Perasaan Adalah: Pengertian, Perbedaan dengan Emosi, dan Contohnya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perasaan sering kali menjadi bagian penting dalam pengalaman sehari-hari. Banyak orang menggunakan istilah ini, namun tidak selalu memahami makna dan perbedaannya dengan emosi. Artikel ini akan membahas apa yang dimaksud dengan perasaan, bagaimana perasaan berbeda dari emosi, serta mengapa pemahaman ini penting untuk keseharian.
Apa yang Dimaksud dengan Perasaan?
Perasaan adalah bagian dari pengalaman batin manusia yang berhubungan dengan interpretasi pribadi terhadap suatu kejadian atau stimulus. Menurut Rachel Allyn, Ph.D., dalam The Important Difference Between Emotions and Feelings (2022), emosi berasal dari sensasi dalam tubuh, sedangkan perasaan dipengaruhi oleh emosi tersebut namun dihasilkan dari pikiran mental kita. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan tidak sekadar muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh pikiran dan pengalaman hidup seseorang.
Pengertian Perasaan Menurut Psikologi
Dalam psikologi, perasaan dianggap sebagai respons yang lebih halus dan bersifat pribadi. Perasaan terkait erat dengan cara seseorang memaknai suatu peristiwa yang terjadi di sekitarnya, sehingga bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain. Allyn (2022) memberikan contoh: seseorang mungkin merasakan sensasi tidak nyaman di pesta — perut mengencang, napas terasa sesak — lalu pikirannya melabeli sensasi itu sebagai rasa canggung karena tidak mengenal banyak orang di sana; sementara orang lain dengan sensasi tubuh yang sama mungkin melabelinya sebagai rasa senang karena bisa bertemu orang baru. Ini menunjukkan bagaimana perasaan bisa sangat berbeda antarindividu meski menghadapi situasi emosional yang serupa.
Karakteristik Utama Perasaan
Perbedaan utama antara perasaan dan emosi menurut Allyn (2022) bukanlah soal durasi, melainkan soal asal-usulnya: emosi berasal dari sensasi tubuh (data mentah, reaksi terhadap realitas saat ini), sedangkan perasaan bisa "terdilusi" oleh cerita-cerita yang kita buat dalam pikiran berdasarkan peristiwa masa lalu atau ketakutan akan masa depan — belum tentu mencerminkan kebenaran situasi yang sesungguhnya. Beberapa karakteristik penting dari perasaan antara lain bersifat subjektif dan sering kali tidak langsung terlihat secara fisik. Perasaan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, nilai pribadi, serta lingkungan sosial.
Contoh Perasaan dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh perasaan yang sering dirasakan dalam keseharian meliputi rasa bahagia, sedih, cemas, dan tenang. Setiap individu bisa merasakan perasaan yang berbeda walaupun menghadapi situasi yang sama — sebagaimana dicontohkan Allyn (2022): seorang perundung (bully) mungkin merespons ancaman emosional dengan perasaan marah karena terasa memberdayakan, sementara melabeli ancaman itu sebagai "takut" terasa terlalu rentan baginya; sebaliknya, orang yang bukan perundung mungkin merespons dengan perasaan terintimidasi.
Perbedaan Perasaan dan Emosi
Meski sering dianggap serupa, perasaan dan emosi memiliki perbedaan mendasar menurut Allyn (2022) — meskipun kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian oleh masyarakat awam. Emosi biasanya muncul secara spontan sebagai reaksi terhadap situasi tertentu, sedangkan perasaan adalah interpretasi dari emosi tersebut. Perlu dicatat bahwa Paul C. Holinger, M.D., dalam What Are Feelings? (Psychology Today, 2016), justru menggunakan istilah perasaan (feelings), emosi (emotions), dan afek (affect) secara bergantian untuk makna sehari-hari, karena literatur ilmiah tentang topik ini sangat beragam dan belum ada konsensus tunggal mengenai definisinya.
Definisi Emosi Secara Psikologi
Emosi adalah reaksi tubuh terhadap rangsangan, seperti rasa takut saat menghadapi bahaya. Menurut Allyn (2022), emosi merupakan data mentah (raw data) yang menjadi reaksi terhadap realitas saat ini. Emosi terjadi lebih cepat dan melibatkan perubahan fisik — Holinger (2016) mencontohkan bahwa rasa malu sering kali disertai sensasi panas di wajah dan wajah yang memerah (blushing), sementara kekecewaan besar sering terasa di ulu hati, dan kehilangan sering menimbulkan perasaan sedih yang terasa secara fisik.
Perbandingan Antara Perasaan dan Emosi
Perasaan berkembang setelah emosi muncul dan dipengaruhi olehnya. Jika emosi merupakan reaksi awal yang berasal dari tubuh, maka perasaan adalah proses lanjutan yang dihasilkan dari pikiran dan dipengaruhi oleh pengalaman (Allyn, 2022). Holinger (2016) menambahkan perspektif perkembangan: menurut psikoanalis Michael Basch (1983, dikutip dalam Holinger), kapasitas untuk memiliki "perasaan" (dalam pengertian teknis yang melibatkan simbolisasi, refleksi diri, dan penalaran) baru berkembang sekitar usia 18–24 bulan, sementara "afek" (affect) merujuk pada delapan atau sembilan reaksi somatik bawaan yang sudah ada sejak bayi lahir (Tomkins, dikutip dalam Holinger, 2016). Ini membuat perasaan lebih unik pada setiap individu, karena semakin berkembang seiring bertambahnya kesadaran diri dan penalaran seseorang.
Mengapa Memahami Perbedaan Ini Penting?
Pemahaman tentang perbedaan perasaan dan emosi membantu seseorang mengenali reaksinya sendiri. Menurut Allyn (2022), mengenali dan merespons emosi merupakan cara yang indah untuk melatih kemampuan mengambil kendali atas diri sendiri (self-agency) — begitu seseorang memahami apa yang dikatakan emosinya, ia bisa langsung kembali ke sumbernya dalam tubuh untuk tetap seimbang, misalnya melalui praktik menenangkan diri seperti latihan pernapasan, melepaskan ketegangan lewat gerakan, atau memeluk diri sendiri maupun orang lain. Dengan begitu, kita bisa merespons situasi secara lebih bijak dan tidak mudah terbawa suasana.
Kesimpulan dan Pentingnya Memahami Perasaan
Memahami perasaan adalah langkah awal untuk mengenali diri dan menjaga kesehatan mental. Dengan membedakan antara perasaan dan emosi, seseorang dapat lebih mudah mengelola reaksi dalam menghadapi berbagai situasi. Seperti dijelaskan Allyn (2022), mengembangkan kesadaran emosional dapat membantu mencegah reaktivitas dan keyakinan-keyakinan yang keliru — caranya dapat dimulai dengan menghubungkan diri dengan sensasi tubuh, memberi nama pada perasaan yang muncul, lalu bernapas dan mengakui perasaan tersebut sebagai bentuk kebaikan pada diri sendiri sekaligus cara meregulasi sistem saraf. Pengetahuan ini memberi ruang bagi setiap orang untuk bertindak lebih sadar dan sehat secara emosional.