Konten dari Pengguna

Mindfulness Adalah: Pengertian dan Manfaat Mindfulness

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mindfulness. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mindfulness. Gambar: Pexels.

Apa yang Dimaksud dengan Mindfulness?

Menurut Fathiyatus Syafigah dalam skripsinya Pengaruh Mindfulness terhadap Academic Burnout Dimediasi oleh Boredom Proneness pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring (2022), mindfulness merupakan pemusatan kesadaran pada keadaan saat ini, menerima keadaan tersebut, dan tidak menilai pengalaman yang dialami baik atau buruk (Baer, 2003). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Kabat-Zinn, yang menjelaskan bahwa mindfulness memungkinkan individu terhubung dengan diri sendiri sehingga dapat mengenali pikiran dan perasaan secara langsung untuk mengatasinya — kesadaran yang muncul melalui perhatian yang disengaja, pada saat ini, dan tidak menghakimi terungkapnya pengalaman dari waktu ke waktu (Kabat-Zinn, 2003).

Tiga Komponen Inti Mindfulness

Syafigah merinci tiga hal penting dalam mindfulness: kesadaran yang berfokus pada saat ini — melibatkan pemantauan peristiwa sensorik dan mental dari waktu ke waktu, membuat pikiran selaras dengan apa yang dirasakan saat ini tanpa memikirkan masa lalu atau masa depan (Weiss & Hickman, 2013); memperhatikan saat ini — praktisi memperhatikan aspek somatik (penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, sentuhan) untuk mengembangkan perhatian yang diatur sendiri secara terus-menerus (Kuan, 2012); dan ekspresi kesadaran terbuka, non-reaktif (Weick & Putnam, 2006) dan tidak menghakimi (Kabat-Zinn, 2003) — memperhatikan pikiran dan emosi tanpa menghakiminya.

Lima Dimensi Mindfulness

Syafigah, mengutip Baer et al. (2006), menjelaskan lima dimensi mindfulness: observing (memperhatikan pengalaman internal dan eksternal seperti sensasi, kognisi, emosi); describing (mengungkapkan pengalaman internal dengan kata-kata); acting with awareness (perilaku sadar di sini dan saat ini); non-judging (sikap non-evaluatif terhadap pikiran dan perasaan); dan non-reactivity (keselarasan antara pikiran dan perasaan).

Manfaat Mindfulness dalam Kehidupan Sehari-hari

Syafigah merinci pengaruh mindfulness: meningkatkan kesejahteraan subjektif (subjective well-being), mengurangi gejala psikologis dan reaktivitas emosional, serta meningkatkan regulasi perilaku (Keng et al., 2011); memengaruhi kualitas dan durasi tidur (Hülsheger et al., 2014); berhubungan signifikan dengan self-control (Wittmann et al., 2014) dan self-compassion (Hollis-Walker & Colosimo, 2011); serta berhubungan dengan perilaku etis (Kalafatoğlu & Turgut, 2017). Selama COVID-19, praktik mindfulness menjadi pelengkap pengobatan berbiaya rendah yang berpotensi mengurangi kecemasan, depresi, dan skor nyeri (Behan, 2020). Individu yang rutin berlatih mindfulness juga cenderung melaporkan burnout yang lebih rendah (Charoensukmongkol, 2013).

Mindfulness dan Pengaruhnya terhadap Academic Burnout

Syafigah menjelaskan bahwa Barragán, Lewis, dan Palacio (2007) menemukan intervensi mindfulness pada mahasiswa meningkatkan kemampuan fokus, mempertahankan atensi, mengikuti stimulus dengan cermat, dan mengelola gangguan. Ostafin et al. (2015) menjelaskan mindfulness berkaitan dengan self-regulation dengan mengubah cara individu memproses rangsangan eksternal dan internal.

Academic burnout sendiri, mengutip Schaufeli et al. (2002) dan Salmela-Aro et al. (2009), adalah kelelahan akibat tuntutan studi yang ditandai tiga dimensi: kelelahan emosional, sinisme terhadap makna studi, dan perasaan tidak mampu (personal inadequacy). Faktor yang memengaruhi academic burnout mencakup jenis kelamin, usia, dan kepribadian (Maslach, 2003).

Peran Boredom Proneness sebagai Mediator

Penting dikoreksi bahwa artikel asli tidak menjelaskan mekanisme spesifik ini. Syafigah menegaskan bahwa dampak mindfulness terhadap academic burnout selama pembelajaran daring diduga ditentukan oleh boredom proneness — kecenderungan seseorang mengalami kebosanan (Farmer & Sundberg, 1986). Kondisi boredom proneness tinggi selama pembelajaran daring dapat memicu academic burnout dan melemahkan kemampuan melakukan mindfulness, karena trait dan state boredom berasosiasi dengan kegagalan melakukan atensi berkelanjutan (Hunter & Eastwood, 2018). Dengan kata lain, hubungan antara mindfulness dan pembelajaran daring tidak bersifat langsung, melainkan dimediasi oleh tingkat kebosanan yang dialami mahasiswa.

Kesimpulan

Mindfulness adalah pemusatan kesadaran pada saat ini yang mencakup tiga komponen inti dan lima dimensi (Baer et al., 2006), terbukti memberikan manfaat psikologis luas — dari regulasi emosi hingga kualitas tidur. Berdasarkan Syafigah (2022), dalam konteks pembelajaran daring, efektivitas mindfulness dalam menurunkan academic burnout dimediasi oleh boredom proneness: semakin tinggi kecenderungan bosan mahasiswa, semakin lemah kemampuan mereka mempraktikkan mindfulness secara efektif.