Konten dari Pengguna

Model PERMA: Kerangka Kesejahteraan Psikologis dalam Psikologi Positif

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kesejahteraan psikologis. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kesejahteraan psikologis. Gambar: Pexels.

Model PERMA merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk memahami kesejahteraan psikologis. Kerangka ini sering dijadikan acuan oleh para praktisi dan peneliti dalam bidang psikologi positif untuk membangun hidup yang lebih bermakna dan memuaskan melalui lima aspek utama.

Pengertian dan Pencetus Model PERMA

Model PERMA mengacu pada kerangka kesejahteraan psikologis yang menyoroti lima unsur penting untuk mencapai hidup yang seimbang. Menurut Ni Luh Ayu Vivekananda dan Evi Ema Vitoria Polii dalam dokumen Schwartz Value dan Perma Well-Being pada Dewasa Awal, model ini dikembangkan oleh Martin Seligman sebagai konsep multi-dimensi. Dalam sumber tersebut dinyatakan bahwa PERMA Well-Being merupakan konsep multi-dimensi yang tidak hanya berfokus pada Hedonic ataupun Eudamonic, melainkan gabungan dari keduanya. Dalam modelnya, Seligman mengidentifikasi 5 dimensi yang terkait dengan Well-being.

Komponen Utama PERMA

Setiap huruf dalam akronim PERMA mewakili pilar kesejahteraan yang saling melengkapi. Berdasarkan dokumen Schwartz Value dan Perma Well-Being, komponen tersebut meliputi: "Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning dan Accomplishment"

Berikut adalah penjelasan singkat komponen tersebut berdasarkan perspektif Vivekananda dan Polii:

  1. Positive Emotion: Terkait dengan pengalaman kebahagiaan masa lalu, sekarang, dan masa depan.

  2. Engagement: Menyangkut penggunaan kekuatan karakter (Character Strength) dan bakat untuk mencapai tujuan atau kondisi flow.

  3. Relationship: Membahas tingkat kreativitas dan altruisme dalam hubungan sosial.

  4. Meaning: Menemukan tujuan hidup dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

  5. Accomplishment: Kegembiraan yang berasal dari perjuangan untuk sukses dan mencapai kemenangan sebagai cara merealisasikan diri.

Sejarah dan Perkembangan Teori

Martin Seligman memperkenalkan konsep ini sebagai pengembangan dari teori kebahagiaan otentik menuju teori Flourish. Menurut Vivekananda dan Polii, kerangka ini mulai digunakan secara luas untuk operasionalisasi kesejahteraan pada awal 2010-an.

Relevansi Model PERMA pada Masa Dewasa Awal

Model PERMA memiliki peran strategis bagi individu yang berada pada fase transisi kritis, yaitu usia 20-40 tahun. Pada fase ini, tantangan hidup meningkat drastis. Sebagaimana dijelaskan dalam dokumen Schwartz Value dan Perma Well-Being: "Individu di usia ini menghadapi banyak tantangan seperti memilih karier, membangun hubungan, dan merancang masa depan, yang semuanya dapat memengaruhi kesejahteraan atau dalam konsep Psikologi Positif disebut sebagai Well-being".

Penelitian Vivekananda dan Polii juga menemukan bahwa di antara kelima dimensi tersebut, keterlibatan penuh dalam aktivitas menjadi elemen yang paling menonjol pada kelompok ini. Jika dilihat dari dimensi-dimensi PERMA maka tampak bahwa dimensi yang paling tinggi adalah Engagement dan dimensi yang paling rendah dalah dimensi Positive Emotion dan Meaning.

Kesimpulan

Model PERMA menyediakan fondasi yang kokoh untuk membangun kesejahteraan psikologis secara menyeluruh. Dengan mengintegrasikan emosi positif, keterlibatan, hubungan, makna, dan pencapaian, individu dapat merancang kehidupan yang lebih berkualitas. Penerapan model ini sangat penting untuk membantu individu mencapai kondisi ideal dalam psikologi positif