Konten dari Pengguna

Pluralistic Ignorance: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pluralistic Ignorance. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pluralistic Ignorance. Foto Unsplash.

Pluralistic ignorance sering muncul diam-diam dalam dinamika kelompok, mulai dari kelas kuliah sampai ruang rapat. Banyak orang sebenarnya tidak setuju dengan suatu sikap, namun merasa dirinya minoritas karena melihat orang lain tampak menerima. Kondisi ini bisa membentuk keputusan bersama yang terasa janggal, tetapi sulit dijelaskan.

Apa Itu Pluralistic Ignorance?

Secara sederhana, pluralistic ignorance adalah situasi ketika keyakinan pribadi seseorang berbeda dengan apa yang ia kira diyakini mayoritas.

Menurut Alcindo Mendes, Ernesto Lopez-Valeiras, dan Rogerio Joao Lunkes dalam artikel jurnal ilmiah berbentuk integrative review berjudul “Pluralistic ignorance: Conceptual framework, antecedents and consequences” yang diterbitkan di Intangible Capital pada 2017, pluralistic ignorance terjadi ketika seseorang menunjukkan sikap publik yang berbeda dari keyakinan pribadinya karena keliru mengira mayoritas orang lain memiliki pendapat yang berlawanan. Artikel ini menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat terbentuk melalui kesalahan dalam menilai norma sosial, terutama ketika ada perbedaan antara norma objektif dan norma yang dipersepsikan.

Di tempat kerja, karyawan mungkin menganggap aturan tertentu tidak efektif, namun semua tetap mengangguk saat rapat karena menyangka rekan lain setuju. Sementara itu, di komunitas, anggota bisa merasa tidak nyaman dengan kebiasaan tertentu, tetapi memilih mengikuti karena takut dianggap aneh. Pluralistic ignorance menjadi penting dipahami karena menyentuh cara kelompok membentuk kesepakatan dan mengambil keputusan.

Kerangka Konseptual Pluralistic Ignorance

Kerangka konseptual pluralistic ignorance melihat dua level yang saling terkait. Di level individu, setiap orang punya keyakinan pribadi, misalnya merasa suatu perilaku tidak tepat. Di level sosial, individu menebak apa yang dianggap “normal” oleh kelompok berdasarkan ekspresi publik orang lain.

Ketika tebakan ini keliru, terbentuk kesenjangan antara apa yang diyakini secara pribadi dan apa yang dianggap sebagai norma bersama. Mendes menjelaskan bahwa kesenjangan ini bisa bertahan lama karena setiap orang saling membaca ekspresi luar, bukan isi pikiran. Akibatnya, mispersepsi kolektif terus hidup dan memengaruhi perilaku kelompok.

Faktor Penyebab Pluralistic Ignorance

Ada beberapa sumber kesalahan persepsi yang sering muncul. Pertama, tekanan untuk konformitas membuat orang cenderung menyesuaikan diri dengan apa yang tampak menjadi arus utama, meski hati kecil menolak. Kedua, kurangnya komunikasi jujur dalam kelompok, misalnya tidak ada ruang aman untuk menyampaikan ketidaksetujuan.

Selain itu, orang sering menafsirkan ekspresi publik secara berlebihan. Senyum sopan, anggukan basa-basi, atau keheningan bisa dibaca sebagai persetujuan penuh. Mendes menyebut bahwa kondisi ini membuat banyak individu merasa sendirian dalam pandangannya, meski sebenarnya banyak anggota lain merasakan hal yang sama.

Ciri-Ciri dan Dampak Pluralistic Ignorance dalam Kelompok

Dalam praktiknya, pluralistic ignorance sering tampak sebagai kesepakatan semu. Di permukaan, semua terlihat setuju, namun setelah keputusan diambil muncul keluhan di belakang. Di sini terlihat perbedaan antara kepatuhan publik, yaitu mengikuti secara lahiriah, dan penerimaan privat, yaitu apa yang benar-benar diyakini.

Menurut Mendes dkk. dalam artikel jurnal yang sama, pluralistic ignorance dapat membuat sikap publik seseorang berbeda dari keyakinan pribadinya karena ia keliru mengira mayoritas memiliki pendapat yang berlawanan. Ketika kesalahan persepsi ini terjadi secara kolektif dan mayoritas tetap diam, kelompok dapat bergerak mengikuti norma yang dipersepsikan, bukan norma objektif atau preferensi nyata anggotanya.

Ciri-Ciri Pluralistic Ignorance yang Bisa Diidentifikasi

Beberapa pola perilaku dapat membantu mengenali pluralistic ignorance. Misalnya, keheningan panjang ketika pemimpin meminta pendapat, padahal setelah rapat usai banyak yang mengungkapkan ketidaksetujuan secara pribadi. Ekspresi ketidaknyamanan juga sering muncul setelah keputusan diambil, seperti komentar lirih atau bercanda sinis.

Di sisi lain, pengakuan pribadi yang berbeda dari sikap publik menjadi tanda kuat. Orang bisa bercerita kepada teman dekat bahwa ia tidak setuju, namun tetap tampil seolah mendukung di depan kelompok besar.

Masih dari artikel jurnal sebelumnya, disebutkan bahwa pluralistic ignorance dapat muncul dalam berbagai konteks sosial dan organisasi, termasuk prasangka terhadap kelompok tertentu, segregasi rasial, penggunaan alkohol, rokok, obat terlarang, perilaku seksual, hingga sikap tidak etis dalam organisasi. Dalam pola ini, seseorang dapat mengikuti norma yang dipersepsikan meskipun secara pribadi tidak menyetujuinya.

Konsekuensi dan Implikasi Praktis

Konsekuensi pluralistic ignorance cukup luas. Keputusan bisa menjadi tidak efektif karena dibangun di atas asumsi salah tentang apa yang diinginkan kelompok. Norma yang berpotensi berbahaya atau menghambat perubahan tetap bertahan karena tidak ada yang berani memulai koreksi.

Bagi individu, kesenjangan antara sikap publik dan keyakinan pribadi dapat menimbulkan stres psikologis dan rasa terasing. Oleh karena itu, kelompok perlu menciptakan ruang dialog terbuka, menggunakan survei anonim, dan menghadirkan kepemimpinan yang mengundang perbedaan pendapat secara sehat. Mendes menekankan bahwa intervensi yang menjernihkan norma sosial dapat membantu menyelaraskan kembali keyakinan individu dengan persepsi terhadap kelompok.

Kesimpulan

Pluralistic ignorance menggambarkan jarak antara apa yang diyakini seseorang dan apa yang ia kira diyakini orang lain. Fenomena ini tidak selalu tampak jelas, namun bisa sangat memengaruhi budaya komunikasi, keberanian menyampaikan pendapat, hingga kualitas keputusan bersama.

Memahami pengertian dan ciri pluralistic ignorance membantu kita lebih peka terhadap “kesepakatan semu” di sekitar. Dengan mendorong kejujuran, dialog, dan klarifikasi norma, kelompok memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari jebakan ini dan bertindak sesuai keyakinan mayoritas yang sebenarnya.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Psikologi Sosial: Memahami Perilaku dalam Interaksi