Pengertian dan Proses Akuisisi Bahasa pada Anak
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemampuan bahasa adalah bagian penting dari perkembangan setiap anak. Proses bagaimana anak memahami dan menggunakan bahasa dikenal sebagai akuisisi bahasa.
Apa Itu Akuisisi Bahasa?
Akuisisi berasal dari bahasa Inggris "acquisition" yang berarti "perolehan" (Azwar Annas, 2019 dalam Akuisisi Bahasa Kedua pada Anak Usia 4-5 Tahun di RA Manafiul Ulum Kudus, mengutip Echols, 2005). Perolehan bahasa atau yang juga sering disebut akuisisi bahasa adalah suatu proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika dia memperoleh bahasa pertama atau bahasa ibunya (Annas, 2019, mengutip Chaer, 2009). Secara lebih luas, perolehan bahasa dapat didefinisikan sebagai sebuah proses penguasaan atau pembangunan bahasa yang dilakukan oleh anak-anak secara natural atau tidak disengaja pada bahasa pertama, kedua, dan seterusnya (Annas, 2019, mengutip Tarigan, 1986).
Perbedaan Akuisisi dan Pembelajaran Bahasa
Melihat dari penjelasan Chomsky sebagaimana dikutip Annas (2019), perolehan bahasa (acquisition language) diperuntukkan untuk bahasa ibu (bahasa pertama), sedangkan untuk bahasa kedua yang lebih cocok adalah sebutan pembelajaran bahasa (language learning). Menurut Stephen Krashen dalam Setiyadi (2013) sebagaimana dikutip Annas (2019), perolehan bahasa pertama dengan perolehan bahasa kedua hanya ada sedikit persamaan, yakni berujung pada penggunaan lingkungan pembelajaran bahasa — di lingkunganlah yang menjadi tempat di mana pelajar akan mengasah kemampuan dalam berkomunikasi.
Proses Akuisisi Bahasa Kedua: Reseptif dan Produktif
Dalam pemerolehan bahasa kedua terdapat dua proses: reseptif dan produktif. Proses reseptif bertalian dengan kemampuan pemahaman; proses produktif mengacu pada pengungkapan atau penerbitan kalimat (Annas, 2019).
Menurut Permendiknas No. 58 tahun 2009 sebagaimana dikutip Annas (2019), tingkat pencapaian perkembangan bahasa anak usia 4–5 tahun meliputi: (1) reseptif — menyimak perkataan orang lain, mengerti dua perintah yang diberikan bersamaan, memahami cerita yang dibacakan, mengenali perbendaharaan kata sifat; dan (2) produktif — mengulang kalimat sederhana, menjawab pertanyaan sederhana, mengungkapkan perasaan dengan kata sifat, menyebutkan kata yang dikenal, mengutarakan pendapat kepada orang lain.
Faktor yang Mempengaruhi Akuisisi Bahasa Kedua
Faktor yang mempengaruhi perolehan bahasa kedua dapat dibagi menjadi tiga kategori besar: faktor personal (usia, ciri psikologis, sikap, motivasi, strategi pembelajaran), faktor situasional (situasi, pendekatan pengajar, karakteristik guru), dan aspek linguistik (perbedaan antara bahasa pertama dengan bahasa kedua) (Annas, 2019, mengutip Ghozali, 2010).
Usia — Usia anak-anak dan orang dewasa sangat berpengaruh dalam pemerolehan bahasa kedua. Usia dini merupakan periode perkembangan yang sangat penting; para ahli menamakan periode ini sebagai usia emas (golden age). Usia yang tepat dalam belajar bahasa kedua adalah pada usia kritis, yakni saat anak berusia di bawah 15 tahun (Annas, 2019).
Lingkungan — Lingkungan adalah semua hal yang didengar dan dilihat oleh pelajar sehubungan bahasa kedua yang dipelajari. Lingkungan formal adalah lingkungan dalam belajar bahasa yang menfokuskan pada kaidah-kaidah bahasa yang dipelajari secara sadar, biasanya dalam kelas. Sedangkan lingkungan informal adalah lingkungan belajar yang tidak terbatasi oleh ruang, waktu, dan tempat — bersifat natural/alami, mencakup bahasa yang digunakan teman sebaya, orang tua, dan kelompok pelajar (Annas, 2019).
Studi Akuisisi Bahasa Kedua di RA Manafiul Ulum Kudus
Di RA Manafiul Ulum Kudus, semua siswa kelas A.3 merupakan keturunan suku Jawa, yang berarti bahasa pertama mereka adalah bahasa Jawa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua bagi mereka — perbedaan fonologi, morfologi, dan sintaks antara kedua bahasa inilah yang mengakibatkan siswa kesulitan dalam mengungkapkan kata maupun kalimat dalam bahasa Indonesia (Annas, 2019).
Guru RA Manafiul Ulum menggunakan metode Tematik dengan berbagai teknik pembelajaran atraktif, antara lain: bercerita, berkebun, gambar berseri, dan permainan bahasa — untuk mengembangkan kedua proses berbahasa (reseptif dan produktif) pada anak usia 4–5 tahun (Annas, 2019).
Kesimpulan
Pemerolehan bahasa kedua dapat dibedakan menjadi dua karakteristik: reseptif (mengarah kepada pemahaman) dan produktif (mengarah kepada kemampuan menerbitkan atau mengeluarkan kalimat). Faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam pemerolehan bahasa kedua pada anak usia dini adalah usia dan lingkungan berbahasa; faktor penghambat utama adalah tingginya frekuensi penggunaan bahasa ibu di lingkungan rumah (Annas, 2019).