Mengenal Martin Seligman: Profil dan Teori Kebahagiaan
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Martin Seligman dikenal luas sebagai pelopor psikologi positif yang banyak membahas tentang kebahagiaan dan kualitas hidup. Lewat pemikirannya, ia menawarkan cara pandang baru mengenai makna bahagia — bukan hanya sekadar perasaan senang, melainkan juga keterlibatan dan pencapaian hidup.
Profil Martin Seligman
Nama Martin Seligman kerap disebut ketika berbicara tentang psikologi positif.
Latar Belakang dan Pendidikan
Seligman sebagai penggagas psikologi positif dengan fokus pada term positif dalam setiap aktivitas kehidupan untuk mencapai kebahagiaan (Jarman Arroisi, Agus Mulyana, dan Rahmat Ardi Nur Rifa Da'i, dalam Konsep Bahagia Perspektif Martin Seligman dan Al-Attas (Kajian Dimensi Psikologi dalam Pandangan Barat dan Islam), 2023). Martin Seligman lahir pada tahun 1942 dan menempuh pendidikan sarjana di Princeton University sebelum meraih gelar doktor dari University of Pennsylvania — institusi tempat ia kemudian menghabiskan sebagian besar karier akademiknya.
Karier dan Kontribusi di Dunia Psikologi
Seligman pernah menjabat sebagai presiden American Psychological Association (APA) pada tahun 1998, dan dalam masa kepresidenannya ia secara resmi memproklamasikan psikologi positif sebagai bidang kajian tersendiri. Ia dikenal dengan pendekatan inovatif berupa psikologi positif — sebuah gerakan yang memfokuskan kajian pada kekuatan, potensi, dan kondisi yang membuat kehidupan layak dijalani, sebagai lawan dari tradisi psikologi yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada gangguan dan patologi.
Teori Martin Seligman tentang Kebahagiaan
Dalam kajian tentang kebahagiaan, Seligman menekankan pentingnya usaha aktif untuk membangun hidup yang bermakna.
Konsep Kebahagiaan dalam Teori Seligman
Seligman berpendapat bahwa kebahagiaan bukan hanya sekadar perasaan sesaat. Salah satu penelitian yang dikutip dalam dokumen sumber menyatakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, dalam pandangan Seligman diperlukan kebajikan dalam segala aktivitas kehidupan (Sarmadi, 2018, dalam Arroisi dkk., 2023). Martin Seligman menganggap kebahagiaan adalah puncak dari kehidupan manusia dari segala aktivitas manusiawi yang diarahkan untuk mencapai bahagia. Artinya, kebahagiaan berakhir pada dirinya sendiri (Arroisi dkk., 2023, Kesimpulan). Seligman juga menganggap kebahagiaan abadi berada di dunia selama seseorang bersikap positif (Arroisi dkk., 2023).
Seligman (2002) dalam Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment (The Free Press, New York) dan Seligman (2011) dalam Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being (Free Press, New York) — kedua karya primer yang dikutip dalam dokumen sumber — menjadi landasan utama pemahaman tentang teori kebahagiaan Seligman.
Perbandingan Konsep Bahagia: Martin Seligman dan Al-Attas
Pandangan tentang kebahagiaan tidak hanya lahir dari Barat. Seligman mewakili psikologi Barat, sedangkan Al-Attas hadir dengan perspektif Islam yang menekankan dimensi spiritual dan moral.
Dimensi Psikologi Barat dan Islam
Martin Seligman mewakili cara pandang Barat dan al-Attas sebagai cara pandang Islam (Arroisi dkk., 2023, Abstrak). Perbedaan mendasar terdapat di antara keduanya dalam aspek kebahagiaan abadi atau tetap: kebahagiaan dalam pandangan Seligman terbatas dalam ruang lingkup kehidupan duniawi, sedangkan dalam pandangan al-Attas yang sesuai dengan pandangan para ulama terdahulu, bahwa puncak kebahagiaan adalah bertemu dengan Tuhan, Allah swt. (ma'rifatu Allah) (Arroisi dkk., 2023, Abstrak). Al-Attas menyebutkan kebahagiaan yang tetap berasal dari diri yang bertumpu pada aspek spiritualitas dan keyakinan akan akhirat (Arroisi dkk., 2023, Kesimpulan).
Al-Attas mengidentifikasi tiga tingkatan kebahagiaan: tingkatan pertama adalah psikologis, bersifat sementara dan dapat dicapai manakala keinginan dan kebutuhan telah tercapai dengan perilaku yang benar; tingkatan kedua adalah pengalaman spiritual yang bersifat permanen dan menjadi lapisan dasar kehidupan duniawi; dan tingkatan ketiga adalah kebahagiaan tertinggi di alam akhirat berupa melihat Tuhan (ru'yatu Allah) (Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, 1995, dikutip dalam Arroisi dkk., 2023).
Perspektif Integratif tentang Kebahagiaan
Berdasarkan pemaparan Seligman dan al-Attas, terdapat perbedaan cara pandang antara Barat sekular yang mendasarkan kebahagiaan dengan meninggalkan aspek keTuhanan dan petunjuk-Nya sementara timur/Islam sebaliknya, mendasarkan pada aspek keTuhanan dan mengikuti petunjuk-Nya dengan kesadaran yang diterima oleh hati (Arroisi dkk., 2023, Kesimpulan). Meski berbeda pendekatan, kedua tokoh ini memiliki titik temu berupa pengakuan akan pentingnya makna dan dimensi yang melampaui kesenangan semata dalam kehidupan manusia.
Kesimpulan
Martin Seligman telah memberikan kontribusi besar dalam memahami kebahagiaan melalui teori psikologi positif dan model PERMA. Pemaparan Seligman tentang kebahagiaan yang memformulasikan kebahagiaan lewat energi positif sebagai cara untuk meraih kebahagiaan masih kurang lengkap dibandingkan apa yang dikemukakan al-Attas (Arroisi dkk., 2023, Kesimpulan). Dengan memahami perbedaan dan kesamaan konsep kebahagiaan menurut Seligman dan al-Attas, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih luas tentang makna bahagia dari perspektif psikologi Barat maupun Islam.