Konten dari Pengguna

Narcissistic Personality: Pengertian & Implikasi terhadap Kesehatan Mental

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Narcissistic Personality. Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Narcissistic Personality. Gambar: Pexels

Kepribadian narcissistic seringkali dianggap sebagai sifat suka memuji diri sendiri secara berlebihan. Namun, kenyataannya, kondisi ini merupakan gangguan kepribadian yang dapat berimbas pada kesehatan mental dan kehidupan sosial seseorang. Memahami lebih jauh mengenai pengertian, implikasi, serta cara penanganannya bisa menjadi langkah awal untuk mengenali dan mengantisipasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Definisi Narcissistic Personality

Menurut Dewi Purnama Sari dalam artikel Gangguan Kepribadian Narsistik dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental (2021), gangguan kepribadian narsistik atau narcissistic personality disorder terjadi akibat adanya sikap atau perilaku seseorang yang secara berlebihan dalam memandang keunikan atau kelebihan yang dimiliki, sehingga menimbulkan fantasi yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Secara bahasa, narsistik merupakan perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan, dan gangguan kepribadian narsistik termasuk gangguan mental yang disebabkan adanya perasaan ego yang tinggi dan kekaguman yang berlebihan terhadap dirinya sendiri.

Purnama Sari (2021) menjelaskan bahwa kata narsistik merupakan turunan dari kisah Narcissus — pemuda tampan dari mitologi Yunani Kuno yang sangat kagum terhadap dirinya sendiri setelah melihat bayangan wajahnya di permukaan air, dan pada akhirnya bunuh diri karena tidak bisa memenuhi keinginannya untuk menjalin cinta dengan orang yang memiliki kelebihan dirinya.

Karakteristik Utama Narcissistic Personality

Purnama Sari (2021) menjelaskan bahwa individu yang mengalami gangguan kepribadian narsistik selalu mengharapkan perhatian dan pemujaan yang berlebihan terhadap dirinya, suka memperlihatkan kelebihan yang dimiliki secara berlebihan, serta menganggap sikap dan perilakunya hanya dapat dimengerti serta dipahami oleh orang-orang tertentu. Akibatnya adalah melahirkan sikap yang kurang empati terhadap orang lain, arogan, iri, ingin diperlakukan secara istimewa oleh orang lain, selalu mencari perhatian, ingin dipuja, takut gagal, serta sensitif terhadap kritikan.

Sembilan Kriteria DSM-IV

Purnama Sari (2021), mengutip berbagai sumber, memaparkan bahwa dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition), seseorang dikatakan mengalami gangguan kepribadian narsistik jika memiliki lima dari sembilan ciri berikut: (1) merasa paling hebat; (2) seringkali memiliki perasaan iri hati kepada orang lain; (3) memiliki fantasi secara berlebihan terhadap kesuksesan dan kelebihannya; (4) ingin dikagumi secara berlebihan; (5) kurang memiliki empati terhadap orang lain; (6) selalu ingin memperoleh keistimewaan; (7) memiliki sikap angkuh; (8) sensitif terhadap kritik; serta (9) memiliki kepercayaan diri secara semu dan keyakinan berlebihan bahwa dirinya memiliki keunikan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu.

Faktor Penyebab Munculnya Narcissistic Personality

Purnama Sari (2021) menjelaskan peran teoris Heinz Kohut yang mengembangkan teori narsisme dalam dua karyanya, The Analysis of the Self (1971) dan The Restoration of the Self (1977). Kohut menjelaskan bahwa gangguan kepribadian narsistik terjadi akibat adanya kegagalan dalam mengembangkan harga diri yang sehat — disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua dalam merespons secara baik berbagai kompetensi yang dimiliki oleh anaknya, di mana anak seringkali dihargai guna membangun kebanggaan dan harga diri orang tua, bukan berdasarkan makna dirinya sendiri.

Purnama Sari (2021) juga menyebutkan bahwa Kohut dan Kernberg menjelaskan kepribadian narsistik akan berkembang dalam diri individu jika orang tua lalai terhadap anak, kurang berempati, dan selalu menghilangkan nilai terhadap apa yang dilakukan oleh anak. Lebih lanjut, mengutip Sigmund Freud, Purnama Sari menjelaskan bahwa perilaku narsis muncul dari kombinasi pujian orang tua dan penolakan — memanjakan anak berlebihan dan pengabaian orang tua terhadap anak keduanya merupakan pemicu munculnya gangguan kepribadian narsistik.

Implikasi Narcissistic Personality terhadap Kesehatan Mental

Purnama Sari (2021) menegaskan bahwa kepribadian narsistik yang dimiliki oleh seseorang akan berimplikasi terhadap kesehatan mental. Jika kepribadian narsistik menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi kehidupan — seperti perasaan, hubungan sosial, dan pekerjaan — maka akan berpotensi mengganggu kesehatan mental. Orang yang mengalami gangguan kepribadian, mengutip Kanfer dan Goldstein (dalam Purnama Sari), akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, sering kali timbul perasaan cemas, tegang, berlebihan dalam menyikapi masalah, dan selalu merasa tidak puas secara berlebihan.

Dampak bagi Individu

Purnama Sari (2021) menjelaskan bahwa individu dengan gangguan kepribadian narsistik terkadang sering merasa kecewa terhadap dirinya, lalu mencari orang-orang yang dianggapnya ideal dengan tidak mengizinkan orang lain menjalin hubungan. Jika ada orang lain dianggap mampu menyainginya, ia akan marah dan berupaya menyingkirkannya. Individu yang mengalami gangguan kepribadian juga biasanya mudah stres dan mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah, serta tidak memiliki motivasi untuk mengubah sikap dan perilakunya.

Pengaruh terhadap Lingkungan Sosial

Purnama Sari (2021) menyebutkan bahwa orang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik tidak mampu menjalin hubungan sosial terhadap sesama secara baik, karena dalam melakukan sesuatu semata untuk membanggakan diri dan mendapatkan pujian dari orang lain — sehingga mengganggu hubungan interpersonal dan lingkungan kerja.

Penanganan Narcissistic Personality

Purnama Sari (2021), mengutip Fausiah dan Widury (2005), menjelaskan bahwa ada beberapa proses yang dapat dilakukan untuk menangani gangguan kepribadian narsistik yang belum bersifat kronis:

  1. Melatih diri memandang orang lain secara positif — individu dilatih agar memiliki pandangan dan keyakinan bahwa orang lain memiliki kelebihan dan keistimewaan.

  2. Selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari sikap dan perilaku yang ditampilkan.

  3. Bersikap dan berperilaku sederhana secara proporsional agar terhindar dari jebakan hedonisme.

  4. Melatih diri bersikap rendah hati — dengan cara belajar dari pengalaman orang lain, membaca buku, serta melakukan evaluasi terhadap sikap dan perilaku yang telah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Koreksi terhadap ucapan, perilaku, dan sikap yang mengandung kesombongan melalui perenungan.

Selain itu, Purnama Sari (2021) juga menyebutkan bahwa salah satu cara menangani gangguan kepribadian narsistik adalah dengan melatih diri agar bisa mengontrol dan mengendalikan motif-motif emosi yang mengarah pada sikap dan perilaku narsistik, serta membiasakan diri melihat sikap, perilaku, serta masalah dari sudut pandang orang lain.

Pencegahan Gangguan Kepribadian Narsistik

Karena faktor penyebab utamanya berkaitan dengan pola asuh dan lingkungan awal kehidupan, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan pola asuh yang seimbang, mengajarkan empati sejak dini, dan membangun komunikasi terbuka dalam keluarga. Purnama Sari (2021) menekankan bahwa orang tua harus mampu mengembangkan tingkat kepercayaan diri secara normal dan mengembangkan perasaan harga diri anak secara benar agar anak terhindar dari gangguan kepribadian narsistik di kemudian hari.

Kesimpulan

Gangguan kepribadian narsistik adalah gangguan kepribadian yang disebabkan adanya sikap atau perilaku seseorang yang berlebihan dalam memandang dirinya sendiri — menimbulkan cinta dan fantasi berlebihan terhadap kelebihan dan keunikan yang dimilikinya. Berdasarkan DSM-IV, seseorang didiagnosis mengalami gangguan ini jika memiliki minimal lima dari sembilan ciri yang ditetapkan. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi individu tetapi juga lingkungan sosialnya. Penanganannya mencakup lima langkah yang dapat dilakukan secara mandiri untuk kasus yang belum kronis, ditambah dukungan lingkungan yang sehat sejak masa kanak-kanak sebagai langkah pencegahan utama.