Konten dari Pengguna

Oversharing: Pengertian dan Fenomena Oversharing di Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Oversharing. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Oversharing. Gambar: Pexels.

Oversharing kini menjadi istilah yang sering muncul seiring maraknya penggunaan media sosial. Banyak orang tanpa sadar membagikan cerita atau detail pribadi yang sebenarnya bisa menimbulkan risiko. Untuk memahami fenomena ini, penting mengetahui apa itu oversharing, penyebabnya, hingga langkah mencegahnya agar aktivitas daring tetap aman dan nyaman.

Definisi Oversharing

Dalam Webster's New World College Dictionary (2008, dikutip dalam Zul Khaidah Gultom, Hubungan Self-Disclosure dengan Fenomena Oversharing di Media Sosial pada Mahasiswa di Desa Wek IV Batang Toru, 2024), istilah oversharing diartikan sebagai terlalu banyak informasi, baik secara sengaja maupun tidak sengaja terungkap. Hoffman (2009, dikutip dalam Gultom, 2024) mengartikan oversharing sebagai pengungkapan informasi yang berlebihan atau tidak sesuai dengan konteks tertentu atau berlebihan. Seidman (2015, dikutip dalam Gultom, 2024) menjelaskan bahwa ketika seseorang menjelaskan terlalu banyak tentang dirinya seperti memposting apa yang ia makan, hal yang menjadi topik pembicaraan, dimana seseorang menyimpan uang, dan perilaku yang diungkapkan di media sosial merupakan sebuah oversharing.

Ben Agger (2012, dikutip dalam Gultom, 2024) mendefinisikan oversharing sebagai dorongan "untuk mengungkapkan lebih, perasaan batin, pendapat, seksualitas" daripada yang akan dilakukan seseorang "secara pribadi, atau bahkan melalui telepon." Oversharing adalah keadaan saat seorang individu pengguna media sosial terlalu sering membagi konten melalui akunnya sehingga mencapai level berlebihan. Keadaan oversharing yang dilakukan individu di media sosial mengakibatkan hilangnya garis antara publik dan privasi (Seidman, 2014, dikutip dalam Gultom, 2024).

Contoh Oversharing dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa contoh oversharing antara lain memposting keadaan sedih untuk melihat penghiburan dari orang-orang, membagikan masalah keluarga, konflik pribadi, hingga data sensitif seperti lokasi atau identitas lengkap di media sosial, serta memposting postingan lebih dari empat kali dalam sehari tanpa mempertimbangkan konteksnya (Gultom, 2024, hal. 18).

Penyebab Oversharing di Media Sosial

Fenomena oversharing di media sosial tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk mengungkapkan terlalu banyak informasi pribadi di ruang publik digital. Salah satunya adalah dorongan untuk terbuka atau self-disclosure.

Hubungan Self-Disclosure dengan Oversharing

Self-disclosure adalah pengungkapan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (West & Turner, 2008, dikutip dalam Gultom, 2024). Self-disclosure dapat membantu membentuk keakraban dan kedekatan dengan orang lain, namun self-disclosure yang terlalu dalam atau terlalu cepat dapat melanggar batas privasi dan memicu oversharing (Petronio, 2002, dikutip dalam Gultom, 2024).

Hasil penelitian Gultom (2024) terhadap 112 mahasiswa pengguna media sosial di Desa Wek IV Batang Toru menunjukkan bahwa self-disclosure memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan oversharing (rxy = 0,965, p = 0,000). Persentase hubungan self-disclosure terhadap oversharing dalam menggunakan media sosial dalam penelitian ini juga termasuk tinggi dengan nilai 93,1% (Gultom, 2024, Abstrak). Dengan kata lain, semakin tinggi self-disclosure maka akan semakin tinggi oversharing (Gultom, 2024).

Faktor Lingkungan dan Tekanan Sosial

Dokumen sumber Gultom (2024) mengidentifikasi enam faktor utama oversharing di media sosial: (1) kebutuhan untuk membangun jaringan sosial (Ellison, 2007); (2) kebutuhan untuk memperoleh perhatian dan pengakuan (Marwick, 2013); (3) tekanan sosial dari teman dan keluarga agar dianggap sebagai bagian dari kelompok (Boyd, 2008); (4) kebutuhan membangun citra diri (Turkle, 2011); (5) kurangnya kesadaran tentang privasi dan kebijakan yang tidak jelas (North, 2007); dan (6) communication boundary management yang lemah — ketidakmampuan mengelola batas privasi diri dan orang lain (Petronio, 2002).

Selain itu, tiga faktor utama dari perspektif psikologi klinis (Henni Andini, melalui pijarpsikologi.org, dikutip dalam Gultom, 2024) adalah: pelepasan hormon endorfin saat curhat di media sosial, kebutuhan untuk didengarkan sebagai kebutuhan dasar manusia, dan rasa bersalah yang membutuhkan saluran pengungkapan.

Dampak Oversharing di Media Sosial

Selain memunculkan interaksi, perilaku oversharing dapat membawa konsekuensi yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah risiko keamanan data dan pengaruh terhadap kondisi psikologis pengguna.

Risiko Privasi dan Keamanan

Oversharing lebih berkaitan dengan "deboundaring" atau "batas tipis," di mana batas antara pribadi dan publik, diri sendiri dan orang lain, posisinya semakin tidak jelas (Gultom, 2024). Dampak oversharing menurut McCoy (2015, dikutip dalam Gultom, 2024) mencakup: mempengaruhi persepsi orang lain terhadap seseorang secara negatif, menurunkan tingkat kepercayaan dan dukungan sosial, meningkatkan risiko konflik, dan menurunkan kualitas hubungan sosial.

Pengaruh terhadap Kesehatan Mental

Oversharing di media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang dengan membuat seseorang merasa stres, cemas, atau depresi. Informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka dapat memicu reaksi yang tidak sehat dari orang lain dan membuat seseorang merasa tidak aman atau tidak stabil secara emosional (Mazer, 2017, dikutip dalam Gultom, 2024). Oversharing juga dapat meningkatkan risiko kecanduan media sosial karena seseorang dapat merasa tergantung pada respons positif dari orang lain untuk memperoleh perasaan positif tentang diri mereka sendiri (Mazer, 2017, dikutip dalam Gultom, 2024).

Cara Menghindari Oversharing di Media Sosial

Terdapat banyak bahaya jika melakukan oversharing, maka penting untuk mempertimbangkan konsekuensi dari informasi yang dibagikan sebelum memposting di media sosial serta memperhatikan batasan pribadi dan privasi orang lain agar tidak berdampak negatif pada orang lain maupun diri sendiri (Gultom, 2024, hal. 21). Selalu pertimbangkan sebelum membagikan sesuatu secara publik. Gunakan fitur privasi pada platform media sosial agar hanya orang tertentu yang dapat melihat unggahan, dan pertahankan kesadaran akan batas antara wilayah publik dan privat dalam berkomunikasi digital.

Kesimpulan

Oversharing merupakan perilaku membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial yang kerap terjadi karena berbagai faktor psikologis dan sosial. Berdasarkan penelitian Gultom (2024) terhadap 112 mahasiswa, self-disclosure terbukti memiliki hubungan positif dan sangat signifikan dengan oversharing (r = 0,965; 93,1%). Dampaknya bisa merugikan mulai dari risiko keamanan privasi, mempengaruhi persepsi orang lain, hingga gangguan kesehatan mental berupa stres, kecemasan, dan depresi. Dengan memahami faktor penyebab dan membatasi informasi yang dibagikan, oversharing dapat dicegah sehingga aktivitas daring tetap positif.