Konten dari Pengguna

Pembelajaran Sosial-Kognitif: Definisi dan Contohnya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pembelajaran Sosial-Kognitif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pembelajaran Sosial-Kognitif. Gambar: Pexels.

Pembelajaran sosial-kognitif menjadi salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan saat ini. Model ini menekankan peran penting interaksi sosial dan proses berpikir dalam membentuk perilaku serta pengetahuan seseorang.

Apa Itu Pembelajaran Sosial-Kognitif?

Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) adalah sebuah istilah dalam teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Berdasarkan Jurnal Pendekatan Kognitif-Sosial Perspektif Albert Bandura pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Albert Bandura lahir pada tahun 1925 di Kanada dan menerima gelar doktor dalam bidang psikologi klinis dari University of Iowa; pola pikirnya dipengaruhi oleh buku Social Learning and Imitasi karya Miller dan Dollard (1941) (Muhammad Nurul Mubin, Bintang Muhammad Nur Ikhasan, & Khamim Zarkasi Putro, 2021). Nama baru "Teori Kognitif Sosial" mulai digunakan pada tahun 1970-an dan 1980-an (Mubin dkk., 2021).

Pengertian Menurut Teori Albert Bandura

Kognitif-sosial adalah sebuah gagasan yang menekankan bahwa mayoritas kegiatan belajar individu berlangsung di lingkungan sosial. Melalui kegiatan mengamati orang lain, individu akan mendapatkan pengalaman, norma, skill, strategi, kepercayaan, dan perilaku (Mubin dkk., 2021). Perilaku manusia merupakan akumulasi dari experience berupa keberhasilan dan kegagalan masa lalu, adanya persuasi sosial dari lingkungan sosial, keadaan emosi, serta pengalaman akan melihat model (vicarious experience) (Mubin dkk., 2021).

Reciprocal Determinism: Inti Teori Bandura

Determinan timbal balik (reciprocal determinism) adalah hipotesis penting dalam pendekatan pembelajaran sosial Albert Bandura. Perilaku manusia adalah hasil dari hubungan antara tiga variabel: tingkah laku (behaviour), individu (personal), dan lingkungan (environment) (Mubin dkk., 2021). Fungsi mental manusia merupakan produk interaksi antara ketiganya, dan tidak bisa ditinggalkan satu sama lain (Mubin dkk., 2021).

Karakteristik Pembelajaran Sosial-Kognitif

Hipotesis awal teori belajar sosial Bandura adalah bahwa manusia sangat lentur dan dapat menelaah pola tingkah laku orang lain; fokus pembelajaran ini adalah untuk menggantikan pengalaman langsung. Walaupun manusia mampu belajar dari pengalaman nyata, mereka belajar kecenderungan mayoritas dari mengamati perilaku orang lain (Mubin dkk., 2021). Bandura percaya bahwa observasi memberikan ruang untuk manusia terus menelaah sesuatu walaupun tidak melakukan apa pun (Mubin dkk., 2021).

Contoh Pembelajaran Sosial-Kognitif dalam Pendidikan

Penerapan pembelajaran sosial-kognitif sering ditemukan di kelas, khususnya saat guru menjadi teladan bagi murid.

Penerapan di Kelas Pendidikan Agama Islam

Proses pendekatan kognitif-sosial dapat diaplikasikan dalam Pendidikan Agama Islam, di mana guru menerapkan pembelajaran pendidikan agama dengan memerlukan role model atau sebuah contoh pada lingkungan sehingga bisa menstimulus siswa agar mencapai keberhasilan (Mubin dkk., 2021). Dalam Islam, teladan yang amat tinggi adalah Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi panutan dan teladan bagi umat Islam; oleh karena itu, penerapan teori kognisi sosial Bandura pada pendidikan Islam sangat tepat (Mubin dkk., 2021).

Empat Proses Pemodelan dalam Pembelajaran

Bandura menyampaikan bahwa penerapan pemodelan dalam pembelajaran memiliki empat proses yang saling berhubungan (Mubin dkk., 2021):

a. Proses Atensional (Perhatian): Individu perlu memberikan atensi khusus pada setiap perilaku atau tingkah laku model orang lain yang ditiru sehingga individu tersebut dapat bertindak seperti seorang model. Semakin fokus maka proses pembelajaran akan semakin efektif (Mubin dkk., 2021).

b. Proses Retensional (Pengingatan): Jika seorang individu lupa akan tingkah laku sang model, dia tidak akan mendapatkan pengaruh yang lebih dari tingkah laku sang model. Bandura percaya ada sebuah tahap ulet di mana pengetahuan disimpan menggunakan unsur simbolis melalui imajinasi dan bahasa (Mubin dkk., 2021).

c. Proses Pembentukan Perilaku: Proses penanaman perilaku menentukan sejauh mana apa yang telah dipelajari diubah menjadi tindakan atau kinerja. Sebelum siswa dapat mereproduksi model tindakan, diperlukan banyak latihan, umpan balik, dan bimbingan (Mubin dkk., 2021).

d. Proses Motivasional: Siswa harus terinspirasi untuk memberi contoh. Motivasi adalah adanya dorongan tertentu yang mendorong siswa untuk meniru, meliputi dorongan internal, eksternal, dan internal (Mubin dkk., 2021).

Manfaat dan Implikasi Pembelajaran Sosial-Kognitif

Siswa diharapkan mendapatkan pengetahuan melalui observasi yang berdampak pada tingkah laku sendiri maupun tingkah laku selain dirinya; pengetahuan yang didapatkannya dari pengamatan ini mampu diaplikasikan ke dalam berbagai keadaan (Mubin dkk., 2021). Aplikasi pengajaran yang melibatkan model, self-efficacy, contoh aplikasi, dan pembinaan serta bimbingan mencerminkan prinsip-prinsip kognisi sosial (Mubin dkk., 2021).

Kesimpulan dan Relevansi untuk Pendidikan Saat Ini

Fungsi mental manusia merupakan produk interaksi antara tingkah laku (behaviour), individu (kepribadian), dan lingkungan (environment); segitiga ini terus berhubungan dan bertimbal dalam mempengaruhi perkembangan seseorang individu, dan tidak bisa ditinggalkan satu sama lain (Mubin dkk., 2021). Ada empat proses pemodelan yang harus dilalui — Atensional, Retensional, Pembentukan Perilaku, dan Motivasional — jika itu terlaksana maka semakin efektif proses dalam pembelajaran (Mubin dkk., 2021).