Organisasi dalam Psikologi: Pengertian dan Dinamika Konflik
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Organisasi merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial manusia. Di dalamnya, individu saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama. Dalam praktiknya, organisasi tidak hanya berisi struktur formal, tetapi juga memuat dinamika psikologis dan potensi konflik yang perlu dipahami semua pihak.
Definisi Organisasi menurut Psikologi
Menurut buku Psikologi Organisasi karya Ansori dkk., (2020), memahami psikologi organisasi adalah memahami perilaku dan proses berjalannya sebuah organisasi — suatu ilmu yang sangat penting karena tidak mungkin sebuah organisasi tumbuh dengan sehat dan besar tanpa memahami apa yang terjadi di dalamnya, mulai dari tim atau karyawan secara emosi, motivasi, hingga prestasi kerja (Ansori dkk., 2020).
Secara sosiologis, konflik dalam organisasi didefinisikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya (Ansori dkk., 2020). Menurut Gibson, et al. (1997, dikutip dalam Ansori dkk., 2020), hubungan saling tergantung dapat melahirkan konflik jika masing-masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri-sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
Tujuan dan Fungsi Organisasi
Tidak ada cara yang paling mudah dalam mencapai sebuah tujuan besar kecuali dengan organisasi. Mengembangkan diri dan organisasi adalah media paling mudah untuk mencapai sebuah impian; setiap tantangan dan masalah mampu dikelola dengan baik supaya tujuan segera tercapai (Ansori dkk., 2020, Kata Pengantar, hal. 5).
Struktur dan Unsur Organisasi
Menurut Ansori dkk., 2020, elemen-elemen kunci dalam organisasi mencakup pembagian tugas, pola komunikasi, hierarki, dan mekanisme koordinasi. Setiap organisasi besar akan muncul tantangan yang besar — baik dari internal maupun dari luar organisasi. Peran seorang leader dalam memahami tim, pola kerja, motivasi, dan budaya organisasi menjadi sebuah kewajiban; maju-mundurnya sebuah organisasi terletak pada peran leader bagaimana ia membawa, mempola, dan mengelola organisasi (Ansori dkk., 2020).
Faktor Psikologis dalam Organisasi
aktor psikologis sangat memengaruhi dinamika organisasi. Interaksi antar anggota, motivasi, dan komunikasi menentukan keberhasilan kerja sama di dalam organisasi.
Peran Individu dan Kelompok dalam Organisasi
Kajian psikologi organisasi dalam buku Ansori dkk. (2020) mencakup persepsi dan pengambilan keputusan individu, emosi, mood, dan perilaku kelompok, serta dinamika pengambilan keputusan kelompok. Menurut Robbins dan Judge (dikutip dalam Ansori dkk., 2020), persepsi — sebagai cara individu menganalisis dan mengartikan pengamatan indrawi — berperan penting dalam cara anggota organisasi memandang realitas. Seorang individu akan memandang segala sesuatu dengan persepsi mereka sendiri yang mungkin saja berbeda dengan persepsi orang lain.
Motivasi dan Kepuasan Kerja
Motivasi mendorong anggota untuk aktif berkontribusi. Menurut Driscoll (dalam Ansori dkk., 2020), partisipasi dalam pengambilan keputusan berhubungan dengan efficacy — perasaan atau anggapan bahwa seseorang mampu memengaruhi pembuatan keputusan dalam organisasi. Kepuasan kerja juga berkaitan erat dengan tingkat loyalitas terhadap organisasi.
Komunikasi dalam Organisasi
Komunikasi memiliki peran yang penting dalam organisasi. Terjadinya konflik dalam organisasi dapat diidentifikasi bahwa salah satu penyebabnya adalah faktor komunikasi. Komunikasi yang tidak tepat atau yang salah akan menyebabkan terjadinya salah komunikasi atau salah persepsi — miscommunication — yaitu ketika komunikasi yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin dikomunikasikan (Ansori dkk., 2020). Fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain: alat kontrol perilaku anggota, meningkatkan motivasi kerja, sebagai media mengungkapkan ekspresi emosional, dan memfasilitasi pengambilan keputusan (Ansori dkk., 20204).
Konflik dalam Organisasi: Penyebab dan Dampaknya
Konflik dalam organisasi merupakan hal yang wajar terjadi. Perselisihan bisa muncul akibat perbedaan pendapat, tujuan, atau nilai yang dipegang oleh anggota.
Jenis-jenis Konflik Organisasi
Menurut Muchlas (1999, dikutip dalam Ansori dkk., 2020), dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk interaktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok, atau pada tingkatan organisasi. Konflik terutama pada tingkatan individual sangat dekat hubungannya dengan stres. Selain itu, ada konflik diri sendiri dengan seseorang (karena perbedaan peran antara atasan dengan bawahan, kepribadian, dan kebutuhan — konflik vertikal), serta konflik diri sendiri dengan kelompok (Ansori dkk., 2020).
Faktor Penyebab Konflik
Faktor penyebab konflik menurut Ansori dkk. (2020) adalah: (1) perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan — setiap manusia adalah individu yang unik; (2) perbedaan latar belakang kebudayaan yang membentuk pribadi-pribadi yang berbeda; dan (3) perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. Faktor komunikasi yang tidak efektif juga berperan penting: jika tidak dikomunikasikan dengan jelas, baik, dan tepat, penyelesaian konflik tidak dapat dijalankan secara efektif (Ansori dkk., 2020).
Tujuan dan Dampak Konflik terhadap Kinerja Organisasi
Konflik memiliki tujuan: (1) mendapat dan memperkuat kekuasaan atau keuntungan, baik pribadi maupun kelompok; (2) meningkatkan kemesraan kelompok melalui solusi terbaik; dan (3) menimbulkan dinamika pencapaian yang lebih baik (Ansori dkk., 2020). Biasanya organisasi yang semakin tumbuh besar akan terjadi konflik besar dengan berbagai kepentingan. Tetapi jika sistem dalam organisasi sudah tercipta dengan baik, maka peluang politik negatif tidak berhasil muncul dalam tubuh organisasi (Ansori dkk., 2020).
Strategi Mengelola Konflik Organisasi
Penting bagi organisasi memiliki strategi khusus untuk mengelola konflik. Pendekatan psikologi sangat berguna dalam proses ini.
Pendekatan dalam Penyelesaian Konflik
Beberapa pendekatan dalam manajemen konflik yang dibahas Ansori dkk. (20205) mencakup stimulasi, pengendalian, dan penyelesaian konflik. Namun ketiga pendekatan tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif jika tidak dikomunikasikan dengan jelas, baik, dan tepat. Pemahaman terhadap emosi, persepsi, dan motivasi anggota menjadi dasar penyelesaian konflik yang adil. Selain itu, teknik negosiasi juga dibahas secara tersendiri dalam buku ini sebagai mekanisme formal penyelesaian konflik dalam organisasi.
Langkah-langkah Resolusi Konflik
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: mengenali sumber konflik (perbedaan individu, budaya, atau kepentingan), berkomunikasi secara terbuka, dan mencari solusi bersama. Pengambilan keputusan kelompok dalam Ansori dkk. (2020) juga menawarkan berbagai model dan metode pengambilan keputusan bersama yang dapat diterapkan dalam resolusi konflik.
Peran Kepemimpinan dalam Manajemen Konflik
Pemimpin dalam organisasi memiliki salah satu fungsi kepemimpinan yang krusial: menengahi pertentangan dan konflik-konflik yang muncul serta mengadakan evaluasi (Kartono, dalam Ansori dkk., 2020). Pemimpin yang responsif dan adil mampu menengahi konflik serta menciptakan suasana kerja yang harmonis. Menurut Ansori dkk. (2020), leader yang kuat dengan memahami kompleksitas sistem yang ada akan menjadi penentu seberapa penting keputusan A atau keputusan B diambil untuk penyelamatan atau pengembangan organisasi.
Kesimpulan
Organisasi dalam psikologi menyoroti pentingnya dinamika manusia di balik struktur formal sebuah organisasi. Faktor psikologis — meliputi persepsi, emosi, motivasi, dan komunikasi — menentukan keberhasilan kerja sama dalam organisasi. Konflik, meski wajar terjadi, memiliki akar pada perbedaan individu, perbedaan latar belakang budaya, dan perbedaan kepentingan; dan dapat menimbulkan dinamika pencapaian yang lebih baik jika dikelola dengan tepat melalui kepemimpinan yang efektif dan komunikasi yang terbuka.