Perbedaan Growth dan Fixed Mindset: Ciri-ciri Orang dengan Growth Mindset
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki cara berbeda dalam memandang kemampuan diri dan menghadapi tantangan. Ada yang meyakini bakat itu bawaan lahir, ada juga yang percaya kemampuan bisa terus diasah. Pola pikir inilah yang dikenal sebagai growth mindset dan fixed mindset — dua konsep yang banyak dibahas dalam pengembangan diri dan psikologi pendidikan.
Pengertian Growth Mindset dan Fixed Mindset
Menurut buku Growth Mindset Perspektif Islam karya Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M. dan Dr. H. Fauzan, S.Pd., M.Si (2025), konsep growth mindset diperkenalkan oleh psikolog Carol S. Dweck dari Stanford University. Menurut Dweck (2006), growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang dapat berkembang melalui upaya, pembelajaran, dan ketekunan. Dalam growth mindset, kegagalan dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai batasan kemampuan.
Sebaliknya, Hepni dan Fauzan (2025) menjelaskan bahwa fixed mindset adalah pola pikir yang percaya bahwa kecerdasan, kemampuan, dan bakat seseorang bersifat tetap dan tidak dapat berubah secara signifikan (Dweck, 2006). Orang dengan pola pikir ini sering kali merasa takut gagal, menghindari tantangan, dan sulit menerima kritik karena menganggap hal tersebut sebagai ancaman terhadap identitas atau harga diri mereka.
Pandangan Growth Mindset dalam Perspektif Islam
Hepni dan Fauzan (2025) menegaskan bahwa growth mindset memiliki keselarasan yang erat dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran individu untuk berkembang, yang menjadi inti dari pola pikir bertumbuh. Islam juga mengajarkan: "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39) — yang menegaskan bahwa usaha adalah kunci dari keberhasilan.
Perbedaan Utama Growth Mindset dan Fixed Mindset
Hepni dan Fauzan (2025) merangkum perbedaan kedua pola pikir ini sebagai berikut:
Orang dengan fixed mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang tetap dan bawaan sejak lahir. Mereka cenderung menghindari tantangan karena takut gagal, menganggap kegagalan sebagai tanda kurangnya kemampuan, dan fokus untuk membuktikan diri. Ketika menerima kritik, mereka sering merasa terancam atau mengabaikannya.
Sebaliknya, individu dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan pembelajaran. Mereka melihat tantangan sebagai peluang untuk tumbuh, menganggap kegagalan sebagai kesempatan belajar, dan berfokus pada proses pengembangan diri. Kritik diterima sebagai masukan berharga untuk perbaikan
Cara Berpikir terhadap Tantangan
Hepni dan Fauzan (2025) menjelaskan bahwa orang dengan growth mindset justru melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mereka lebih tangguh menghadapi kegagalan, karena fokus mereka adalah pada proses belajar, bukan pada hasil akhir (Yeager & Dweck, 2012). Sebaliknya, orang dengan fixed mindset cenderung menghindari tantangan dan takut gagal karena menganggapnya sebagai tanda kurangnya kemampuan.
Respons terhadap Kegagalan dan Umpan Balik
Hepni dan Fauzan (2025) menjelaskan bahwa dalam growth mindset, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian penting dari proses pembelajaran — memberikan kesempatan untuk mengevaluasi kelemahan, mencari solusi, dan meningkatkan performa di masa depan. Sebaliknya, orang dengan fixed mindset sering merasa bahwa kritik adalah serangan terhadap diri mereka, bukan masukan untuk berkembang, dan kegagalan dianggap sebagai bukti ketidakmampuan.
Dampak pada Perkembangan Pribadi
Hepni dan Fauzan (2025), mengutip Schleider dan Weisz (2016), menyebutkan bahwa orang yang percaya bahwa mereka dapat mengubah situasi sulit melalui usaha cenderung memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah. Sebaliknya, fixed mindset membuat seseorang mudah menyerah, sulit berkembang, dan terjebak dalam stagnasi karier maupun personal.
Ciri-ciri Orang dengan Growth Mindset
Berdasarkan Hepni dan Fauzan (2025), beberapa ciri utama individu dengan growth mindset meliputi: (1) melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar dan batu loncatan menuju keberhasilan; (2) terbuka terhadap kritik konstruktif dan menggunakannya untuk berkembang; (3) konsisten dalam berusaha, dengan motivasi intrinsik yang lebih tinggi karena memandang usaha sebagai jalan untuk berkembang; (4) berani keluar dari zona nyaman dan mencari tantangan sebagai kesempatan untuk belajar; (5) fokus pada proses belajar daripada hanya hasil akhir; (6) menggunakan self-talk positif, misalnya mengubah kalimat "Saya tidak bisa" menjadi "Saya belum bisa" (prinsip not yet); serta (7) melakukan refleksi diri (muhasabah) secara teratur untuk mengevaluasi kemajuan dan mengenali area yang perlu diperbaiki.
Contoh Sikap Growth Mindset dalam Kehidupan Sehari-hari
Hepni dan Fauzan (2025) menjelaskan bahwa dalam pendidikan, siswa dengan growth mindset lebih tekun, kreatif, dan tidak takut mencoba hal baru — mereka lebih mungkin meningkatkan prestasi akademik karena percaya pada proses belajar. Dalam karier, karyawan dengan growth mindset lebih proaktif, terbuka terhadap umpan balik, dan mampu menghadapi tantangan dengan cara yang positif (Dweck, 2014). Dalam kehidupan sosial, pola pikir ini membantu individu menerima perbedaan, membangun hubungan yang konstruktif, dan mengelola konflik dengan lebih baik.
Dasar Psikologis Growth Mindset
Hepni dan Fauzan (2025) menjelaskan bahwa growth mindset memiliki dasar yang kuat dalam ilmu psikologi, khususnya dalam konsep neuroplastisitas — yaitu kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sebagai respons terhadap pengalaman baru dan latihan (Draganski et al., 2004). Penelitian ilmu saraf menunjukkan bahwa otak manusia dapat membentuk jalur baru dan menguatkan sinapsis sepanjang hidup seseorang, memberikan dukungan biologis bahwa kemampuan memang dapat dikembangkan. Konsep growth mindset juga didukung oleh teori self-efficacy Albert Bandura — keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk mencapai tujuan — serta teori grit Angela Duckworth yang menekankan kombinasi ketekunan dan hasrat jangka panjang sebagai kunci keberhasilan.
Kesimpulan
Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus belajar dan berkembang melalui usaha, ketekunan, dan pembelajaran dari kegagalan. Dibandingkan dengan fixed mindset, growth mindset membawa lebih banyak manfaat — mulai dari ketahanan mental yang lebih tinggi, motivasi intrinsik yang lebih kuat, hingga kesehatan mental yang lebih baik. Dalam perspektif Islam, growth mindset selaras dengan nilai-nilai ikhtiar, sabar, muhasabah, dan tawakal. Dengan memahami dan menerapkan growth mindset, setiap orang dapat membuka peluang belajar yang lebih luas dan meraih kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan.