Konten dari Pengguna

Perilaku Pasif: Pengertian dan Ciri-Cirinya dalam Konteks Perilaku Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perilaku Pasif. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perilaku Pasif. Gambar: Pexels.

Setiap orang memiliki karakter unik yang membentuk pola interaksi mereka sehari-hari. Salah satu pola yang perlu dipahami adalah perilaku pasif — bukan sebagai "tipe kepribadian" tersendiri, melainkan sebagai salah satu dari tiga klasifikasi perilaku sosial (bersama perilaku asertif dan agresif). Pola ini dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi situasi sosial dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

Apa Itu Perilaku Pasif?

Menurut Ferantika Nuratmasari dalam skripsinya Hubungan Antara Interaksi dalam Keluarga dengan Perilaku Sosial pada Remaja SMU Negeri 1 Ciputat (2007), perilaku pasif adalah perilaku di mana individu tidak berani mengungkapkan keinginan dan pendapatnya sendiri, tidak ingin terjadi konflik karena takut akan tidak disukai atau menyakiti perasaan orang lain, sehingga individu tersebut hanya menerima pandangan-pandangan dan harapan-harapan orang lain. Nuratmasari (2007) mengutip Diana Cawood (1997) yang menjelaskan bahwa perilaku pasif yaitu di mana individu hanya menerima pandangan-pandangan dan harapan setiap orang, tidak menegaskan opini diri sendiri atau hak-haknya sendiri.

Ciri-Ciri Perilaku Pasif

Berikut merupakan ciri-ciri seseorang dengan perilaku pasif.

Ciri-Ciri Menurut Diana Cawood

Nuratmasari (2007), mengutip Cawood (1997), merinci ciri-ciri perilaku pasif meliputi: (a) lari dari masalah dan menganggap bahwa mengemukakan keinginan atau ide bukanlah hal yang tepat; (b) mereka lebih ingin menyenangkan orang lain daripada diri mereka sendiri; (c) sering merasa cemas, kecewa pada diri sendiri; (d) tipe perilaku ini sering menyebabkan orang lain merasa bersalah atau malah merasa superior; (e) menghindari kontak mata, menutup mulut dan tangan dan berbicara dengan suara minta diperhatikan atau dikasihani.

Aspek-Aspek Pembeda Menurut Kelley

Nuratmasari (2007) juga mengutip Kelley (dalam Lukmanasari, 2004) yang membedakan perilaku pasif, asertif, dan agresif melalui tiga aspek: (a) aspek emosi — orang yang pasif cenderung akan memendam perasaan, ketegangan-ketegangan, dan mengalami emosi-emosi seperti takut, rasa bersalah, tertekan, atau gugup, di mana perasaannya tidak diungkapkan secara verbal; (b) aspek tingkah laku — respon orang yang pasif cenderung bersifat menghambat diri dan tergantung (dependen), menghindar dari situasi yang dihadapi, biasanya diikuti dengan tatapan mata ke bawah, sikap tubuh yang membungkuk, nada suara yang pelan dan ragu-ragu; (c) aspek bahasa verbal — pada orang yang pasif pengucapan kata-kata tidak tentu dan ragu-ragu.

Perbandingan dengan Perilaku Asertif dan Agresif

Nuratmasari (2007), mengutip Cawood (1997), juga membandingkan perilaku pasif dengan dua pola lainnya: dari segi pesan, perilaku pasif menyampaikan "kamu benar, yang kupikirkan tidak penting, perasaanku tidak penting"; dari segi tujuan, perilaku pasif bertujuan menghindari konflik; dari segi suara, suara lemah dan ragu-ragu; dari segi tubuh, postur meringkuk, meremas-remas jari, gelisah, kepala sering menunduk; dan dari segi hasil, hormat diri direndahkan, kebutuhan tidak terpenuhi, sering tersinggung dan cemas, serta tidak ada kemajuan dalam masalah-masalah nyata.

Hubungan Interaksi Keluarga dengan Perilaku Sosial: Temuan Penelitian

Penting untuk dicatat bahwa penelitian Nuratmasari (2007) di SMU Negeri 1 Ciputat menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara interaksi dalam keluarga dengan perilaku sosial pada remaja (Pearson chi-square = 2,089; p = 0,352 > 0,05; H₀ diterima). Artinya, perilaku sosial seorang remaja tidak selalu dipengaruhi oleh interaksi dalam keluarganya; ada faktor-faktor lain yang memengaruhi perilaku sosial seorang remaja. Lebih menarik lagi, dari 90 responden dalam penelitian ini, seluruhnya tergolong asertif (82 orang) atau agresif (8 orang) — tidak ada satupun yang berperilaku pasif. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku pasif tidak selalu muncul meskipun ada variasi dalam kualitas interaksi keluarga.

Faktor yang Memengaruhi Perilaku Sosial Remaja

Nuratmasari (2007), mengutip Gerungan (2004), menjelaskan bahwa pengalaman-pengalaman berinteraksi individu dalam keluarga akan turut menentukan dan memengaruhi pola tingkah laku individu terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarganya. Namun, berdasarkan model socio-ecological, faktor-faktor lain seperti rekan sebaya, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat juga berperan penting. Skala interaksi dalam keluarga yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori Mussen (1989) yang terdiri atas keeratan hubungan antar anggota keluarga, komunikasi antar anggota keluarga, dan pola asuh orang tua.

Kesimpulan

Perilaku pasif adalah pola perilaku sosial yang ditandai dengan kecenderungan memendam perasaan, menghindari konflik, dan jarang mengekspresikan keinginan pribadi. Ciri-ciri ini dapat dikenali melalui aspek emosi, tingkah laku, dan bahasa verbal. Meskipun interaksi keluarga sering dianggap sebagai faktor penentu, penelitian Nuratmasari (2007) menemukan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik — dan bahkan seluruh responden remaja menunjukkan perilaku asertif atau agresif, bukan pasif. Ini menunjukkan bahwa pembentukan perilaku sosial remaja dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lebih kompleks dan beragam.