Memahami Suppression Emosi: Definisi dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memilih menahan atau menekan emosi agar situasi tetap kondusif. Cara ini dikenal sebagai suppression emosi dan sering dilakukan tanpa sadar, baik di lingkungan kerja maupun dalam hubungan sosial. Mengetahui apa itu suppression emosi dan bagaimana dampaknya bisa membantu kita mengelola perasaan dengan lebih sehat.
Definisi Suppression Emosi
Suppression emosi merujuk pada upaya sadar untuk menahan, menghambat, atau menyembunyikan ekspresi emosi tertentu. Menurut Yuliezar Perwira Dara, Eleonara Vena Agusta, Ulifa Rahma, dan Faizah dalam Suppression sebagai Mediator Peranan Emotional Job Demand terhadap Teacher Well-Being (2021), suppression merupakan strategi yang muncul sebagai respons dari proses emosional generatif, yang digunakan seseorang untuk menekan emosi yang keluar (Gross, 1998, dikutip dalam Dara dkk., 2021). Strategi ini kerap dipilih sebagai respons terhadap tuntutan emosional di lingkungan kerja maupun sosial — khususnya ketika seseorang merasa emosinya berada di luar kendali (Grandey, 2000, dikutip dalam Dara dkk., 2021).
Pengertian Suppression Emosi Menurut Para Ahli
Beberapa pakar psikologi mendefinisikan suppression emosi sebagai tindakan mengontrol ekspresi perasaan tanpa menghilangkan emosi itu sendiri. Gross dan John (2003, dikutip dalam Dara dkk., 2021) mengidentifikasi dua jenis strategi regulasi emosi berdasarkan tahapan terjadinya, yaitu cognitive reappraisal dan expressive suppression. Reappraisal mengacu pada kemampuan individu untuk secara efisien mengendalikan pandangan mengenai situasi yang dapat menimbulkan emosi, sedangkan suppression mencerminkan ketidakmampuan individu untuk mengatasi lingkungan yang menuntut emosi, sehingga dikaitkan dengan upaya ekstra dan pengorbanan baik secara fisik maupun psikologis (Bakker & Demerouti, 2014, dikutip dalam Dara dkk., 2021). Dengan kata lain, seseorang tetap merasakan emosi, namun memilih untuk tidak menunjukkannya secara terbuka.
Ciri-ciri Suppression Emosi
Ciri yang umum ditemukan adalah kecenderungan menahan ekspresi wajah, suara, atau bahasa tubuh saat merasa marah, sedih, atau kecewa. Biasanya, individu akan berusaha terlihat tenang meski di dalamnya ada gejolak emosi.
Contoh Suppression Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari
Suppression emosi muncul dalam berbagai situasi, terutama ketika seseorang ingin menjaga suasana tetap baik atau menghindari konflik.
Suppression Emosi di Lingkungan Kerja
Karyawan seringkali menahan kemarahan atau rasa frustrasi saat menghadapi rekan kerja atau atasan. Dalam penelitian Dara dkk. (2021), guru menjadi contoh nyata profesi ini — saat menggunakan strategi suppression, guru berusaha sedemikian rupa untuk menekan dan menahan ekspresi emosinya ketika mengajar demi menjaga profesionalisme dan hubungan yang sehat antara guru dengan siswa.
Suppression Emosi dalam Hubungan Sosial dan Keluarga
Di lingkungan keluarga atau pertemanan, suppression emosi juga kerap terjadi. Misalnya, ketika seseorang memilih diam saat tersinggung agar tidak menambah masalah dalam hubungan.
Dampak Suppression Emosi terhadap Kesejahteraan
Menahan emosi secara terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan individu. Penelitian Dara dkk. (2021) terhadap 565 guru di Indonesia menunjukkan bahwa suppression emosi berperan penting dalam hubungan antara tuntutan emosi di pekerjaan dan kesejahteraan guru — secara statistik, suppression terbukti memediasi peran emotional job demand terhadap teacher well-being.
Pengaruh Suppression Emosi pada Kesehatan Mental
Hasil penelitian Dara dkk. (2021) menunjukkan temuan yang lebih kompleks dan mengejutkan dari yang tersirat dalam pernyataan sebelumnya. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu (Gross & John, 2003), strategi suppression umumnya berasosiasi dengan fungsi interpersonal yang buruk dan berkorelasi negatif dengan well-being — guru yang terbiasa menekan emosi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelelahan emosional dan kepuasan kerja yang lebih rendah (Yin dkk., 2016, dikutip dalam Dara dkk., 2021). Namun, secara mengejutkan, hasil analisis Dara dkk. (2021) justru menemukan peran positif suppression terhadap teacher well-being — artinya, semakin guru menekan ekspresi emosinya, semakin tinggi kesejahteraannya dalam penelitian tersebut. Para peneliti menjelaskan temuan yang berbeda dari teori ini melalui faktor budaya: mayoritas partisipan penelitian adalah guru dari Pulau Jawa (84,3%), di mana budaya Jawa cenderung menghargai sikap menahan diri dan menganggap keterusterangan, terutama perasaan negatif, sebagai sikap yang "tidak Jawa" dan kurang beradab (Mulder, 1985, dikutip dalam Dara dkk., 2021). Dalam budaya kolektif seperti ini, suppression tidak dirasakan sebagai beban yang merugikan kondisi emosional, melainkan sebagai cara menjaga keharmonisan sosial (Butler, Lee, & Gross, 2009; Markus & Kitayama, 2010, dikutip dalam Dara dkk., 2021).
Peran Suppression sebagai Mediator Emotional Job Demand
Dalam konteks pekerjaan, suppression emosi diketahui menjadi jembatan antara tekanan emosional dan kesejahteraan pegawai. Guru, misalnya, sering menahan perasaan agar tetap profesional di depan murid dan rekan kerja. Meskipun suppression signifikan memediasi hubungan tersebut, perannya dalam penelitian Dara dkk. (2021) tidak lebih besar dibandingkan peran langsung emotional job demand terhadap teacher well-being tanpa mediator.
Cara Mengelola Suppression Emosi Secara Sehat
Agar suppression emosi tidak berdampak negatif, penting untuk menerapkan strategi pengelolaan yang sehat dan adaptif.
Strategi Adaptif dalam Mengelola Emosi
Penelitian Dara dkk. (2021) merupakan studi korelasional yang berfokus pada pengujian hubungan antarvariabel, bukan panduan strategi intervensi. Berdasarkan riset internasional tentang regulasi emosi, cognitive reappraisal — yaitu mengubah cara berpikir tentang situasi yang memicu emosi sebelum emosi tersebut sepenuhnya teraktivasi — secara konsisten dikaitkan dengan pola afek, fungsi sosial, dan kesejahteraan yang lebih sehat dibandingkan expressive suppression (Cutuli, "Cognitive Reappraisal and Expressive Suppression Strategies Role in the Emotion Regulation", Frontiers in Systems Neuroscience, 2014). Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan mengenali dan menerima perasaan, mempraktikkan reappraisal dengan menafsirkan ulang situasi yang memicu emosi, serta mencari waktu khusus untuk mengekspresikan emosi secara aman. Aktivitas relaksasi dan berbicara dengan orang tepercaya juga dapat membantu.
Rekomendasi Praktis untuk Guru dan Masyarakat Umum
Bagi guru dan masyarakat umum, penting untuk berlatih komunikasi asertif dan mencari dukungan emosional saat dibutuhkan. Dara dkk. (2021) juga menyarankan agar pihak pimpinan sekolah memperhatikan beban kerja emosional guru, karena hal ini dapat memengaruhi kesejahteraan guru dan pada akhirnya kinerja serta kemajuan pendidikan secara keseluruhan. Selain itu, menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan waktu istirahat bisa membantu mengurangi tekanan akibat suppression emosi.
Kesimpulan
Suppression emosi merupakan strategi menahan ekspresi perasaan yang banyak dipilih dalam berbagai situasi. Dampaknya terhadap kesejahteraan ternyata tidak selalu negatif secara universal — sebagaimana ditemukan Dara dkk. (2021), konteks budaya turut menentukan apakah suppression dirasakan sebagai beban atau justru sebagai cara menjaga keharmonisan sosial. Meski demikian, literatur internasional secara umum tetap menunjukkan bahwa cognitive reappraisal memiliki profil kesehatan jangka panjang yang lebih baik dibandingkan suppression murni. Oleh karena itu, penting untuk mengenali batasnya dan menerapkan strategi pengelolaan emosi yang adaptif, sesuai dengan konteks budaya dan situasi masing-masing individu.