Konten dari Pengguna

Overthinking Adalah: Pengertian dan Cara Mengatasi Overthinking

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi overthinking. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi overthinking. Foto Unsplash.

Rasa cemas yang terus menerus dan pikiran yang berputar tanpa henti seringkali membuat aktivitas sehari-hari terasa berat. Fenomena ini dikenal sebagai overthinking, kondisi ketika seseorang sulit melepaskan kekhawatiran dan cenderung memikirkan satu hal secara berulang. Untuk memahami overthinking secara menyeluruh, penting mengetahui ciri-ciri, dampak, serta cara mengatasinya.

Apa Itu Overthinking?

Overthinking adalah kebiasaan menganalisis atau memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga menimbulkan kecemasan dan stres.

Menurut Farah Octa Suroiyya dalam artikel jurnal "Tinjauan Overthingking dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya", overthinking merupakan kondisi ketika seseorang memikirkan hal yang sudah atau belum terjadi secara terus-menerus tanpa solusi, disertai kekhawatiran, kecemasan, dan pikiran negatif. Kondisi ini dapat membuat pikiran menjadi rumit, sulit fokus, serta membuat individu terjebak dalam lingkaran pemikiran negatif yang sulit dihentikan.

Definisi dan Ciri-ciri Overthinking

Seseorang yang mengalami overthinking cenderung memikirkan satu masalah berkali-kali tanpa menemukan solusi. Gejala umumnya meliputi sulit tidur, mudah gelisah, dan sering merasa takut akan hal yang belum terjadi. Selain itu, overthinking bisa membuat seseorang sulit mengambil keputusan karena selalu mempertimbangkan risiko secara berlebihan.

Dampak Negatif Overthinking

Terlalu sering overthinking dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Stres berlebih yang muncul bisa menurunkan konsentrasi dan mengganggu produktivitas. Bahkan, dalam jangka panjang, overthinking bisa memicu kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.

Cara Mengatasi Overthinking

Mengelola overthinking membutuhkan kesadaran diri dan strategi yang tepat. Proses ini melibatkan upaya aktif untuk mengubah pola pikir negatif menjadi lebih sehat.

Strategi Praktis Mengelola Overthinking

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

- Melatih teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi

- Mencatat pikiran di jurnal untuk mengurai kecemasan

- Membatasi waktu khusus untuk memikirkan masalah

- Melakukan aktivitas fisik ringan untuk mengalihkan fokus

Intervensi Konseling untuk Overthinking

Dukungan konseling menjadi salah satu solusi yang direkomendasikan. Seperti yang disebutkan dalam artikel jurnal sebelumnya, teknik konseling seperti cognitive behavioral therapy (CBT) dapat membantu mengidentifikasi pola pikir yang salah atau tidak realistis dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih adaptif atau realistis.

Kapan Perlu Bantuan Profesional?

Ada saatnya overthinking tak lagi bisa diatasi sendiri dan memerlukan bantuan tenaga ahli. Mengenali kapan harus mencari pertolongan sangat penting agar kondisi tidak semakin parah.

Tanda Overthinking Memerlukan Konseling Lebih Lanjut

Beberapa indikator perlunya konseling, misalnya jika overthinking mengganggu aktivitas harian, menyebabkan gangguan tidur, atau menimbulkan perasaan cemas yang tak kunjung reda. Jika kondisi ini berlangsung lama, sebaiknya segera konsultasi ke psikolog.

Manfaat Konseling dalam Mengatasi Overthinking

Konseling membantu menemukan akar masalah dan memberikan panduan untuk mengubah pola pikir yang tidak sehat. Selain itu, proses ini juga memberi ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi.

Kesimpulan

Overthinking adalah kondisi mental yang dapat mengganggu keseharian jika tidak segera dikelola. Untuk mengatasi overthinking, penting menerapkan strategi sederhana dan mempertimbangkan konseling bila keluhan semakin berat. Dengan pendekatan yang tepat, overthinking bisa dikendalikan sehingga kualitas hidup pun meningkat.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Self Improvement: Proses Menjadi Versi Terbaik Diri