Mengenal Model Kovariasi Kelley: Teori, Pencetus, dan Implikasinya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Model Kovariasi Kelley dikenal luas dalam psikologi sosial sebagai salah satu teori atribusi yang membahas cara manusia memahami penyebab suatu perilaku. Pemahaman tentang model ini dapat bermanfaat dalam konteks hubungan sosial dan penilaian diri.
Pengertian Model Kovariasi Kelley
Meurut jurnal Attribution Theory and Unemployment: Kelley’s Covariation Model, Self-Esteem, and Locus of Control, model kovariasi Kelley mengasumsikan bahwa orang pada umumnya menggunakan versi naif dari metode statistik analisis varians untuk menggabungkan informasi konsensus, keistimewaan (distinctiveness), dan konsistensi dalam membuat atribusi atau menetapkan penyebab atas peristiwa atau perilaku (Beryl Hesketh, 1984). Model ini membantu menjelaskan bagaimana seseorang menilai alasan di balik tindakan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Pencetus Model Kovariasi Kelley
Harold Kelley pertama kali memperkenalkan model ini dalam makalahnya di Nebraska Symposium on Motivation pada tahun 1967, dan mengembangkannya lebih lanjut dalam artikel The Process of Causal Attribution di American Psychologist pada tahun 1973 (Hesketh, 1984). Kelley dikenal luas sebagai peneliti yang memadukan teori-teori atribusi dengan penelitian empiris di psikologi sosial.
Komponen Utama Model Kovariasi Kelley
Tiga Dimensi Kovariasi: Konsensus, Konsistensi, dan Distinctiveness
Konsensus: Variabel konsensus mencakup informasi yang membandingkan perilaku yang dipertanyakan dengan perilaku orang lain (Hesketh, 1984).
Distinctiveness: Membandingkan perilaku yang dipertanyakan dengan perilaku relevan lainnya yang ditunjukkan oleh individu (Hesketh, 1984).
Konsistensi: Berkaitan dengan kesamaan perilaku lintas waktu dan situasi (Hesketh, 1984).
Cara Kerja Model dalam Atribusi
Teori ini memprediksi bahwa konsensus tinggi, distinctiveness tinggi, dan konsistensi tinggi dikaitkan dengan faktor kausal eksternal yang stabil (misalnya, kesulitan tugas), sementara konsensus rendah, distinctiveness rendah, dan konsistensi tinggi dikaitkan dengan penyebab stabil dalam diri seseorang (misalnya, kurangnya kemampuan) (Hesketh, 1984). Penyebab situasional dikaitkan dengan konsensus rendah, distinctiveness tinggi, dan konsistensi rendah.
Dukungan dan Keterbatasan Model
Penelitian Hesketh (1984) menguji model Kelley dalam konteks pengangguran di Selandia Baru melalui dua tahap: studi laboratorium dan studi lapangan terhadap 82 penganggur terdaftar. Secara umum, teori Kelley didukung oleh hasil studi laboratorium, namun hanya dua dari dua belas hubungan yang diprediksi ditemukan dalam studi lapangan (Hesketh, 1984). Hal ini menunjukkan bahwa model tersebut mungkin lebih valid ketika membuat atribusi tentang perilaku orang lain daripada untuk "atribusi diri sendiri," terutama di mana hasil melibatkan keberhasilan atau kegagalan (Hesketh, 1984). Faktor-faktor seperti identitas kelompok, perbedaan individual dalam persepsi stabilitas penyebab, dan realisme yang lebih besar dari setting lapangan memengaruhi hasil.
Hubungan dengan Self-Esteem dan Locus of Control
Hesketh (1984) juga menguji hubungan self-esteem dan locus of control dengan atribusi. Orang dengan locus of control internal dan self-esteem tinggi cenderung mengatribusikan kegagalan pada kurangnya usaha, dan keberhasilan pada kemampuan diri. Sebaliknya, mereka dengan self-esteem rendah dan locus of control eksternal cenderung mengatribusikan keberhasilan pada faktor tidak stabil seperti keberuntungan atau usaha (Hesketh, 1984).
Kesimpulan
Model Kovariasi Kelley memberikan gambaran sistematis tentang cara manusia menilai penyebab perilaku melalui tiga dimensi: konsensus, konsistensi, dan distinctiveness. Namun penelitian Hesketh (1984) menunjukkan bahwa model ini lebih kuat dalam konteks laboratorium daripada lapangan nyata — dukungan lapangan yang terbatas menyarankan bahwa model tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut untuk memperhitungkan pengaruh identitas kelompok dan variabel kepribadian seperti self-esteem dan locus of control.