Mengenal Harold Kelley: Teori dan Karier Sang Tokoh Psikologi Sosial
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harold Kelley dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan psikologi sosial. Pemikiran dan teorinya kerap menjadi rujukan dalam memahami perilaku manusia, khususnya terkait cara individu menilai dan menafsirkan tindakan orang lain.
Profil Singkat Harold Kelley
Berdasarkan buku Attribution: Perceiving the Causes of Behavior, Harold Kelley (1921–2003) adalah psikolog sosial Amerika yang menempuh pendidikan di University of California, Berkeley, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebelum menjabat sebagai profesor di University of Michigan dan kemudian University of California, Los Angeles (UCLA). Berdasarkan jurnal Teori Tentang Persepsi dan Teori Atribusi Kelley, teori atribusi, yang terutama dipelajari melalui kerangka kerja yang dikembangkan oleh Harold Kelley, membantu kita memahami penyebab di balik perilaku kita sendiri dan orang lain (Hasanah dkk., 2024).
Teori Atribusi Kelley
Teori atribusi Kelley berfokus pada cara individu menjelaskan perilaku, baik perilaku mereka sendiri maupun orang lain, melalui atribusi kausal terhadap faktor internal (seperti kepribadian) atau eksternal (seperti situasi) (Hasanah dkk., 2024). Model kovarians Kelley merupakan salah satu pendekatan dalam teori atribusi yang menekankan pentingnya pertimbangan terhadap informasi kovarians — yakni hubungan antara dua variabel — dalam membuat atribusi terhadap perilaku seseorang (Hasanah dkk., 2024). Model ini adalah sebuah teori atribusi di mana orang membuat kesimpulan sebab akibat untuk menjelaskan mengapa orang lain dan diri kita sendiri berperilaku dengan cara tertentu — hal ini berkaitan erat dengan persepsi sosial dan persepsi diri (Hasanah dkk., 2024).
Model Kovarasi (Covariation Model)
Prinsip kovariasi menyatakan bahwa sebuah efek dikaitkan dengan salah satu penyebab yang paling mungkin dan menonjol — ini berarti perilaku tertentu dikaitkan dengan potensi penyebab yang muncul pada waktu yang sama (Hasanah dkk., 2024). Penyebab hasil dapat dikaitkan dengan orang (internal), stimulus (eksternal), keadaan, atau kombinasi dari faktor-faktor ini (Hasanah dkk., 2024).
Atribusi dibuat berdasarkan tiga kriteria, yaitu konsensus, keistimewaan (distinctiveness), dan konsistensi (Hasanah dkk., 2024):
Konsensus — menggambarkan bagaimana orang lain, dalam keadaan yang sama, akan berperilaku.
Konsistensi — merujuk pada apakah orang yang diamati akan berperilaku dengan cara yang sama, dalam situasi yang sama, setiap waktu.
Keistimewaan — merujuk pada berbagai variasi dalam mengamati perilaku orang lain dalam situasi yang berbeda.
Implikasi Teori Kelley dalam Kehidupan Sehari-hari
Teori atribusi Kelley juga menekankan pentingnya konteks dan informasi yang tersedia dalam proses atribusi, serta bagaimana norma sosial dan ekspektasi sosial memengaruhi cara kita menjelaskan perilaku (Hasanah dkk., 2024). Dengan memahami konsep ini, kita dapat lebih berhati-hati dalam membuat atribusi terhadap perilaku orang lain atau diri sendiri, dengan mempertimbangkan baik faktor disposisi maupun situasional secara seimbang (Hasanah dkk., 2024).
Kesalahan dalam Atribusi
Kelley membantu kita memahami pula beragam jenis kesalahan atribusi. Kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental attribution error) terjadi ketika kita cenderung menyalahkan perilaku seseorang berdasarkan disposisi atau faktor internal dan mengabaikan faktor situasional yang mungkin mempengaruhi perilaku tersebut (Hasanah dkk., 2024). Selain itu, dikenal pula atribusi defensif — di mana seseorang cenderung menolak tanggung jawab atas kegagalannya dengan cara menyalahkan faktor eksternal demi melindungi citra diri (Hasanah dkk., 2024).
Kritik dan Pengembangan Teori Kelley
Teori atribusi Kelley juga dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli setelahnya, yang menyoroti bahwa proses yang terlibat dalam menarik kesimpulan tentang perilaku orang lain lebih kompleks daripada yang disarankan dalam model kovarasi (Hasanah dkk., 2024). Meski begitu, kerangka kerja Kelley tetap relevan dan banyak diaplikasikan hingga kini.
Kontribusi dalam Psikologi Modern
Secara keseluruhan, teori persepsi dan teori atribusi Kelley memainkan peran penting dalam memahami psikologi individu serta dinamika interaksi sosial. Pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep ini dapat membantu kita memperkaya wawasan tentang kompleksitas manusia dan dinamika hubungan antarpersonal (Hasanah dkk., 2024).
Kesimpulan
Harold Kelley merupakan tokoh sentral dalam psikologi sosial yang dikenal lewat model kovarians atribusinya. Dengan menggabungkan tiga kriteria — konsensus, konsistensi, dan keistimewaan — Kelley memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk memahami bagaimana individu menjelaskan perilaku orang lain maupun diri sendiri. Pemikiran Kelley yang dipublikasikan dalam karya-karya primernya, termasuk Attribution: Perceiving the Causes of Behavior (1972), terus menjadi acuan penting dalam psikologi sosial hingga kini.