Konten dari Pengguna

Penghargaan Positif Tak Bersyarat: Pengertian dan Contoh

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penghargaan Positif Tak Bersyarat. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penghargaan Positif Tak Bersyarat. Gambar: Pexels.

Penghargaan positif tak bersyarat merupakan salah satu konsep penting dalam psikologi humanistik yang banyak diperbincangkan. Istilah ini menekankan pada penerimaan tanpa syarat terhadap individu, baik oleh keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar.

Apa Itu Penghargaan Positif Tak Bersyarat?

Menurut Rogers, setiap manusia pada dasarnya memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan sikap-sikap positif seperti kehangatan, penghormatan, penghargaan, cinta, dan penerimaan dari orang-orang terdekat dalam hidupnya (Lia Amalia, 2013 dalam Menjelajahi Diri dengan Teori Kepribadian Carl R. Rogers.). Kebutuhan ini terbagi menjadi dua: conditional positive regard (penghargaan positif bersyarat) dan unconditional positive regard (penghargaan positif tak bersyarat) (Amalia, 2013). Ada tiga elemen penting dalam perkembangan konsep diri yaitu kebutuhan akan penghargaan positif (need for positive regard), penghargaan bersyarat (conditional positive regard), dan penghargaan tanpa syarat (unconditional positive regard) (Amalia, 2013, mengutip Hjelle & Ziegler, 1981:410).

Definisi Penghargaan Positif Tak Bersyarat

Penghargaan positif tak bersyarat berarti bahwa seseorang dapat diterima, dihargai, dicintai apa adanya tanpa ada syarat, alasan, catatan atau pengecualian apa pun, hanya karena ia apa adanya (Amalia, 2013). Seperti cinta seorang ibu pada anaknya: tak peduli apa yang dilakukan, dipikirkan, atau dirasakan sang anak, ia akan tetap dicintai dan dihargai — ibu mencintai anaknya tanpa alasan, bukan karena sang anak memenuhi kriteria atau standar tertentu (Amalia, 2013).

Perbedaan dengan Penghargaan Bersyarat

Dalam penghargaan bersyarat, anak melihat bahwa ia mendapat penghargaan positif hanya jika ia berperilaku sesuai dengan harapan orang lain (Amalia, 2013). Contoh dari penghargaan positif bersyarat antara lain: seorang ayah yang memberikan hadiah saat anaknya mendapatkan ranking satu, seorang guru memberikan poin bintang pada murid yang mampu menjawab soal, atau seorang atasan yang memberikan bonus pada karyawan yang berprestasi (Amalia, 2013). Bagi Rogers, kondisi seperti ini akan menghambat anak untuk berkembang menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya (fully functioning person) karena anak lebih berusaha untuk mencapai standar yang ditetapkan orang lain daripada memahami dan menemukan menjadi manusia seperti apa yang ia inginkan (Amalia, 2013).

Contoh Penghargaan Positif Tak Bersyarat

Penghargaan positif tak bersyarat dapat ditemukan di berbagai situasi, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial.

Di Lingkungan Keluarga

Rogers menekankan pentingnya penghargaan positif tak bersyarat sebagai pendekatan ideal dalam mengasuh anak — bukan berarti meniadakan disiplin, aturan-aturan sosial, atau bentuk-bentuk lain dari pembentukan perilaku, melainkan menciptakan atmosfer di mana anak merasa dihargai dan dicintai semata-mata karena ia adalah manusia yang berharga (Amalia, 2013). Seorang ayah atau seorang ibu tetap mencintai anak-anaknya meskipun mereka melakukan kesalahan-kesalahan (Amalia, 2013).

Di Lingkungan Sekolah

Di lingkungan pendidikan, penghargaan positif tak bersyarat dapat diwujudkan melalui guru yang mendorong murid untuk berkembang tanpa menghakimi saat melakukan kesalahan. Ini menciptakan atmosfer nyaman dan aman bagi anak dalam proses belajar.

Dampak Positif

Jika seorang anak menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya, di mana ia akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya (Amalia, 2013).

Manfaat bagi Kesehatan Mental: Manusia yang Berfungsi Sepenuhnya

Rogers menggambarkan karakteristik fully functioning person yang berkembang dari penghargaan positif tak bersyarat, antara lain: (1) meningkatnya keterbukaan terhadap pengalaman; (2) kecenderungan terhadap hidup yang eksistensial; (3) meningkatnya kepercayaan pada organisme diri sendiri; (4) kebebasan memilih; (5) kreativitas; dan (6) kehidupan yang kaya warna (Amalia, 2013).

Biografi Singkat Carl R. Rogers

Carl Ransom Rogers lahir pada 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois, Amerika Serikat. Ia meraih gelar doktor dari Teachers College of Columbia University pada tahun 1931 dan pernah menjadi presiden American Psychological Association pada tahun 1946–1947 (Amalia, 2013). Rogers mencetuskan teknik terapi yang berpusat pada klien atau pribadi (client-centered therapy) yang ia kembangkan secara terus-menerus di berbagai tempat kerjanya (Amalia, 2013).

Kesimpulan

Penghargaan positif tak bersyarat merupakan kunci penting dalam membentuk kepribadian yang sehat. Berdasarkan pengalaman klinisnya, Rogers sampai pada kesimpulan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat sebuah inti yang secara esensial memiliki tujuan, bergerak maju, konstruktif, realistis, dan dapat diandalkan (Amalia, 2013). Rogers percaya bahwa manusia mempunyai kecenderungan bawaan untuk mengaktualisasi diri yang apabila dibebaskan menyebabkan manusia berusaha untuk kesempurnaan dirinya (Amalia, 2013).