Konten dari Pengguna

Mengenal Teori Kognitivisme: Pengertian dan Contoh Penerapannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Teori Kognitivisme. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Teori Kognitivisme. Gambar: Pexels.

Teori kognitivisme sering dibahas dalam dunia pendidikan karena menawarkan pandangan baru tentang cara manusia belajar. Teori ini menyoroti pentingnya proses berpikir, bukan sekadar hasil akhir. Dengan memahami teori ini, guru dan siswa bisa menciptakan suasana belajar yang lebih efektif dan menyenangkan.

Definisi Teori Kognitivisme

Teori kognitivisme adalah pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan proses mental dan pemikiran individu. Menurut artikel jurnal Teori Kognitivisme serta Aplikasinya dalam Pembelajaran karya Nurhadi (2020), "Teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri." Nurhadi juga menjelaskan bahwa "Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon sebagaimana dalam teori behaviorisme, lebih dari itu belajar dengan teori kognitivisme melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks."

Fokus dan Karakteristik Utama

Ciri khas teori kognitivisme terletak pada peran aktif siswa dalam memahami materi. Menurut Nurhadi, "Menurut psikologi kognitivistik, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu dengan jalan mengaitkan pengetahuan baru kedalam struktur berfikir yang sudah ada. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa." Nurhadi juga menyebutkan ciri-ciri pokok aliran kognitivistik, yaitu mementingkan apa yang ada dalam diri manusia, mementingkan keseluruhan daripada bagian-bagian, mementingkan peranan kognitif, mementingkan kondisi waktu sekarang, dan mementingkan pembentukan struktur kognitif. Proses berpikir kritis dan pemecahan masalah menjadi bagian penting dalam teori ini.

Contoh Teori Kognitivisme dalam Pembelajaran

Dalam praktiknya, teori kognitivisme menekankan keterlibatan aktif siswa. Menurut Nurhadi, "Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa." Nurhadi juga menjelaskan bahwa keaktifan siswa "dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu." Siswa diberi kesempatan membangun sendiri pemahamannya, sehingga hasil belajarnya menjadi lebih mendalam.

Peran Guru dalam Pendekatan Kognitivisme

Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu dan membimbing siswa menemukan ide utama. Menurut Nurhadi, dalam metode pembelajaran kognitif "pendidik hanya perlu memeberikan dasar-dasar dari materi yang diajarkan unruk pengembangan dan kelanjutannya deserahkan pada peserta didik, dan pendidik hanya perlu memantau, dan menjelaskan dari alur pengembangan materi yang telah diberikan." Nurhadi juga mengutip teori Bruner yang menjelaskan bahwa "proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dsb) melalui contoh-contoh." Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru, melainkan juga pada pengalaman belajar siswa.

Kesimpulan

Teori kognitivisme memberikan landasan penting dalam memahami cara manusia belajar. Menurut Nurhadi, tokoh-tokoh kognitivisme meliputi Jean Piaget, Jerome Bruner, Ausubel, dan Robert M. Gagne, yang masing-masing mengembangkan teori dengan implikasi berbeda namun secara umum mengarah pada bagaimana memahami struktur kognitif siswa. Dengan menekankan proses mental, teori ini membantu siswa menjadi lebih aktif dan berpikir kritis. Nurhadi menyebutkan bahwa kelebihan teori ini adalah "menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah," sementara kekurangannya adalah "teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan; sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas." Penerapan teori kognitivisme dalam pendidikan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna, di mana siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga benar-benar memahami materi.