Konten dari Pengguna

Mengenal Toxic Personality: Pengertian dan Bentuk-Bentuk Perilaku Toxic

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Toxic Personality. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Toxic Personality. Gambar: Pexels.

Toxic personality menjadi istilah yang sering muncul saat membahas hubungan sosial atau lingkungan kerja. Istilah ini merujuk pada pola perilaku yang cenderung merugikan orang lain, baik secara emosional maupun psikologis. Penting untuk memahami bagaimana ciri dan bentuk perilaku toxic muncul agar tidak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Pengertian Perilaku Toxic

Menurut Septian Nanda Galang Gemilang dalam skripsinya Hubungan Antara Kontrol Diri dengan Perilaku Toxic Pemain Game Online di WiFi Area Telkom Ngadiluwih, istilah toxic merujuk pada perilaku beracun dan tidak sehat yang membuat seseorang merasa direndahkan, diserang, tidak didukung, tidak dicintai, dimanfaatkan, atau diperlakukan dengan buruk. Konsep perilaku toxic ini umum berlaku dalam berbagai jenis hubungan — pertemanan, keluarga, lingkungan kantor, tetangga, dan hubungan sosial lainnya.

Gemilang mengutip Dr. Lillian Glass, ahli komunikasi dan psikologi asal California, yang menjelaskan bahwa hubungan toxic ditandai dengan konflik, persaingan, ketidakharmonisan, kurangnya dukungan, dan usaha salah satu pihak untuk melemahkan pihak lainnya.

Definisi Kepribadian Toxic

Berdasarkan kesimpulan Gemilang, perilaku toxic adalah perilaku yang merugikan dan menyulitkan orang lain secara emosional atau psikologis. Perilaku ini sering kali mengekspresikan ketidakpuasan, ketidaksetujuan, atau kemarahan dengan cara yang tidak sehat dan merugikan orang di sekitarnya — dapat muncul dalam bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal, seperti kata-kata kasar, penghinaan, bullying, menyalahkan orang lain, manipulasi emosional, atau menciptakan lingkungan sosial yang beracun.

Indikasi Perilaku Toxic Menurut Cantopher

Gemilang, mengutip Dr. Cantopher, merinci delapan indikator spesifik untuk menentukan apakah seseorang bersifat toxic: Boundary Invaders (selalu berusaha mendominasi segala hal, sering menentang, dan tidak pernah membalas kebaikan orang lain); Abusers (suka mempermainkan perasaan korban melalui hinaan dan menggunakan kekuatan atau popularitas untuk mendapatkan keinginannya); Manipulators (suka merekayasa situasi demi keuntungan pribadi); Bullies (suka menghina orang lain untuk meningkatkan popularitas diri, lebih agresif, dan menganggap kekejaman sebagai hal positif); Narcissists (mencintai diri sendiri secara berlebihan dan membenci orang yang tidak memenuhi harapannya); Psychopaths (tidak memiliki hati nurani dan kurang empati); Doubters (selalu meragukan orang lain dan merasa hanya dirinya yang paling pantas); serta Jokers (pandai membuat lelucon namun cenderung kejam karena tujuannya mempermalukan orang lain).

Bentuk-Bentuk Perilaku Toxic

Perilaku toxic bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari yang halus hingga sangat jelas. Pemahaman yang tepat membantu mencegah dampak negatif yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari.

Perilaku Manipulatif

Gemilang menjelaskan bahwa salah satu tipe individu toxic adalah Manipulators — individu yang suka merekayasa situasi demi keuntungan pribadi dan menciptakan dampak negatif bagi orang lain di sekitarnya.

Perilaku Merendahkan Orang Lain

Tipe Bullies dalam kerangka Cantopher (dikutip Gemilang) menggambarkan seseorang yang suka menghina orang lain untuk meningkatkan popularitas dirinya di depan umum, bersikap lebih agresif, dan memandang kekejaman sebagai hal positif — dengan keyakinan bahwa pemenang adalah yang kuat, sementara yang kalah adalah pecundang.

Perilaku Tidak Menghargai Batasan

Tipe Boundary Invaders (Penjajah Batas) menggambarkan individu yang selalu berusaha mendominasi segala hal, sering menentang, dan tidak pernah membalas kebaikan yang diterima dari orang lain — bahkan melupakannya.

Faktor Penyebab Munculnya Perilaku Toxic

Gemilang, mengutip Glass, menjelaskan bahwa seseorang bisa menjadi toxic karena beberapa faktor: kecemburuan (kebencian mendalam ketika orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih baik), kebencian terhadap kesuksesan orang lain, kebencian terhadap kecantikan atau ketampanan orang lain, kebencian terhadap kegagalan orang lain, serta kebencian terhadap seseorang hanya karena mereka mengenalnya (manipulator hanya mau berhubungan dengan orang yang memberi keuntungan bagi mereka).

Hubungan Antara Kontrol Diri dan Perilaku Toxic

Gemilang menjelaskan bahwa kontrol diri adalah kemampuan bawaan seseorang untuk mengarahkan, mengendalikan, dan mengatur dirinya guna mencapai hasil yang positif dan bermanfaat — mengutip Chaplin (2011) yang mendefinisikan kontrol diri sebagai kemampuan individu untuk membimbing perilakunya sendiri atau menekan dorongan impulsif.

Pentingnya Kontrol Diri dalam Mengelola Perilaku Toxic

Gemilang mengutip Goleman (1998) yang menjelaskan bahwa kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur dan menahan emosi secara efektif, sehingga dapat menghindari impuls negatif. Dengan kontrol diri yang baik, seseorang dapat mengelola emosinya dengan bijaksana dan menghindari tindakan yang tidak diinginkan. Gemilang juga mengutip penelitian Mattinen dan Macey (2018) yang menemukan bahwa perilaku toxic dalam game daring sering disebabkan oleh kematangan mental yang belum berkembang pada pemain muda — pemain muda cenderung kurang memiliki kontrol diri, bereaksi agresif terhadap makian, dan cenderung meniru perilaku penuh kebencian dari lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan kerangka Ghufron dan Risnawita (2009) yang dikutip Gemilang, kontrol diri terdiri dari tiga aspek: kontrol perilaku (behavior control), kontrol kognitif (cognitive control), dan kontrol keputusan (decisional control). Semakin baik ketiga aspek ini berfungsi pada individu, semakin kecil kecenderungan munculnya perilaku toxic.

Kesimpulan

Memahami toxic personality menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan hubungan sosial. Berdasarkan kerangka Cantopher (dikutip dalam Gemilang), terdapat delapan tipe kepribadian toxic — mulai dari Boundary Invaders hingga Jokers — yang masing-masing memiliki ciri khas dan dampak berbeda. Ciri dan bentuk perilaku toxic dapat menimbulkan dampak luas, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, maupun ruang digital seperti dunia game online. Mengenali dan berupaya mengatasi perilaku toxic — salah satunya melalui penguatan kontrol diri — menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan harmonis.