Konten dari Pengguna

Mengenal Negativity Bias: Pengertian dan Cirinya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi negativity bias. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi negativity bias. Foto Unsplash.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali lebih memperhatikan peristiwa buruk dibandingkan kejadian yang menyenangkan. Fenomena ini dikenal sebagai negativity bias, dan bisa memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Memahami negativity bias dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap reaksi emosional maupun keputusan yang diambil.

Apa Itu Negativity Bias?

Negativity bias merupakan kecenderungan manusia untuk lebih peka dan memberikan perhatian lebih besar pada pengalaman atau informasi negatif dibandingkan yang positif.

Menurut Paul Rozin dan Edward B. Royzman dalam artikel jurnal “Negativity Bias, Negativity Dominance, and Contagion”, negativity bias merupakan kecenderungan manusia dan hewan untuk memberi bobot lebih besar pada hal-hal negatif, karena dalam banyak situasi peristiwa negatif dinilai lebih menonjol, kuat, dan berpengaruh dibandingkan peristiwa positif.

Ciri-ciri Negativity Bias

Seseorang yang mengalami negativity bias biasanya menunjukkan beberapa tanda yang mudah dikenali. Ciri-ciri ini dapat muncul dalam respons emosi, cara berpikir, maupun perilaku sehari-hari.

Reaksi Emosional Lebih Kuat terhadap Hal Negatif

Orang cenderung bereaksi lebih intens saat menghadapi kabar buruk dibandingkan ketika menerima berita baik. Emosi seperti marah, takut, atau kecewa lebih mudah muncul dan sulit dikendalikan, sehingga pengalaman negatif terasa lebih menekan.

Ingatan Lebih Tahan Lama pada Pengalaman Buruk

Kenangan akan kejadian buruk sering kali lebih melekat dan sulit dilupakan. Sementara itu, momen menyenangkan biasanya cepat hilang dari ingatan. Hal ini menyebabkan seseorang lebih sering mengingat kesalahan atau kegagalan daripada pencapaian.

Pengaruh Negatif Lebih Dominan dalam Pengambilan Keputusan

Dalam proses membuat keputusan, informasi negatif kerap dijadikan pertimbangan utama. Sering kali, seseorang menghindari risiko berdasarkan pengalaman buruk yang pernah dialami, meski peluang berhasil sebenarnya lebih besar.

Mengapa Negativity Bias Terjadi?

Negativity bias berkembang sebagai bentuk perlindungan diri manusia sejak zaman dahulu. Menurut Paul Rozin dan Edward B. Royzman dalam artikel jurnal “Negativity Bias, Negativity Dominance, and Contagion”, negativity bias dapat dipahami sebagai kecenderungan adaptif manusia untuk memberi bobot dan perhatian lebih besar pada peristiwa negatif, karena kewaspadaan terhadap ancaman membantu organisme menghindari bahaya dan meningkatkan peluang bertahan hidup.

Contoh Negativity Bias dalam Kehidupan Sehari-hari

Negativity bias dapat ditemui dalam berbagai situasi. Misalnya, seseorang lebih cepat terpengaruh berita buruk di media sosial daripada kabar baik. Dalam lingkungan kerja, kritik dari atasan terasa lebih membekas dibandingkan pujian. Seperti dijelaskan oleh Paul Rozin, kecenderungan ini juga terlihat saat seseorang lebih khawatir akan kemungkinan gagal daripada fokus pada peluang sukses.

Kesimpulan

Negativity bias adalah kecenderungan manusia yang membuat informasi negatif terasa lebih penting dibandingkan yang positif. Bias ini memengaruhi emosi, ingatan, hingga keputusan sehari-hari. Menyadari adanya negativity bias dapat membantu seseorang lebih objektif dalam menanggapi berbagai situasi, serta menjaga keseimbangan antara melihat risiko dan peluang.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup