Mengenal Emosi Cemas: Teori dan Cara Mengontrolnya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Emosi cemas kerap muncul dalam berbagai situasi kehidupan, baik saat menghadapi tantangan baru maupun ketika dihadapkan pada ketidakpastian. Terkadang, rasa cemas bisa terasa mengganggu dan mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, memahami teori emosi cemas dan strategi mengontrolnya menjadi langkah penting agar tetap seimbang dalam menjalani hari.
Pengertian Emosi Cemas
Emosi cemas merupakan respons alami tubuh saat menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menimbulkan ketidakpastian. Menurut Maria Miceli dan Cristiano Castelfranchi dalam Anxiety as an 'Epistemic' Emotion: An Uncertainty Theory of Anxiety (Anxiety, Stress, and Coping, 2005), kecemasan (anxiety) adalah keadaan mental yang ditandai oleh keyakinan bahwa suatu peristiwa di masa depan mengandung bahaya yang mungkin terjadi namun tidak pasti, disertai tujuan untuk menghindari bahaya tersebut dan tujuan untuk mengetahui apakah bahaya itu akan benar-benar terjadi. Cemas dapat memicu kewaspadaan, namun bisa juga mengganggu jika tidak dikelola dengan baik.
Teori Emosi Cemas: Perspektif Ketidakpastian
Penting untuk memahami bagaimana emosi cemas terbentuk dari sudut pandang psikologi dan teori ketidakpastian.
Apa itu Emosi Cemas Menurut Ilmu Psikologi?
Dalam ilmu psikologi, emosi cemas digambarkan sebagai reaksi emosional yang muncul ketika seseorang menghadapi ancaman atau merasa tidak yakin terhadap suatu peristiwa di masa depan. Miceli dan Castelfranchi membedakan cemas dari rasa takut (fear): objek dari rasa takut adalah suatu bahaya (yang mungkin atau pasti terjadi), sementara objek dari kecemasan bukanlah bahaya itu sendiri, melainkan suatu peristiwa yang mengandung kemungkinan bahaya yang tidak pasti. Keadaan cemas ini mengandung campuran antara harapan dan rasa takut terhadap hasil di masa depan, yang menjelaskan mengapa cemas sering ditandai dengan perasaan gelisah dan penantian yang resah.
Emosi Cemas sebagai "Epistemic Emotion"
Miceli dan Castelfranchi menyebut emosi cemas berkaitan erat dengan kebutuhan akan kontrol epistemik (epistemic control) — yaitu kebutuhan untuk mengetahui dengan tingkat kepastian setinggi mungkin apa yang akan terjadi — yang dibedakan dari kontrol pragmatis (pragmatic control), yaitu kekuatan untuk membentuk kejadian sesuai tujuan seseorang. Menurut mereka, komponen inti dari kecemasan adalah tujuan epistemik untuk mengetahui apakah bahaya tersebut akan benar-benar terjadi, sehingga begitu tujuan ini terpenuhi — bahkan jika jawabannya negatif — kecemasan akan cenderung mereda dan tergantikan oleh perasaan negatif lain seperti rasa takut murni atau kekecewaan.
Hubungan Antara Ketidakpastian dan Kecemasan
Rasa cemas sering kali muncul karena adanya ketidakpastian dalam hidup. Miceli dan Castelfranchi menegaskan bahwa jumlah kecemasan yang dialami seseorang bergantung pada tingkat ketidakpastian ancaman yang dirasakan — tingkat ketidakpastian tertinggi tercapai pada probabilitas 50%, di mana seseorang benar-benar tidak dapat memprediksi apakah suatu hal buruk akan terjadi atau tidak, sementara ancaman yang sangat mungkin (atau sangat tidak mungkin) terjadi memiliki tingkat ketidakpastian yang rendah. Selain tingkat ketidakpastian, jumlah kecemasan yang dialami juga dipengaruhi oleh seberapa penting tujuan yang terancam bagi individu tersebut.
Cara Mengontrol Emosi Cemas
Mengelola emosi cemas memerlukan strategi praktis dan pemahaman tentang sumber kecemasan itu sendiri.
Strategi Praktis Mengelola Emosi Cemas
Miceli dan Castelfranchi menyoroti pendekatan seperti perencanaan analitis hipotetis (hypothetical analytical planning) — yaitu memeriksa situasi secara cermat dengan menyusun berbagai kemungkinan skenario dan langkah antisipasi yang bisa diambil — sebagai salah satu cara mengatasi kecemasan, meskipun cara ini bisa menjadi tidak berujung jika seseorang terus-menerus mencoba meramalkan segala kemungkinan. Dalam implikasi klinisnya, mereka merekomendasikan pendekatan terapi kognitif yang menantang kecenderungan seseorang untuk melebih-lebihkan kemungkinan hasil negatif dan meremehkan kemampuan diri dalam menghadapi masalah, sekaligus membantu individu memahami bahwa penghilangan ketidakpastian sepenuhnya adalah hal yang mustahil dicapai, sehingga upaya untuk mencapainya justru dapat memperpanjang kecemasan itu sendiri.
Untuk strategi praktis sehari-hari, National Institute of Mental Health (NIMH) merekomendasikan beberapa langkah yang dapat dilakukan ketika merasa kewalahan oleh kecemasan, seperti menuliskan perasaan dalam jurnal, melakukan latihan relaksasi seperti pernapasan dalam atau visualisasi, mempraktikkan mindfulness, berolahraga secara teratur, menjaga pola makan sehat, serta menjaga rutinitas tidur yang cukup (NIMH, "I'm So Stressed Out! Fact Sheet"). Berbicara dengan orang yang dipercaya juga tetap menjadi salah satu cara yang bermanfaat untuk meringankan beban kecemasan.
Tips Menghadapi Ketidakpastian
Dalam menghadapi situasi tidak pasti, penting untuk menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Sebagaimana ditekankan Miceli dan Castelfranchi, individu yang rentan mengalami kecemasan cenderung tidak membedakan antara kemungkinan negatif semata dan probabilitas negatif yang signifikan — mereka tetap merasa terganggu oleh kemungkinan buruk, betapapun kecilnya kemungkinan itu. Menyadari bahwa penghilangan ketidakpastian sepenuhnya adalah hal yang mustahil, dan bahwa hanya aktivitas prediktif yang terbatas dan wajar yang mungkin serta bermanfaat, dapat membantu seseorang keluar dari jebakan kognitif ini. Fokus pada hal-hal yang bisa diatur, serta membiasakan diri dengan perubahan, dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan. Menyusun rencana sederhana juga bermanfaat agar tetap merasa lebih siap, asalkan tidak berujung pada upaya tanpa henti untuk meramalkan segala kemungkinan.
Kesimpulan
Emosi cemas merupakan bagian dari respons alami terhadap ketidakpastian dalam hidup. Dengan memahami teori kecemasan sebagai epistemic emotion dari Miceli dan Castelfranchi serta kaitannya dengan kebutuhan akan kontrol epistemik dan ketidakpastian, kita bisa mengenali penyebab serta tanda-tanda munculnya kecemasan. Menerapkan strategi yang tepat — baik melalui pemahaman kognitif tentang batas kemampuan meramalkan masa depan maupun teknik praktis berbasis bukti seperti relaksasi, mindfulness, dan olahraga (NIMH) — membantu menjaga emosi cemas tetap terkendali sehingga kehidupan sehari-hari dapat dijalani dengan lebih tenang.