Konten dari Pengguna

Mengenal Psikologi Evolusioner: Pengertian dan Prinsip-Prinsip Dasarnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Psikologi Evolusioner. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Psikologi Evolusioner. Gambar: Pexels.

Psikologi evolusioner menjadi salah satu bidang yang menarik perhatian banyak kalangan dalam ilmu psikologi. Bidang ini membahas bagaimana perilaku manusia berkembang dan beradaptasi dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh proses evolusi. Melalui pemahaman ini, kita dapat melihat alasan di balik berbagai kebiasaan dan pola pikir yang muncul sejak masa lampau hingga sekarang.

Apa Itu Psikologi Evolusioner?

Psikologi evolusioner merupakan cabang psikologi yang menggunakan prinsip-prinsip teori evolusi untuk memahami perilaku manusia, yang dipandang sebagai hasil seleksi alam yang memengaruhi adaptasi fisik dan mental guna meningkatkan peluang bertahan hidup dan reproduksi, sebagaimana dijelaskan dalam buku Dasar-Dasar Psikologi oleh Dr. Ugung Dwi Ario Wibowo, M.Si., Psikolog, dkk. Tokoh utama dalam pengembangan bidang ini antara lain Charles Darwin, Leda Cosmides, dan John Tooby.

Lebih spesifik, Dicky Hastjarjo dalam artikelnya Mengenal Sepintas Psikologi Evolusioner menjelaskan bahwa psikologi evolusioner adalah satu pendekatan terhadap psikologi yang menerapkan pengetahuan dan prinsip-prinsip biologi evolusioner untuk meneliti struktur pikiran manusia. Kemunculan bidang ini sendiri didorong oleh keprihatinan terhadap kondisi ilmu psikologi yang terpecah-pecah, di mana berbagai cabang psikologi berkembang sendiri-sendiri tanpa satu metateori yang menyatukannya; psikologi evolusioner ditawarkan sebagai paradigma teoretis baru untuk menjembatani fragmentasi tersebut. Sejak mulai berkembang pada penghujung abad ke-20, terutama lewat tulisan David Buss pada 1995, psikologi evolusioner berupaya mengungkap alasan di balik adaptasi perilaku tertentu agar manusia mampu bertahan hidup dan berkembang di lingkungan yang selalu berubah.

Prinsip-Prinsip Psikologi Evolusioner

Dalam psikologi evolusioner, terdapat beberapa prinsip dasar yang menjadi fondasi utama untuk memahami perilaku manusia. Setiap prinsip memberikan gambaran tentang bagaimana faktor biologis dan lingkungan berperan dalam pembentukan karakter manusia.

Adaptasi Psikologis

Hastjarjo menjelaskan bahwa secara teknis, adaptasi dalam psikologi evolusioner adalah karakteristik yang berkembang secara reliabel dan dapat diwariskan, yang menjadi ciri suatu spesies melalui seleksi alamiah karena karakteristik tersebut membantu memfasilitasi reproduksi sepanjang masa evolusinya — berbeda dari pengertian adaptasi yang umum dipakai dalam psikologi sehari-hari, yang biasanya menyangkut kebahagiaan pribadi atau kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah. Secara sederhana, adaptasi psikologis dapat dipahami sebagai penyesuaian perilaku yang dilakukan manusia untuk meningkatkan peluang bertahan hidup di lingkungan tertentu. Seperti dijelaskan dalam "Dasar-Dasar Psikologi", banyak aspek perilaku manusia, seperti kecemasan, hubungan sosial, preferensi pasangan, dan pola makan, dapat dijelaskan melalui cara aspek-aspek tersebut berfungsi dalam konteks sejarah evolusi manusia. Hastjarjo menambahkan bahwa problem adaptif yang dihadapi manusia banyak yang bersifat sosial, misalnya membentuk persahabatan yang bersifat timbal balik dan mempertahankan koalisi, sehingga adaptasi ini juga mencakup kecenderungan untuk bekerja sama dan membentuk hubungan sosial yang erat.

Contoh sederhana adaptasi psikologis adalah respons takut terhadap ular, yang menurut Hastjarjo memecahkan problem khusus bagi kelangsungan hidup nenek moyang manusia karena rasa takut tersebut mendorong individu menghindari gigitan ular berbisa yang dapat mematikan. Contoh lain yang dibahas dalam literatur psikologi evolusioner internasional adalah rasa takut terhadap kegelapan; penelitian Packer, Swanson, Ikanda, dan Kushnir yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE dengan judul Fear of Darkness, the Full Moon and the Nocturnal Ecology of African Lions menyebutkan bahwa predator nokturnal diyakini berperan penting dalam evolusi manusia, termasuk mendorong munculnya kebutuhan akan tempat berlindung di malam hari, penguasaan api, dan rasa takut bawaan terhadap kegelapan.

Seleksi Alam dan Perilaku

Seleksi alam berperan penting dalam membentuk perilaku manusia. Hastjarjo menjelaskan bahwa seleksi alamiah mengandung tiga unsur, yaitu variasi (perbedaan sifat antarindividu dalam satu spesies), warisan (hanya variasi yang diwariskan secara ajeg dari orang tua kepada keturunannya yang berperan dalam evolusi), dan seleksi itu sendiri, yakni organisme dengan sifat-sifat yang dapat diwariskan dan membantu memecahkan problem tertentu akan memproduksi lebih banyak keturunan dibandingkan organisme yang tidak memilikinya. Melalui mekanisme ini, hanya perilaku yang mendukung kelangsungan hidup yang diteruskan ke generasi berikutnya, sehingga turut memengaruhi cara manusia mengambil keputusan, berinteraksi, hingga membentuk kebiasaan sosial tertentu. Fungsi mental yang berkembang melalui seleksi alam ini disebut Hastjarjo sebagai mekanisme psikologis, yang cenderung memberikan keuntungan adaptif bagi individu maupun kelompok karena dirancang khusus untuk memecahkan problem-problem adaptif tertentu yang berbeda satu sama lain.

Peran Lingkungan dalam Evolusi Psikologis

Lingkungan sosial dan fisik sangat berpengaruh pada proses evolusi psikologis. Hastjarjo menyebut peran konteks ini sebagai konteks ontogenetik, yaitu pengalaman selama masa perkembangan yang dapat mengarahkan seseorang untuk memiliki strategi perilaku yang berbeda; sebagai ilustrasi, ketiadaan figur ayah pada masa kanak-kanak mendorong seseorang mengembangkan strategi mencari pasangan yang lebih permisif, sementara kehadiran figur ayah mendorong strategi yang lebih monogami. Dengan demikian, faktor-faktor seperti budaya, keluarga, dan kondisi fisik sekitar dapat memicu perubahan atau penguatan sifat psikologis tertentu. Sejalan dengan itu, Dasar-Dasar Psikologi menjelaskan bahwa pengalaman juga turut berperan dalam membentuk kepribadian dan respons seseorang terhadap situasi tertentu, sehingga pengalaman hidup dan interaksi sosial berperan dalam menyesuaikan perilaku manusia dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapinya.

Kesimpulan

Psikologi evolusioner memberikan sudut pandang baru dalam memahami perilaku manusia, mulai dari pengertian hingga prinsip-prinsip dasar seperti adaptasi psikologis, seleksi alam, dan pengaruh lingkungan. Dengan memahami psikologi evolusioner, kita dapat melihat pola perilaku manusia sebagai hasil proses panjang yang dipengaruhi oleh kebutuhan bertahan hidup dan adaptasi terhadap lingkungan.

Bidang ini berperan penting dalam perkembangan ilmu psikologi modern karena menawarkan penjelasan ilmiah mengenai asal-usul perilaku manusia. Melalui pendekatan evolusi, psikologi tidak hanya mempelajari apa yang tampak, tetapi juga mengungkap alasan di balik kebiasaan dan karakter yang diwariskan. Perlu dicatat, psikologi evolusioner juga mendapat kritik dari sejumlah kalangan ilmuwan, antara lain karena konsep modularitas pikiran dianggap dirumuskan secara subjektif tanpa cukup dukungan bukti empiris di bidang neurologi, dan penjelasan tentang adaptasi tertentu dinilai bersifat spekulatif sehingga sulit diuji secara ilmiah.