Problem Focused Coping: Pengertian dan Hubungannya dengan Efikasi Diri Akademik
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika menghadapi tantangan akademik, mahasiswa sering mencari cara untuk mengelola stres agar tetap produktif. Salah satu strategi yang banyak digunakan adalah problem focused coping, yaitu upaya aktif untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Pemahaman tentang hubungan antara strategi ini dan efikasi diri akademik sangat penting guna menunjang keberhasilan belajar.
Apa Itu Problem Focused Coping?
Menurut Belga Grace El Roy dan Christiana Hari Soetjiningsih dalam Problem Focused Coping pada Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Skripsi: Apakah Terkait dengan Efikasi Diri Akademik? (2022), Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan problem focused coping (PFC) sebagai strategi coping untuk mengurangi tekanan yang berasal dari tuntutan yang sedang dialami seseorang dan membuat seseorang lebih mampu menghadapi kondisi yang menekan.
Definisi dan Karakteristik Problem Focused Coping
El Roy dan Soetjiningsih, mengutip Lazarus dan Folkman (1984), menjelaskan bahwa PFC berfokus pada empat elemen: pemetaan masalah, penyusunan solusi alternatif, perencanaan strategi, dan tindakan memecahkan masalah untuk mengurangi tekanan yang dihadapi. Problem-focused coping sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti melakukan tawar-menawar saat membeli barang, atau belajar meningkatkan keterampilan (bahasa asing, menjahit, komputer) — dengan kata lain, individu langsung menghadapi situasi yang ada.
Contoh Strategi Problem Focused Coping dalam Kehidupan Mahasiswa
El Roy dan Soetjiningsih mencatat bahwa mahasiswa yang mengalami stress dan tertekan namun tetap menghadapi skripsinya serta mengerjakan revisi dari dosen pembimbing menunjukkan mekanisme PFC — karena mahasiswa langsung terlibat menghadapi situasi yang terjadi. Sebaliknya, mahasiswa dengan PFC rendah berisiko tidak menyelesaikan skripsi dengan baik, kurang memiliki strategi menyelesaikan revisi, dan semakin merasa tertekan.
Efikasi Diri Akademik: Konsep dan Pentingnya
El Roy dan Soetjiningsih, mengutip Chairiyati (2013), mendefinisikan academic self-efficacy (ASE) sebagai keyakinan mahasiswa terhadap kemampuannya mengatur, menyusun, dan melaksanakan kegiatan akademik dengan baik. Owen dan Froman (1988) menambahkan bahwa ASE mencakup keyakinan seseorang dapat melakukan tugas akademik dalam situasi kelas/sosial serta keyakinan pada kemampuan kognitif terkait aktivitas akademik.
Pengertian Efikasi Diri Akademik
Sesuai Owen dan Froman (1988) yang dikutip El Roy dan Soetjiningsih, ASE dalam konteks penelitian ini merujuk pada rasa yakin mahasiswa dalam mengerjakan skripsi untuk dapat menyelesaikan skripsi dan revisi dengan baik menggunakan kemampuan kognitifnya.
Peran Efikasi Diri dalam Proses Belajar Mahasiswa
El Roy dan Soetjiningsih, mengutip Hergenhahn (dalam Rizky & Risma, 2014), menjelaskan bahwa seseorang yang menganggap kemampuannya cukup tinggi akan berusaha lebih keras dan gigih dalam menjalankan tugas akademik dibanding yang menganggap kemampuannya rendah. Mahasiswa dengan ASE rendah berisiko kurang terdorong mengerjakan skripsi dan revisi, serta kurang yakin pada kemampuannya.
Hubungan Problem Focused Coping dan Efikasi Diri Akademik
Analisis korelasi product moment Pearson terhadap 52 mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW angkatan 2018 yang sedang mengerjakan skripsi menemukan bahwa semakin tinggi ASE mahasiswa, semakin tinggi/baik pula PFC-nya, dan sebaliknya.
Mayoritas partisipan berada pada kategori sedang, baik untuk PFC (50%) maupun ASE (44%).
Temuan Penelitian Terkait Hubungan Keduanya
El Roy dan Soetjiningsih memperkuat temuan ini dengan tiga penelitian sejenis: Pasiori, Jamiludin, dan Marhan (2020) pada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo Kendari, menemukan sumbangan efektif self-efficacy terhadap PFC sebesar 73,6%. Wijayanto (2020) pada mahasiswa tugas akhir menemukan sumbangan efektif sebesar 24%. Sujono (2014) pada mahasiswa FMIPA Universitas Mulawarman Samarinda juga menemukan hubungan signifikan positif. Namun, penting dicatat sebagai pembanding: Murfika, Bahar, dan Kaimuddin (2021) justru menemukan tidak terdapat hubungan antara self-efficacy dan PFC pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi — menunjukkan bahwa temuan ini tidak selalu konsisten di seluruh konteks penelitian.
Implikasi Praktis untuk Mahasiswa
El Roy dan Soetjiningsih menyarankan mahasiswa mempertahankan dan meningkatkan self-efficacy akademik terkait pemecahan masalah secara langsung, dengan yakin pada kemampuan diri dan merencanakan berbagai strategi pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil maksimal.
Kesimpulan
Problem focused coping adalah strategi mengatasi tekanan melalui empat elemen inti — pemetaan masalah, solusi alternatif, perencanaan strategi, dan tindakan (Lazarus & Folkman, 1984). Berdasarkan El Roy dan Soetjiningsih (2022), PFC berkorelasi positif signifikan dengan efikasi diri akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi , dengan ASE menyumbang 61,6% terhadap variasi PFC — meski hasil serupa dari studi lain menunjukkan variasi sumbangan efektif (24%–73,6%), bahkan satu studi (Murfika dkk., 2021) tidak menemukan hubungan signifikan sama sekali.