Konten dari Pengguna

Mengenal Kecemasan Sosial: Pengertian dan Penyebabnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kecemasan Sosial. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kecemasan Sosial. Gambar: Pexels.

Kecemasan sosial kerap muncul tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dan membangun relasi dengan lingkungan sekitar. Memahami kecemasan sosial menjadi penting agar setiap individu mampu mengenali gejalanya dan mencari solusi yang tepat.

Apa Itu Kecemasan Sosial?

Kecemasan sosial merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan cemas berlebihan saat harus berinteraksi atau tampil di hadapan orang lain. Menurut skripsi Rahmadina Hanny Priyanka, Profil Kecemasan Sosial pada Remaja Akhir dan Implikasinya bagi Bimbingan dan Konseling (2022), kecemasan sosial (social anxiety) diartikan sebagai tendensi menjadi gelisah dalam situasi sosial yang disebabkan karena ketakutan mendapat malu, atau dinilai negatif oleh orang lain (Antony & Swinson, 2008, dikutip dalam Priyanka, 2022). Menurut American Psychiatric Association (APA), kecemasan sosial adalah ketakutan yang menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial yang terkait dengan performa, yang membuat individu harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya atau menghadapi kemungkinan diamati oleh orang lain, dengan rasa takut bahwa dirinya akan dipermalukan atau dihina (Prawoto, 2010, dikutip dalam Priyanka, 2022).

Definisi Kecemasan Sosial

Seseorang dikatakan mengalami kecemasan sosial ketika merasa sangat khawatir, gugup, atau takut dinilai negatif saat berada di situasi sosial. Perlu ditambahkan bahwa dalam kerangka teori psikoanalisis Freud (dikutip dalam Priyanka, 2022), kecemasan sosial termasuk dalam kategori "kecemasan realitas atau objektif" (reality or objective anxiety) — yaitu kecemasan terhadap ancaman dari dunia luar atau bahaya nyata dalam lingkungan, yang menuntun individu untuk berperilaku menghadapi bahaya tersebut. Situasi sosial yang memicu kecemasan sosial mencakup dua jenis: situasi performa (ketika individu menjadi pusat perhatian, penilaian, dan pengamatan orang lain) dan situasi interaksi sosial (ketika individu harus berinteraksi dengan orang lain yang dikenal maupun belum dikenal) (Suryaningrum, 2016, dikutip dalam Priyanka, 2022). Kondisi ini sering membuat individu menghindari aktivitas yang melibatkan banyak orang.

Ciri-ciri Kecemasan Sosial

Priyanka (2022) menjelaskan tiga aspek kecemasan sosial menurut La Greca dan Lopez (1998), yaitu:

Ketakutan akan Evaluasi Negatif (Fear of Negative Evaluation)

Aspek kognitif ini mencakup rasa khawatir untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan membuat diri individu merasa terhina (Nevid, 2003, dikutip dalam Priyanka, 2022). Individu dengan tingkat fear of negative evaluation tinggi akan memiliki rasa khawatir atas penilaian dirinya dari orang lain (Heimberg dkk., 2005, dikutip dalam Priyanka, 2022), termasuk kekhawatiran karena terlalu memikirkan penilaian orang lain, serta ketidakmampuan mengerahkan kemampuan diri secara optimal.

Penghindaran Sosial dan Rasa Tertekan dalam Situasi Baru (Social Avoidance and Distress New)

Aspek perilaku ini ditandai dengan rasa malu dan gugup ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal maupun yang sudah dikenal, serta menghindari kontak mata dan situasi sosial karena merasa khawatir saat mengerjakan suatu hal di depan orang lain (Beidel, 2015; La Greca, dikutip dalam Priyanka, 2022).

Penghindaran Sosial dan Rasa Tertekan secara Umum (Social Avoidance and Distress General)

Aspek ini mencakup perasaan tidak nyaman ketika mengajak orang lain karena takut respons penolakan, kesulitan bertanya kepada orang lain, serta rasa malu ketika mengerjakan pekerjaan kelompok (La Greca, dikutip dalam Priyanka, 2022).

Contoh Perilaku Kecemasan Sosial

Seseorang bisa jadi menolak undangan berkumpul, menghindari presentasi, atau memilih diam dalam diskusi kelompok. Di lingkungan sekolah, misalnya, remaja yang mengalami kecemasan sosial cenderung menarik diri dari teman-teman — sejalan dengan pola orientasi sosial withdrawal (kecenderungan senang hidup menyendiri dan menarik diri) yang dijelaskan Bronson (dikutip dalam Priyanka, 2022, mengutip Izzaty, 2008).

Penyebab Kecemasan Sosial

Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab kecemasan sosial.

Faktor Internal

Menurut Durant (2006, dikutip dalam Priyanka, 2022, mengutip Prawoto, 2010), terdapat tiga faktor penyebab kecemasan sosial: (1) eksistensi kerentanan psikologis menyeluruh, di mana dalam kondisi stres, kecemasan dan perhatian yang difokuskan pada diri sendiri dapat meningkat hingga mengganggu kinerja, bahkan disertai serangan panik; (2) pengalaman serangan panik pada suatu situasi sosial yang kemudian dikaitkan dengan stimulus-stimulus sosial, sehingga individu menjadi sangat khawatir mengalami serangan panik serupa di situasi sosial yang sama; dan (3) trauma sosial riil yang menimbulkan serangan panik aktual, yang kemudian berkembang menjadi kecemasan pada situasi-situasi sosial serupa, bahkan dapat meluas kembali ke pengalaman sulit di masa lalu.

Faktor Eksternal

Berdasarkan Priyanka (2022), kecemasan sosial seringkali terjadi karena pengalaman traumatik terhadap peristiwa atau pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, serta penilaian diri terhadap peristiwa yang telah dialami — sebagaimana dijelaskan dalam faktor-faktor Durant (2006) di atas, yang lebih menekankan pada trauma sosial dan pengalaman serangan panik ketimbang pola asuh keluarga secara spesifik.

Dampak Terhadap Kehidupan Sosial Remaja

Kecemasan sosial pada remaja dapat memengaruhi hubungan pertemanan dan keaktifan mereka dalam berbagai kegiatan. Wittchen dan Fehm (dikutip dalam Muarifah & Budiani, 2012, dikutip dalam Priyanka, 2022) berpendapat bahwa dampak negatif akibat kecemasan sosial dapat berupa penurunan fungsi peran sosial, perkembangan karier, bahkan penurunan kualitas kesejahteraan subjektif dan kualitas hidup. Hal ini sejalan dengan pendapat Castella dkk. (2014, dikutip dalam Priyanka, 2022) bahwa individu dengan kecemasan sosial sering menunjukkan kesalahan di tempat kerja, sekolah, persahabatan, dan hubungan intim. Akibatnya, potensi berkembang menjadi terhambat dan rasa percaya diri pun menurun.

Pentingnya Bimbingan dan Konseling

Priyanka (2022) menekankan pentingnya bimbingan dan konseling untuk menangani kecemasan sosial pada remaja, khususnya melalui layanan dasar (untuk peserta didik dengan kecenderungan kecemasan sosial rendah) dan layanan responsif (untuk peserta didik dengan kecenderungan kecemasan sosial tinggi hingga sedang), sebagaimana dijelaskan Nurihsan (2005, dikutip dalam Priyanka, 2022). Salah satu pendekatan konseling yang dibahas dalam skripsi ini adalah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dari Albert Ellis (1998, dikutip dalam Priyanka, 2022), yang bertujuan meminimalkan keyakinan irasional yang mendominasi individu dan membantu peserta didik memperoleh filsafat hidup yang lebih realistis, sehingga mampu mengatasi perasaan cemas, takut, dan perasaan negatif lainnya yang diakibatkan oleh keyakinan irasional. Dengan pendampingan yang tepat, remaja dapat belajar mengelola rasa cemas dan membangun kepercayaan diri.

Kesimpulan

Kecemasan sosial adalah kondisi yang bisa menghambat interaksi dan perkembangan diri, terutama pada remaja. Berdasarkan skripsi Priyanka (2022), kecemasan sosial melibatkan tiga aspek utama — ketakutan akan evaluasi negatif, penghindaran sosial dalam situasi baru, dan penghindaran sosial secara umum — serta dipengaruhi oleh faktor kerentanan psikologis dan pengalaman traumatik sosial. Mengenali ciri-ciri dan penyebab kecemasan sosial membantu individu mencari strategi untuk mengatasinya. Dengan dukungan lingkungan dan bimbingan konseling yang efektif, termasuk melalui pendekatan seperti REBT, kecemasan sosial dapat dikelola agar tidak mengganggu kualitas hidup.