Konten dari Pengguna

Penyebab dan Dampak Kecanduan Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kecanduan Media Sosial. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kecanduan Media Sosial. Gambar: Pexels.

Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir layar, membagikan aktivitas, hingga berinteraksi secara virtual. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat memicu kecanduan media sosial dan membawa dampak nyata bagi kesehatan mental serta hubungan sosial.

Memahami Kecanduan Media Sosial

Kecanduan media sosial sering kali terjadi tanpa disadari. Menurut Pengaruh Kecanduan Media Sosial terhadap Kelelahan Media Sosial Dimediasi Rasa Iri: Studi pada Pengguna Instagram di Kota Malang oleh Muhammad Miqdad Badruddin (2025) — judul ini menunjukkan bahwa rasa iri bukan sekadar faktor pendukung, melainkan variabel mediator utama yang diuji dalam penelitian tersebut.

Definisi Kecanduan Media Sosial

Kecanduan media sosial merujuk pada kondisi di mana seseorang merasa sulit mengontrol keinginan untuk terus menggunakan media sosial. Aktivitas ini bisa mengganggu kegiatan sehari-hari, bahkan membuat individu menunda pekerjaan atau kewajiban penting lainnya.

Ciri-ciri Kecanduan Media Sosial

Beberapa ciri umum antara lain selalu ingin memeriksa notifikasi, merasa gelisah jika tidak bisa online, dan menghabiskan waktu terlalu lama di aplikasi sosial. Selain itu, perasaan kehilangan atau takut tertinggal informasi juga sering muncul.

Penyebab Kecanduan Media Sosial

Banyak faktor yang mendorong seseorang menjadi kecanduan media sosial. Setiap individu mungkin memiliki pemicu berbeda, namun ada pola umum yang kerap ditemui.

Faktor Psikologis yang Mempengaruhi

Kebutuhan akan pengakuan, keinginan diterima dalam kelompok, atau rasa ingin tahu berlebihan menjadi faktor utama. Seseorang juga bisa terdorong mencari hiburan karena stres atau kebosanan.

Peran Fitur Media Sosial dalam Menimbulkan Kecanduan

Desain aplikasi yang interaktif, fitur notifikasi real-time, dan konten yang terus diperbarui membuat pengguna betah berlama-lama. Algoritma media sosial memang dirancang agar pengguna semakin terlibat.

Studi Pengguna Instagram di Kota Malang

Penelitian Badruddin (2025) menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 230 pengguna Instagram di Kota Malang. Penelitian ini secara spesifik menguji dugaan bahwa kecanduan terhadap Instagram berkontribusi terhadap kejenuhan digital melalui pengalaman afektif negatif seperti rasa iri, yang muncul akibat perbandingan sosial (social comparison) — bukan sekadar "keinginan membandingkan diri" secara umum, melainkan dikaji sebagai mekanisme psikologis yang terukur secara statistik.

Dampak Kecanduan Media Sosial

Kecanduan media sosial tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tapi juga memengaruhi relasi sosial dan produktivitas.

Dampak Psikologis

Penggunaan berlebihan bisa menimbulkan rasa cemas, stres, hingga menurunkan rasa percaya diri. Sering kali, kecanduan juga berkaitan dengan munculnya perasaan iri terhadap kehidupan orang lain di media sosial.

Dampak Sosial dan Interpersonal

Interaksi tatap muka berkurang karena waktu lebih banyak dihabiskan di dunia virtual. Hubungan dengan keluarga maupun teman bisa menjadi renggang akibat fokus yang teralihkan.

Kelelahan Media Sosial (Social Media Fatigue) dan Peran Rasa Iri sebagai Mediator

Penelitian Badruddin (2025) menemukan bahwa: (1) kecanduan Instagram berpengaruh signifikan terhadap kejenuhan (kelelahan media sosial); (2) kecanduan dan rasa iri secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kejenuhan; (3) kecanduan berpengaruh signifikan terhadap rasa iri; dan (4) rasa iri memediasi secara parsial hubungan antara kecanduan dan kejenuhan. Temuan ini menegaskan bahwa rasa iri berperan sebagai mediator kognitif-afektif yang menjembatani perilaku adiktif dengan kejenuhan psikologis pengguna — bukan sekadar faktor yang "memperparah kondisi" seperti disebutkan sebelumnya, melainkan jalur psikologis yang secara statistik menghubungkan kecanduan dengan kelelahan digital.

Rangkuman Temuan dari Skripsi UIN Malang

Penelitian Badruddin (2025) menegaskan pentingnya memahami dinamika emosional dalam penggunaan media sosial, sekaligus menekankan peran rasa iri sebagai mediator kognitif-afektif antara perilaku adiktif dan kejenuhan psikologis. Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup perlunya pengembangan literasi digital yang berfokus pada kesadaran emosional, serta intervensi berbasis psikologi untuk mengurangi dampak negatif media sosial terhadap kesejahteraan mental pengguna.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Kecanduan media sosial dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan mental, terutama jika tidak disadari sejak dini. Kesadaran diri penting agar pengguna bisa mengatur waktu dan aktivitas secara seimbang.

Pentingnya Kesadaran akan Risiko Kecanduan

Berdasarkan temuan Badruddin (2025), memahami peran emosi seperti rasa iri dalam siklus kecanduan media sosial menjadi kunci penting bagi upaya pencegahan — bukan hanya membatasi durasi penggunaan, tetapi juga mengelola respons emosional terhadap konten yang dilihat.

Saran untuk Pengguna Aktif Media Sosial

Bagi pengguna aktif, sebaiknya batasi waktu online dan pilih konten yang positif. Jika diperlukan, lakukan detoks digital agar hubungan sosial tetap terjaga dan kesehatan mental tetap stabil.