Memahami Perdebatan Sifat-Situasi: Teori, Pencetus, dan Implikasinya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perdebatan sifat-situasi menjadi salah satu topik menarik dalam psikologi kepribadian. Konsep ini membahas sejauh mana perilaku seseorang dipengaruhi oleh karakter pribadi atau oleh situasi yang dihadapinya.
Apa Itu Perdebatan Sifat-Situasi?
Perdebatan ini secara luas berkisar pada pertanyaan apakah kepribadian atau situasi merupakan prediktor perilaku yang dominan. Salah satu jawabannya adalah bahwa kepribadian dan situasi saling berinteraksi satu sama lain — bahwa untuk menjelaskan dan memahami perilaku, kita tidak boleh mempelajari person dan situasi secara terpisah, melainkan harus memperhatikan efek gabungannya (John F. Rauthmann dalam The Wiley-Blackwell Encyclopedia of Personality and Individual Differences).
Perdebatan ini dikenal sebagai person-situation debate dan telah lama menjadi perbincangan sentral di psikologi kepribadian dan sosial. Rauthmann menyebut ini sebagai isu yang "kontentious" (contentious) dalam psikologi kepribadian dan sosial (Rauthmann).
Sejarah Munculnya Perdebatan
Apa yang kemudian dikenal sebagai perdebatan person-situation berkisar pada beberapa isu yang dianggap sebagai kelemahan konsep kepribadian dan sifat sebagai objek inkuiri ilmiah (Rauthmann, mengutip Fleeson & Noftle, 2009). Pertama, konsistensi perilaku dari saat ke saat dianggap terlalu rendah untuk menjamin konsep sifat yang stabil (Hartshorne & May, 1928) — dengan demikian, argumentasinya adalah bahwa situasilah yang menentukan perilaku. Kedua, sifat (traits) tidak tampak memprediksi perilaku dengan baik (Mischel, 1968) — sehingga konsep "kepribadian" dinyatakan kosong dan tidak berguna. Untuk membela konsep kepribadian dan sifat, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia dalam banyak hal sangat konsisten, dan bahwa sifat memang ada, bermakna, dan memiliki konsekuensi bagi kehidupan (Kenrick & Funder, 1988, dikutip dalam Rauthmann).
Teori Person-Situation Interactions
Kepribadian didefinisikan melalui kecenderungan umum afeksi, perilaku, kognisi, dan keinginan — juga disebut sebagai traits (sifat). Dengan demikian, sifat bersifat abstrak dan terlepas dari proses mental atau perilaku spesifik dalam situasi tertentu. Funder (2006) menyebutnya sebagai "personality triad" yang terdiri dari person, perilaku, dan situasi yang saling terjalin secara kompleks. Lewin merumuskannya sebagai B = f(P, E) — perilaku B adalah fungsi dari keadaan mental seseorang P dan lingkungannya E (Rauthmann).
Dua jalur utama penelitian dalam merespons perdebatan person-situation (Rauthmann):
Interactional Psychology — Magnusson dan Endler memperkenalkan psikologi interaksional (interactional psychology) dengan tenet utama bahwa perilaku adalah fungsi perkalian dari interaksi antara sifat dan situasi. Efek interaksi yang signifikan berarti bahwa efek sifat bergantung pada situasi, atau sebaliknya, efek situasi bergantung pada sifat — artinya, orang-orang tertentu merespons situasi tertentu secara berbeda dari yang lain.
Person-Situation Transactions — Pendekatan ini menekankan apa yang secara konseptual dimaksud jika seseorang dan situasi "berinteraksi". Bandura menangkapnya dalam konsep causal atau reciprocal determinism — person, situasi, dan perilaku saling mempengaruhi satu sama lain secara bidireksional. Mischel & Shoda (1995) mengembangkan ini lebih jauh dengan pola "IF Situation X, THEN Response Y."
Strategi manajemen situasi (situation management strategies) yang diidentifikasi Rauthmann & Sherman (2016) dalam sumber ini meliputi: maintenance (mempertahankan situasi apa adanya), construal (mempersepsi atau merestrukturisasi representasi mental situasi), evocation (memunculkan respons dari orang lain biasanya tanpa disengaja), selection (mencari atau menghindari situasi tertentu), modification (mengubah situasi yang ada), dan creation (proaktif menciptakan situasi baru) (Rauthmann).
Makna "Person-Situation Interaction"
Sebuah "person-situation interaction" dapat berarti hal yang sangat berbeda, yang paling umum adalah:
person dan situasi keduanya membentuk perilaku;
hubungan antara person dan situasi bersifat bidireksional — person membentuk situasi dan situasi membentuk person;
person dan situasi terjalin secara kompleks sehingga efeknya pada perilaku tidak dapat dipisahkan dengan tepat; dan
efek statistis dari variabel person bergantung pada variabel situasi dan sebaliknya dalam memprediksi suatu variabel hasil (Rauthmann).
Implikasi dalam Psikologi
Untuk memeriksa interaksi dan transaksi person-situation, sejumlah pertimbangan metodologis perlu diperhatikan. Pertama, melacak transaksi person-situation dalam laboratorium dan kehidupan sehari-hari memerlukan desain data longitudinal intensif, seperti experience sampling atau ambulatory assessment. Kedua, ukuran sampel yang besar diperlukan untuk mengestimasi efek interaksi secara andal karena efek tersebut dapat relatif kecil dalam kehidupan sehari-hari (Sherman dkk., 2015, dikutip dalam Rauthmann).
Biografi Singkat Rauthmann
John Rauthmann saat penulisan artikel ini bekerja sebagai asisten profesor di Wake Forest University. Sebelumnya ia bekerja di unit psikologi kepribadian di Humboldt-University of Berlin, Jerman, di mana ia juga meraih PhD-nya pada 2014. Minatnya mencakup struktur dan proses kepribadian; situasi psikologis; dan transaksi person-situation (Rauthmann).
Kesimpulan
Perdebatan sifat-situasi menjadi pondasi penting dalam memahami perilaku manusia. Jawaban atas perdebatan ini bukan "kepribadian" atau "situasi" sebagai pemenang, melainkan pemahaman tentang interaksi dan transaksi kompleks di antara keduanya — salah satu jawabannya adalah bahwa kepribadian dan situasi saling berinteraksi satu sama lain, dan untuk menjelaskan serta memahami perilaku, kita tidak boleh mempelajari person dan situasi secara terpisah tetapi harus memperhatikan efek gabungannya (Rauthmann).