Memahami Pendekatan Biologis dan Evolusioner dalam Psikologi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemahaman tentang manusia tidak hanya terbatas pada perilaku yang terlihat, tetapi juga mencakup proses biologis yang mendasarinya. Pendekatan biologis dan evolusioner dalam psikologi menawarkan sudut pandang berbeda untuk memahami perilaku serta proses mental manusia.
Apa Itu Pendekatan Biologis dalam Psikologi?
Pendekatan biologis dalam psikologi berfokus pada pengaruh faktor genetik, struktur otak, dan sistem saraf terhadap perilaku manusia. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami otak dan sistem tubuh lain sebagai dasar dari perilaku sehari-hari. Studi dalam bidang ini sering meneliti bagaimana perubahan fisik di otak berhubungan dengan perubahan emosi dan tindakan, termasuk peran neurotransmiter dan hormon.
Apa Itu Psikologi Evolusioner?
Psikologi evolusioner menyediakan kerangka ilmiah yang kuat untuk memahami sifat manusia — kerangka yang selaras dengan proses kausal yang diketahui dari semua bentuk kehidupan, khususnya seleksi alam dan seksual (David M. Buss, 2020 dalam tulisan Evolutionary Psychology Is a Scientific Revolution).
Psikologi evolusioner memberikan metatheory yang kohesif bagi ilmu psikologi. Asumsi historis dari metatheory sebelumnya terbukti cacat secara mendasar dan diketahui tidak benar secara empiris. Bukti empiris terus terakumulasi untuk kekuatan heuristik dan prediktif dari metatheory psikologi evolusioner, mendukung kasus untuk sebuah revolusi ilmiah dalam psikologi (Buss, 2020).
Prinsip Dasar Psikologi Evolusioner
Psikologi evolusioner mempertahankan bahwa "perilaku saat ini dan keadaan internal mencerminkan pengaruh dari disposisi psikologis yang membantu kelangsungan hidup dan reproduksi di masa lalu leluhur kuno" (Buss, 2020, mengutip Reader & Workman, 2024).
Psikologi evolusioner mencoba menjelaskan mengapa pola perilaku tertentu muncul dan bertahan hingga kini — misalnya, kecenderungan untuk bekerja sama atau melindungi keluarga dianggap sebagai hasil seleksi alam. Prinsip utama pendekatan ini adalah bahwa banyak aspek perilaku manusia diwariskan dan diadaptasi agar individu bisa bertahan serta berkembang biak.
Psikologi Evolusioner sebagai Revolusi Ilmiah
Kemunculan dan pertumbuhan psikologi evolusioner dalam ilmu perilaku telah dicirikan sebagai sebuah "revolusi ilmiah" — EP sering dikemukakan sebagai mewakili pergeseran paradigma fundamental yang merupakan "satu-satunya metatheory yang kohesif untuk memahami kompleksitas pikiran manusia" (Buss, 2020).
David M. Buss adalah salah satu pendiri psikologi evolusioner. Ia meraih gelar PhD dalam psikologi di University of California, Berkeley pada 1981, dan sebelum menjadi profesor di University of Texas, ia pernah menjadi asisten profesor di Harvard University selama empat tahun dan profesor di University of Michigan selama sebelas tahun.
Perbedaan dan Hubungan antara Pendekatan Biologis dan Evolusioner
Pendekatan biologis lebih fokus pada mekanisme tubuh yang memengaruhi perilaku saat ini — seperti aktivitas neurotransmiter, hormon, dan faktor genetik. Sementara itu, pendekatan evolusioner menelusuri bagaimana perilaku tertentu terbentuk dan diwariskan melalui proses adaptasi evolusi sepanjang sejarah manusia. Di era sekarang, kedua pendekatan ini saling melengkapi — studi psikologi banyak menggabungkan pemahaman tentang otak serta proses evolusi untuk menjelaskan asal-usul perilaku kompleks manusia.
Kesimpulan
Psikologi evolusioner menyediakan kerangka ilmiah yang kuat untuk memahami sifat manusia — yang selaras dengan proses kausal yang diketahui dari semua bentuk kehidupan, khususnya seleksi alam dan seksual (Buss, 2020). Pendekatan biologis dan evolusioner dalam psikologi memperkaya cara kita memahami hubungan antara otak, gen, dan perilaku. Dengan menggabungkan dua pendekatan ini, pemahaman tentang proses mental dan perilaku manusia dapat menjadi lebih menyeluruh dan mendalam.