Konten dari Pengguna

Parentification: Pengertian dan Contohnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi parentification. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi parentification. Foto Unsplash.

Parentification mulai banyak dibicarakan karena sering terjadi tanpa disadari di lingkungan keluarga. Banyak anak yang harus memikul tanggung jawab melebihi usianya, baik secara emosional maupun dalam hal tugas rumah tangga. Situasi ini bisa memberi dampak yang cukup besar terhadap perkembangan anak, sehingga penting untuk mengenali ciri-cirinya sejak dini.

Apa Itu Parentification?

Parentification merupakan kondisi ketika anak mengambil alih peran dan tanggung jawab orang tua, baik secara emosional maupun fungsional.

Menurut Neng Wulan Sari dkk. dalam artikel jurnal “Parent Focused Parentification: Eksplorasi Inversi Peran Anak Sebagai Penopang Emosional dan Fungsional Orang Tua,” parentification digambarkan sebagai kondisi ketika anak mengambil alih tanggung jawab emosional dan fungsional orang tua, sehingga terjadi inversi peran orang tua atau pembalikan struktur peran dalam keluarga.

Definisi Parentification

Secara sederhana, parentification terjadi saat anak bertindak layaknya orang tua di dalam keluarga. Anak harus mendengarkan permasalahan orang tua, membantu mengambil keputusan, atau bahkan menjadi perantara konflik rumah tangga.

Penyebab Terjadinya Parentification

Beberapa penyebab utamanya antara lain krisis ekonomi, perceraian, atau salah satu orang tua mengalami masalah kesehatan. Situasi-situasi tersebut seringkali memaksa anak untuk bertanggung jawab lebih besar demi menjaga keseimbangan keluarga.

Dampak Parentification pada Anak

Anak yang mengalami parentification bisa tumbuh lebih dewasa sebelum waktunya, tetapi juga berisiko mengalami tekanan psikologis. Beban mental yang terlalu berat dapat mengganggu perkembangan emosi dan kemampuan sosial anak.

Contoh-Contoh Parentification dalam Kehidupan Sehari-hari

Parentification dapat terjadi dalam bentuk emosional maupun fungsional. Keduanya sama-sama berdampak pada kesejahteraan anak, meskipun wujudnya berbeda dalam aktivitas sehari-hari.

Parentification Emosional

Contoh yang sering ditemui adalah ketika anak dijadikan tempat curhat utama oleh orang tua mengenai masalah rumah tangga. Anak juga sering menjadi penenang atau pendengar setia ketika orang tua sedang stres.

Parentification Fungsional

Anak bisa saja harus mengasuh adik, memasak, atau mengatur keuangan keluarga ketika orang tua sibuk atau tidak mampu. Dalam kondisi ini, anak memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang tua.

Cara Mengidentifikasi Parentification pada Anak

Mengidentifikasi parentification penting agar orang tua bisa mengambil langkah pencegahan. Perhatikan perubahan perilaku anak yang tidak wajar untuk usianya.

Tanda dan Ciri Anak yang Mengalami Parentification

Beberapa tanda umum meliputi anak terlalu serius, mudah cemas, atau tampak selalu ingin menyenangkan orang tua. Kadang, anak juga lebih tertutup dan enggan bermain dengan teman seusianya.

Dampak Jangka Panjang Parentification

Jika berlangsung lama, parentification dapat memicu masalah psikologis seperti kecemasan, kesulitan membangun hubungan sosial, hingga rendahnya rasa percaya diri saat dewasa. Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel sumber sebelumnya, kondisi ini penting untuk dikenali dan ditangani melalui dukungan sosial, strategi koping, serta intervensi yang tepat agar anak tidak terbebani secara berlebihan.

Kesimpulan

Parentification menjadi isu penting di tengah dinamika keluarga modern. Bila tidak disadari, anak akan tumbuh dengan beban yang seharusnya bukan tanggung jawabnya. Kesadaran dan keterbukaan orang tua sangat diperlukan agar anak dapat berkembang sesuai usianya. Cegah parentification dengan membagi peran secara wajar dan menjaga komunikasi yang sehat di dalam keluarga.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri