Memahami Impulsivitas Emosi: Definisi dan Hubungannya dengan Regulasi Emosi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Impulsivitas emosi kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini sering kali berhubungan dengan kesulitan mengendalikan perasaan yang muncul tiba-tiba, sehingga dapat memengaruhi perilaku dan hubungan sosial. Memahami apa itu impulsivitas emosi dan kaitannya dengan regulasi emosi dapat membantu seseorang mengambil langkah yang lebih tepat dalam mengelola respons emosional.
Pengertian Impulsivitas
Menurut Karagöz, Tezsezen, dan Şahin dalam The Link Between Emotional Regulation and Impulsivity in Childhood Anxiety Disorder (2026), impulsivitas didefinisikan sebagai bertindak tiba-tiba dan tanpa perencanaan sebagai respons terhadap dorongan atau keinginan yang merugikan, meskipun ada konsekuensi negatif potensial. Impulsivitas merupakan kriteria diagnostik untuk banyak gangguan psikiatri dan sering diamati selama perjalanan klinis gangguan tersebut.
Karagöz dkk. menegaskan bahwa individu dengan gangguan kecemasan secara aktif menghindari pengambilan risiko — karakteristik ini tidak sejalan dengan ciri fundamental impulsivitas (mencari hal baru, mengambil risiko, bertindak tanpa berpikir). Hubungan antara impulsivitas dan kecemasan masih kontroversial: beberapa studi melaporkan korelasi negatif, sementara studi lain melaporkan korelasi positif.
Negative Urgency
Karagöz dkk. menjelaskan konsep negative urgency — kecenderungan bertindak impulsif untuk menghindari emosi negatif — sebagai salah satu dimensi impulsivitas yang mungkin berkaitan dengan impulsivitas yang diamati pada gangguan kecemasan.
Temuan Utama Penelitian: Tidak Ada Perbedaan Signifikan pada Impulsivitas
Studi Karagöz dkk. melibatkan 60 anak usia 8–12 tahun (30 dengan generalized anxiety disorder/GAD, 30 dengan gangguan kecemasan lain) dan 40 anak kelompok kontrol sehat. Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada skor Barratt Impulsiveness Scale Short Form (BIS-S) antara kelompok GAD, kelompok gangguan kecemasan lain, dan kelompok kontrol.
Sebaliknya, kelompok GAD dan gangguan kecemasan lain menunjukkan skor yang secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol pada Emotion Regulation Checklist (ERC) — baik subskala regulasi emosi maupun subskala variabilitas/negativitas emosional.
Hubungan Impulsivitas Emosi dan Regulasi Emosi
Impulsivitas emosi memiliki hubungan erat dengan kemampuan regulasi emosi. Regulasi emosi sendiri adalah proses mengelola dan mengontrol perasaan agar tetap seimbang.
Analisis Mediasi: Peran Sensitivitas Kecemasan
Karagöz dkk. melakukan tiga model mediasi menggunakan interval kepercayaan bootstrap (5.000 resample). Hasilnya, sensitivitas kecemasan tidak secara signifikan memediasi hubungan antara indeks regulasi emosi (ERC) dan impulsivitas (BIS-S) — efek tidak langsung pada seluruh model tidak signifikan.
Sebaliknya, subskala variabilitas/negativitas emosional menunjukkan hubungan total dan langsung yang signifikan dengan impulsivitas pada Model 2 dan 3. Model dengan variabel regulasi emosi (bukan variabilitas/negativitas) tidak signifikan.
Interpretasi
Karagöz dkk. menyimpulkan bahwa variabilitas/negativitas emosional berhubungan secara langsung dan penuh (directly and fully) dengan impulsivitas — bukan dimediasi oleh sensitivitas kecemasan. Ketidakstabilan emosi, kecenderungan meledak amarah, perubahan suasana hati, dan intensitas emosional pada anak dengan gangguan kecemasan dapat menyebabkan mereka mengadopsi mekanisme coping maladaptif yang bercirikan perilaku impulsif — meski diagnosis kecemasan itu sendiri tidak berkorelasi dengan skor impulsivitas total.
Karagöz dkk. mencatat bahwa penelitian sebelumnya (Studi Fase Dewasa) menunjukkan korelasi positif kuat antara kecemasan dan impulsivitas pada gangguan pengendalian impuls, namun temuan pada populasi anak (studi ini) berbeda — kemungkinan karena korteks prefrontal, wilayah otak yang terkait kontrol impuls, masih dalam tahap perkembangan signifikan pada usia 8–12 tahun.
Keterbatasan Studi
Karagöz dkk. mencatat keterbatasan studi: jumlah partisipan relatif kecil yang membatasi generalisasi temuan; penilaian impulsivitas dilakukan lintas-seksi menggunakan skala laporan-diri tanpa pengukuran neurokognitif; serta kategori "gangguan kecemasan lain" dievaluasi sebagai satu kelompok tunggal sehingga temuan pada kategori ini bersifat eksploratif.
Kesimpulan
Berdasarkan Karagöz, Tezsezen, dan Şahin (2026), anak dengan gangguan kecemasan (GAD dan gangguan kecemasan lain) menunjukkan kesulitan regulasi emosi yang signifikan lebih besar dibanding anak sehat, namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada tingkat impulsivitas itu sendiri. Yang berhubungan langsung dengan impulsivitas adalah variabilitas/negativitas emosional — bukan sensitivitas kecemasan sebagai mediator. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan keterampilan regulasi emosi pada gangguan kecemasan anak dapat menjadi faktor penting dalam efektivitas terapi dan pemeliharaan kontrol perilaku.