Konten dari Pengguna

Mengenal Hans Eysenck: Profil dan Teori Kepribadian yang Berpengaruh

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Teori Hans Eysenck. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Teori Hans Eysenck. Gambar: Pexels.

Hans Eysenck dikenal luas sebagai psikolog yang berperan besar dalam pengembangan teori kepribadian modern. Teorinya menjadi pijakan penting dalam memahami bagaimana sifat dasar manusia terbentuk dan memengaruhi perilaku sehari-hari. Artikel ini mengulas profil Hans Eysenck, gagasan utama yang ia kembangkan, hingga pengaruhnya di dunia psikologi berdasarkan kajian dari Gerald Matthews dan Kirby Gilliland.

Profil Singkat Hans Eysenck

Hans Eysenck merupakan salah satu tokoh utama psikologi abad ke-20. Menurut Matthews dan Gilliland dalam artikel The Personality Theories of H. J. Eysenck and J. A. Gray: A Comparative Review (1999), Eysenck dan Gray termasuk di antara para pelopor utama hipotesis bahwa sifat-sifat kepribadian memberikan jendela pandang terhadap perbedaan individual dalam fungsi otak.

Latar Belakang dan Pendidikan

Hans Jürgen Eysenck lahir pada 4 Maret 1916 di Berlin, Jerman. Dengan meningkatnya kekuasaan Nazi, ia meninggalkan Jerman pada 1934 dan pindah ke Inggris. Ia kemudian mendaftar di University College London, di mana ia meraih gelar sarjana dan doktor psikologi pada tahun 1940, di bawah bimbingan Cyril Burt. Eysenck meninggal di London pada 4 September 1997. Sepanjang kariernya, ia adalah salah satu psikolog paling produktif dengan lebih dari 1.600 artikel ilmiah dan sekitar 80 buku.

Karier dan Kontribusi Ilmiah

Dalam perjalanan kariernya, Eysenck menjabat sebagai Professor of Psychology di Institute of Psychiatry, King’s College London sejak 1955 hingga pensiun pada 1983. Ia menulis secara luas tentang kepribadian, inteligensi, dan psikopatologi, serta mendirikan jurnal Personality and Individual Differences. Kontribusinya mencakup pengembangan model kepribadian dimensional berbasis riset faktor-analitik yang berupaya mengaitkan dimensi-dimensi kepribadian dengan variasi biogenetik.

Teori Kepribadian Hans Eysenck

Teori Hans Eysenck menjadi salah satu pendekatan paling berpengaruh dalam psikologi kepribadian. Matthews dan Gilliland (1999) menegaskan bahwa baik Eysenck maupun Gray memulai dari asumsi bahwa proses otak dapat dikarakterisasi melalui “conceptual nervous system” yang menyederhanakan sirkuit-sirkuit kunci yang relevan dengan kepribadian dan perilaku.

Dimensi Kepribadian Utama

Eysenck memperkenalkan tiga dimensi utama kepribadian: ekstroversi (extraversion), neurotisisme (neuroticism), dan psikotisisme (psychoticism). Matthews dan Gilliland (1999) menjelaskan bahwa Eysenck menggunakan multiple arousal systems sebagai konstruk penjelas sentral dalam teorinya. Ekstroversi–introversi (E) berkaitan dengan arousability dari reticulo–cortical circuit, sehingga introvert secara tipikal lebih terarousal dibanding ekstravert. Neuroticism–stability (N) dikaitkan dengan arousability dari limbic circuit. Adapun neuropsikologi dari dimensi ketiga, Psychoticism (P), belum sepenuhnya dijabarkan secara rinci.

Perbandingan dengan Teori Gray

Sementara Eysenck menekankan multiple arousal systems sebagai konstruk penjelas sentral, J. A. Gray mengusulkan dimensi baru yang dirotasi dari dimensi Eysenck, yaitu anxiety (Anx) dan impulsivity (Imp), serta menggambarkan sistem yang lebih spesifik terkait behavioural inhibition dan activation. Matthews dan Gilliland (1999) menjelaskan perbedaan utama kedua teori: “Eysenck uses multiple arousal systems as the central explanatory constructs, whereas Gray describes more specific systems related to behavioural inhibition and activation.” Gray’s theory began as a modification to the Eysenck theory, but is now usually seen as an alternative theory. Kedua teori sepakat bahwa dimensi ketiga kepribadian yang sejajar dengan psychoticism diperlukan.

Pengaruh dan Kritik terhadap Teori Eysenck

Pemikiran Eysenck memberikan warna baru dalam memahami kepribadian berbasis biologis. Namun, Matthews dan Gilliland (1999) juga mengidentifikasi sejumlah keterbatasan yang perlu dicermati.

Pengaruh dalam Psikologi Modern

Teori Eysenck memberi pengaruh besar pada pengembangan tes kepribadian dan model penelitian psikologi. Matthews dan Gilliland (1999) menyimpulkan bahwa terdapat inti prediksi empiris yang kuat untuk teori Eysenck dalam beberapa paradigma, seperti efek moderator dari level stimulasi pada perbedaan individual dalam phasic electrodermal response dan eyelid conditioning. Banyak psikolog mengadaptasi pendekatannya untuk memahami variasi perilaku manusia secara ilmiah.

Kritik dan Keterbatasan Teori

Beberapa keterbatasan serius teridentifikasi. Matthews dan Gilliland (1999) mencatat bahwa dalam setting lain, teori Eysenck gagal menjelaskan data empiris secara memadai, terutama dalam studi-studi subjective response serta attention and performance. Lebih jauh, mereka menyimpulkan bahwa asumsi-asumsi pendekatan biologis terhadap kepribadian perlu dikaji ulang, dan bahwa pendekatan kognitif atau sosial terhadap kepribadian mungkin perlu mendapat penekanan lebih besar. Selain itu, terdapat kesulitan dalam mengkalibrasi level stimulasi yang diperlukan untuk menginduksi transmarginal inhibition (TMI) antar-studi, yang menghambat prediksi ante hoc dari teori tersebut.

Kesimpulan

Hans Eysenck dikenal luas melalui teori kepribadian yang menyoroti faktor biologis sebagai penentu utama sifat manusia, dengan tiga dimensi ekstroversi, neurotisisme, dan psikotisisme sebagai kerangka utamanya. Meski pendekatannya menuai kritik terkait keterbatasan prediktif dalam domain performance dan subjective response, pengaruh teori Eysenck tetap terasa dalam pengembangan psikologi kepribadian modern. Perbandingannya dengan teori Gray memperlihatkan bagaimana dua tradisi biologis dapat memberikan kontribusi saling melengkapi sekaligus bersaing dalam menjelaskan dasar-dasar kepribadian manusia.