Memahami Multitasking: Pengertian dan Dampaknya terhadap Produktivitas
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan modern, multitasking sering dianggap sebagai keahlian yang wajib dimiliki. Banyak orang merasa mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus demi mengejar produktivitas yang lebih tinggi. Namun, apa sebenarnya multitasking itu, dan bagaimana dampaknya terhadap kinerja individu serta dinamika dalam tim?
Definisi Multitasking
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Anjar Pramesty dan Tasyah Dwi Ayu Lestari dengan judul Pengaruh Multitasking terhadap Produktivitas Individu dan Dinamika Tim dalam Pengembangan Perangkat Lunak, multitasking pada manusia adalah konsep bahwa seseorang dapat membagi perhatiannya pada lebih dari satu tugas atau aktivitas secara bersamaan, seperti berbicara di telepon sambil mengemudi mobil.
Pengertian Multitasking Menurut Penelitian
Multitasking bukanlah soal berpindah fokus "secara efisien". Justru sebaliknya, Pramesty dan Lestari menjelaskan bahwa multitasking dapat menyebabkan pemborosan waktu karena adanya perpindahan konteks, serta meningkatkan risiko kesalahan akibat kurangnya perhatian. Penelitian tersebut turut mencatat bahwa persepsi diri seseorang merasa baik dalam multitasking atau merasa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan saat multitasking sering kali tidak akurat. Temuan ini sejalan dengan riset American Psychological Association yang menunjukkan bahwa mengerjakan lebih dari satu tugas sekaligus, terutama tugas kompleks, menimbulkan "switching cost" tersembunyi yang menurunkan efisiensi dan meningkatkan risiko kesalahan (American Psychological Association, Multitasking: Switching Costs, 2006).
Contoh Multitasking dalam Kehidupan Sehari-hari
Di dunia nyata, multitasking sering terjadi tanpa disadari. Misalnya, seseorang bisa mengetik laporan sambil menjawab pesan singkat, atau mengikuti rapat daring sembari membaca email. Pramesty dan Lestari mencontohkan bahwa pekerja kantoran, orang tua, dan dokter akan kesulitan menjalankan pekerjaan mereka jika dipaksa hanya fokus pada satu tugas dalam waktu yang lama — namun turut memperingatkan bahwa dalam situasi tertentu, seperti mengemudi sambil berinteraksi dengan perangkat di dalam mobil, multitasking bisa menjadi berbahaya bahkan mematikan (Salvucci & Niels, The Multitasking Mind, Oxford University Press, 2011, dikutip dalam Pramesty & Lestari).
Dampak Multitasking terhadap Produktivitas Individu
Multitasking memiliki pengaruh yang beragam terhadap produktivitas. Meski terdengar efisien, kenyataannya proses kerja yang terbagi dapat menimbulkan konsekuensi tertentu.
Pengaruh Positif Multitasking
Multitasking memang dapat membantu menyelesaikan tugas ringan dan rutin secara efisien dan efektif, terutama dalam pekerjaan yang menuntut penanganan banyak hal sekaligus dalam waktu terbatas, seperti yang dialami pekerja kantoran, orang tua, dan dokter (Salvucci & Niels, 2011, dikutip dalam Pramesty & Lestari). Namun perlu dicatat bahwa manfaat ini bersifat terbatas pada tugas-tugas sederhana, bukan pada pekerjaan kompleks yang menuntut konsentrasi tinggi.
Dampak Negatif Multitasking pada Produktivitas
Di sisi lain, multitasking berisiko membuat fokus terbagi. Dalam studi kuesioner terhadap 26 profesional pengembang perangkat lunak, Pramesty dan Lestari menemukan bahwa mayoritas responden merasa produktivitas mereka menurun serta sulit menyelesaikan tugas dengan kualitas baik saat multitasking. Penelitian oleh Czerwinski, Horvitz, dan Wilhite (2004, dikutip dalam Pramesty & Lestari) juga menunjukkan bahwa pekerja yang terlibat dalam tugas multitasking berisiko lebih besar merasa kewalahan, meningkatkan kemungkinan melakukan kesalahan, dan memperlambat proses pemecahan masalah. Menariknya, responden dengan pengalaman kerja lebih dari tiga tahun cenderung lebih mampu mengelola beban multitasking dan lebih jarang melewatkan tenggat waktu dibandingkan responden dengan pengalaman kerja di bawah tiga tahun, mengindikasikan bahwa pengalaman kerja berperan penting dalam pengelolaan multitasking (Pramesty & Lestari).
Pengaruh Multitasking pada Dinamika Tim
Multitasking tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memengaruhi kerja sama tim. Ketika anggota tim melakukan multitasking secara berlebihan, efektivitas kolaborasi bisa terganggu.
Efek Multitasking terhadap Kolaborasi Tim
Berdasarkan temuan Pramesty dan Lestari, mayoritas responden dalam studi tersebut menyatakan bahwa multitasking mengganggu kolaborasi dengan anggota tim, membuat komunikasi tim menjadi lebih sulit, serta berpotensi menyebabkan konflik atau miskomunikasi di tim. Koordinasi antar anggota tim menjadi tidak optimal ketika setiap individu terfokus pada tugas berbeda tanpa sinkronisasi, sehingga sinergi tim secara keseluruhan menjadi lemah.
Hambatan yang Sering Muncul Akibat Multitasking
Beberapa hambatan yang kerap muncul antara lain keterlambatan menyelesaikan proyek, konflik prioritas, hingga menurunnya semangat kerja bersama, sebagaimana ditemukan dalam studi terhadap tim pengembangan perangkat lunak yang menerapkan metodologi Agile (Pramesty & Lestari). Meski demikian, penelitian tersebut juga mencatat adanya sisi positif: mayoritas responden merasa rekan kerja saling memahami dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi beban multitasking yang sama.
Kesimpulan
Multitasking memang tidak bisa dihindari dalam berbagai situasi kerja modern, khususnya dalam pengembangan perangkat lunak yang menggunakan metodologi Agile (Pramesty & Lestari). Namun, memahami definisi multitasking dan dampaknya sangat penting agar produktivitas individu dan tim tetap terjaga. Bukti dari studi kuesioner terhadap profesional pengembang perangkat lunak maupun riset internasional tentang biaya kognitif dari perpindahan tugas (American Psychological Association, 2006) sama-sama menunjukkan bahwa multitasking pada tugas kompleks cenderung menurunkan kualitas kerja, meningkatkan risiko kesalahan, dan mengganggu kolaborasi tim. Dengan strategi yang tepat — seperti membatasi multitasking terutama pada tugas-tugas kompleks yang membutuhkan fokus tinggi — perusahaan, manajer proyek, dan tim dapat merancang alur kerja yang lebih efektif tanpa mengorbankan kualitas hasil kerja.