2017), subjek-subjek dalam penelitiannya memiliki hasrat atau dorongan untuk memenuhi keinginan untuk dekat dengan lawan jenisnya dari segi emosional, seperti rasa rindu, cinta, sayang, dan ingin diperhatikan. Dorongan-dorongan tersebut bersumber dari Id, yang menuntut pemuasan kebutuhan intimasi secara spontan. Hal ini menunjukkan bahwa Id mendorong seseorang untuk mencari keintiman dan kedekatan, terlepas dari norma atau prinsip yang berlaku.
Contoh Dinamika Id, Ego, dan Superego dalam Kehidupan Sehari-hari
M. Septian Eko P. N. (2017) menggambarkan bahwa ketika dorongan Id untuk menjalin kedekatan dengan lawan jenis berbenturan dengan nilai-nilai Superego, konflik, kecemasan, dan tegangan pun muncul. Ego kemudian berperan dengan menerapkan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism). Dalam penelitian tersebut, mekanisme yang paling banyak digunakan secara umum adalah sublimasi, yaitu menyalurkan dorongan yang tidak sesuai prinsip ke dalam bentuk perilaku yang dapat diterima masyarakat, seperti menambah kegiatan organisasi, beribadah, atau menghafal Al-Qur’an. Ini mengilustrasikan bagaimana Ego menimbang dorongan Id terhadap standar Superego sebelum mengambil tindakan.
Kesimpulan
Id merupakan bagian penting dalam struktur kepribadian manusia menurut psikologi psikoanalitik Freud. Id adalah induk dari sistem kepribadian yang berisi insting, impuls, dan dorongan-dorongan bawaan, dan beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan tanpa mempertimbangkan realitas maupun norma sosial. Ego, sebagai eksekutif kepribadian, bekerja berdasarkan prinsip realistik untuk menengahi dorongan Id; sementara Superego mewakili kekuatan moral dan etik yang beroperasi berdasarkan prinsip idealistik. Memahami perbedaan ketiga struktur ini membantu kita mengenali bagaimana proses pengambilan keputusan dan perilaku terbentuk, termasuk dalam konteks kebutuhan intimasi dan relasi sosial.