Konten dari Pengguna

Memahami Perilaku Agresif: Ciri-Ciri dan Cara Memahaminya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perilaku Agresif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perilaku Agresif. Gambar: Pexels.

Perilaku agresif sering kali muncul dalam berbagai situasi kehidupan, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan sehari-hari. Memahami perilaku agresif menjadi langkah awal agar kita bisa bersikap lebih tepat saat berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Penting dicatat bahwa sumber yang digunakan membahas perilaku agresif sebagai fenomena yang kompleks dan multifaktor, bukan sebagai "tipe kepribadian" tertentu.

Apa Itu Perilaku Agresif?

Menurut Badrun Susantyo dalam artikelnya Memahami Perilaku Agresif: Sebuah Tinjauan Konseptual (2011), banyak kasus kekerasan yang terjadi merupakan manifestasi dari perilaku agresif, baik kekerasan secara verbal maupun nonverbal. Susantyo (2011) mengutip beberapa definisi para ahli: Schneiders (1955) mengartikan perilaku agresif sebagai luapan emosi atas reaksi terhadap kegagalan individu yang ditunjukkan dalam bentuk perusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku nonverbal. Sementara Sears (1985) beranggapan bahwa agresi merupakan setiap perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain, atau adanya perasaan ingin menyakiti orang lain yang ada dalam diri seseorang.

Perilaku Agresif sebagai Sesuatu yang Dipelajari

Susantyo (2011) mengutip Bandura (1973) yang beranggapan bahwa perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir. Perilaku agresif ini dipelajari dari lingkungan sosial seperti interaksi dengan keluarga, interaksi dengan rekan sebaya dan media massa melalui modelling. Pandangan ini penting untuk memahami bahwa agresivitas bukanlah sifat bawaan yang tidak dapat diubah.

Bentuk-Bentuk Perilaku Agresif

Susantyo (2011) menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat berwujud secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (tindakan). Mencaci maki, mengumpat merupakan contoh perilaku agresif verbal, sementara perampokan, tindak kekerasan fisik, dan segala jenis perilaku kriminal merupakan perwujudan nonverbal dari perilaku agresif.

Pendekatan dalam Memahami Perilaku Agresif

Susantyo (2011) menjelaskan bahwa kerumitan dalam memahami perilaku agresif menumbuhkan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan biologis, pendekatan psikologis, pendekatan situasional, dan model socio-ecological Bronfenbrenner.

Pendekatan Biologis

Susantyo (2011) menjelaskan bahwa dalam pandangan biologis, perilaku agresif dapat disebabkan oleh peningkatan hormon testosteron, abnormalitas anatomis, faktor instingtif (perspektif etologi), kompetisi terhadap sumber daya yang terbatas (perspektif sosio-biologi), serta sifat bawaan genetik yang diwariskan dari orang tua (perspektif genetika perilaku). Zastrow (2008), sebagaimana dikutip Susantyo, masih meyakini bahwa manusia memiliki naluri (instinct) bawaan yang sifatnya agresif — yang akan muncul manakala kebutuhan-kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.

Pendekatan Psikologis

Susantyo (2011), mengutip Krahe (2001), mencatat setidaknya tujuh perspektif agresif dalam ranah psikologis: perspektif psikoanalisis (Freud — dorongan bawah sadar thanatos), hipotesis frustrasi-agresi (Dollard dkk. — frustrasi memicu dorongan agresif), neo-asosianisme kognitif (Berkowitz — peristiwa tidak mengenakkan menstimulasi afek negatif), model pengalihan rangsangan (Zillmann), pendekatan sosial-kognitif (Huesmann — pemrosesan informasi sosial), teori pembelajaran sosial (Bandura — perilaku agresif dipelajari melalui pengamatan, pengukuh positif, dan modelling), serta model interaksi sosial (Tedeschi & Felson — perilaku agresif sebagai pengaruh sosial yang koersif).

Pendekatan Situasional

Susantyo (2011) menjelaskan bahwa pendekatan ini meyakini perilaku agresif bukanlah faktor bawaan, melainkan melibatkan faktor-faktor eksternal sebagai pencetus. Beberapa pengaruh situasi yang memicu perilaku agresif di antaranya adalah efek senjata, pengaruh alkohol, suhu udara, kepadatan (crowding), kebisingan, polusi udara, dan kompetisi.

Model Socio-Ecological Bronfenbrenner

Susantyo (2011) menjelaskan model socio-ecological dari Bronfenbrenner yang melihat perkembangan perilaku dan kepribadian individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia tinggal — mulai dari microsystem (keluarga, sekolah, rekan sebaya), mesosystem (interaksi antar elemen microsystem), exosystem (keluarga luas, organisasi, media massa), hingga macrosystem (ideologi, nilai, budaya). Susantyo mengutip Baumrind yang menjelaskan bahwa orang tua yang menggunakan cara permisif maupun otoriter dalam pola asuh cenderung lebih banyak menghasilkan anak-anak yang agresif.

Faktor Penyebab Munculnya Perilaku Agresif

Berdasarkan keempat pendekatan di atas, Susantyo (2011) merekonstruksi empat elemen utama penyebab dan pencetus perilaku agresif: faktor dalaman (biologis, genetik, psikologis), faktor luaran sosial (keluarga, rekan sebaya, media massa), stimulus situasi (senjata, alkohol, kompetisi), dan stressor lingkungan (kepadatan, kebisingan, suhu). Keempat elemen ini saling berkorelasi dan membentuk model integratif yang kompleks.

Upaya Pencegahan

Susantyo (2011), mengutip Koswara (1988), menyebutkan bahwa upaya pencegahan perilaku agresif meliputi pendekatan secara moral, pengembangan perilaku nonagresif, serta model pengembangan kemampuan dalam berempati. Salah satu teknik yang tengah dikembangkan adalah melalui latihan mengelola amarah. Pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan individu, keluarga, kelompok, organisasi, maupun komunitas.

Kesimpulan

Perilaku agresif merupakan fenomena kompleks yang dapat dipahami melalui berbagai pendekatan — biologis, psikologis, situasional, dan sosio-ekologis. Perilaku ini bukan semata-mata sifat bawaan tetapi juga sesuatu yang dipelajari dari lingkungan sosial. Mengenali faktor-faktor penyebab dan pencetusnya membantu kita lebih bijak dalam menghadapi maupun mencegah perilaku agresif, baik pada diri sendiri maupun orang lain.