Konten dari Pengguna

Memahami Konformitas dalam Psikologi: Definisi dan Contoh

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konformitas. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konformitas. Gambar: Pexels.

Konformitas merupakan salah satu fenomena yang sering dijumpai dalam kehidupan sosial sehari-hari. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan sikap, perilaku, atau pendapatnya agar selaras dengan kelompok di sekitarnya. Melalui artikel ini, pembaca akan diajak memahami lebih dalam tentang apa itu konformitas dalam psikologi, faktor pendorong, serta contohnya di berbagai situasi kehidupan.

Pengertian Konformitas dalam Psikologi

Konformitas dalam psikologi menggambarkan proses ketika individu menyesuaikan diri demi mengikuti norma atau harapan kelompok.

Definisi Konformitas Menurut Para Ahli

Menurut Safri Mardison dalam Konformitas Teman Sebaya Sebagai Pembentuk Perilaku Individu, konformitas merupakan perubahan perilaku remaja sebagai usaha untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok dengan acuan, baik ada maupun tidak ada tekanan secara langsung yang berupa suatu tuntutan tidak tertulis dari kelompok sebaya terhadap anggotanya, namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menyebabkan munculnya perilaku-perilaku tertentu pada remaja anggota kelompok tersebut.

Salah satu upaya individu agar dapat diterima dalam suatu kelompok sosial adalah melakukan konformitas (Mardison). Beberapa ahli mendefinisikan konformitas sebagai berikut:

David O. Sears — konformitas adalah bahwa seseorang melakukan perilaku tertentu karena disebabkan orang lain melakukan hal tersebut

Baron dan Byrne — konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada

Myres — konformitas merupakan perubahan perilaku sebagai akibat dari tekanan kelompok, yang terlihat dari kecenderungan remaja untuk selalu menyamakan perilakunya dengan kelompok acuan sehingga dapat terhindar dari celaan maupun keterasingan

Kiesler — konformitas mengarah pada suatu perubahan tingkah laku ataupun kepercayaan seseorang sebagai hasil dari tekanan kelompok baik secara nyata maupun tidak nyata (Mardison)

Santrock (2003: 221, dalam Mardison) juga menegaskan bahwa konformitas merupakan suatu bentuk sikap penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat/kelompok karena ia terdorong untuk mengikuti kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang sudah ada, yang dapat dilihat dari perubahan perilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh maupun yang dibayangkan saja.

Tiga Hal Pokok dalam Konformitas

Dari berbagai definisi para ahli di atas, Mardison mengambil tiga hal pokok dari konformitas, yaitu: (a) penyesuaian — individu menyesuaikan diri terhadap norma yang berlaku dalam kelompok tertentu; (b) perubahan — perubahan yang terjadi sebagai hasil dari penyesuaian, meliputi keyakinan, sikap, maupun perilaku; dan (c) tekanan kelompok — sebagai penyebab terjadinya penyesuaian dan perubahan tersebut (Mardison).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konformitas

Faktor utama yang mendorong konformitas adalah kebutuhan untuk diterima dalam kelompok, yang menyebabkan remaja melakukan perubahan dalam sikap dan perilaku sesuai dengan perilaku anggota kelompoknya (David O. Sears dkk., 1991: 80, dalam Mardison). Ketika seseorang merasa ingin menjadi bagian dari kelompok, ia cenderung mengikuti aturan atau kebiasaan yang ada. Selain tekanan kelompok, norma sosial yang berlaku dalam kelompok juga berperan besar. Cialdini & Goldstein (2004) dalam Annual Review of Psychology mengidentifikasi dua pengaruh utama: informational influence (keinginan mendapat informasi yang akurat dari kelompok) dan normative influence (keinginan diterima dan dihindari dari penolakan sosial).

Contoh Konformitas dalam Kehidupan Sehari-hari

Konformitas dapat ditemukan pada berbagai usia dan situasi. Namun, masa remaja menjadi salah satu periode paling rentan karena adanya kebutuhan kuat akan penerimaan sosial.

Kasus Konformitas pada Remaja

Konformitas muncul pada masa remaja awal yaitu antara 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun yang ditunjukkan dengan cara menyamakan diri dengan teman sebaya dalam hal berpakaian, bergaya, berperilaku, berkegiatan, dan sebagainya (Mardison). Sebagian remaja beranggapan bila mereka berpakaian atau menggunakan aksesoris yang sama dengan yang sedang diminati kelompok acuan, maka timbul rasa percaya diri dan kesempatan diterima kelompok lebih besar. Oleh karena itu, remaja cenderung menghindari penolakan dari teman sebaya dengan bersikap konform (Santrock, 2003: 222, dalam Mardison).

Kondisi remaja lebih banyak bergantung dengan aturan dan norma yang berlaku dalam kelompok. Hal ini disebabkan oleh motivasi remaja untuk menuruti ajakan dalam kelompoknya yang cukup tinggi (Mardison).

Peran Teman Sebaya dalam Membentuk Konformitas

Santrock (2007: 205, dalam Mardison) menjelaskan bahwa kelompok teman sebaya memiliki peran penting dalam perkembangan remaja — berbagai sumber informasi dan pengalaman-pengalaman yang penting didapatkan remaja di luar keluarganya. Pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku remaja lebih besar daripada pengaruh keluarga terhadap perkembangan dirinya (Mardison).

Konformitas bisa berdampak positif, seperti mendorong seseorang mengikuti kegiatan bermanfaat dan memperkuat solidaritas kelompok. Namun, konformitas juga dapat membawa pengaruh negatif bila mengarah pada perilaku menyimpang. Hasil dari proses konformitas bisa positif dan bisa juga negatif (Mardison).

Pentingnya Memahami Konformitas dalam Psikologi Individu

Memahami konformitas dalam psikologi sangat penting untuk mengenali bagaimana seseorang membentuk identitas dan perilakunya. Dengan begitu, individu dapat lebih sadar dalam mengambil keputusan.

Dampak Konformitas terhadap Perilaku Individu

Konformitas mampu memengaruhi cara berpikir dan bertindak seseorang. Dalam jangka panjang, konformitas bisa membentuk karakter dan nilai-nilai individu. Dalam proses perkembangannya, remaja yang melakukan konformitas mempunyai masalah dalam hal pergaulan dan penyesuaian diri (Mardison). Jika diarahkan dengan baik, konformitas dapat memperkuat hubungan sosial. Kemampuan melakukan pilihan yang sehat dalam pertemanan dan memiliki kemampuan yang baik dalam berinteraksi dalam pertemanan merupakan faktor pendukung yang baik dalam menciptakan konformitas positif siswa pada teman sebayanya (Mardison).

Konformitas Positif dan Bimbingan Konseling

Dengan adanya kegiatan bimbingan dan konseling, diharapkan bisa membantu pengembangan konformitas positif terutama untuk layanan bimbingan dan konseling kelompok (Mardison). Layanan bimbingan dan konseling kelompok yang mengaktifkan dinamika kelompok digunakan untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan pribadi dan pemecahan masalah individu (Mardison). Dengan menggunakan layanan bimbingan dan konseling kelompok, diharapkan dapat meningkatkan konformitas positif siswa pada teman sebaya (Mardison).

Kesimpulan

Konformitas dalam psikologi menjadi bagian penting dalam memahami perilaku sosial manusia — khususnya pada masa remaja. Berdasarkan kajian Mardison, konformitas mencakup tiga hal pokok: penyesuaian, perubahan, dan tekanan kelompok. Fenomena ini dipengaruhi oleh kebutuhan diterima, tekanan sosial, dan norma kelompok. Dengan memahami mekanisme konformitas — baik positif maupun negatif — individu dapat lebih bijak dalam menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri, dan bimbingan konseling dapat berperan optimal dalam mengarahkan konformitas ke jalur yang positif.