Konten dari Pengguna

Psychological Flexibility: Pengertian dan Ciri-Cirinya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Psychological Flexibility. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Psychological Flexibility. Foto Unsplash.

Psychological flexibility banyak dibahas dalam dunia psikologi modern karena berkaitan dengan cara seseorang merespons tekanan hidup. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa ada orang yang tetap bisa melangkah maju meski sedang dilanda emosi berat, sementara yang lain terasa sangat mudah goyah. Memahami fleksibilitas psikologis bisa menjadi langkah awal untuk merawat kesehatan mental sehari-hari.

Apa Itu Psychological Flexibility?

Secara sederhana, psychological flexibility adalah kemampuan untuk tetap sadar akan apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan, lalu memilih respons yang selaras dengan nilai hidup, bukan hanya mengikuti dorongan sesaat.

Menurut James D. Doorley dan rekan dalam artikel “Psychological flexibility: What we know, what we do not know, and what we think we know”, psychological flexibility adalah kecenderungan untuk merespons situasi dengan cara yang mendukung pencapaian tujuan yang bernilai. Artikel tersebut menekankan bahwa fleksibilitas ini penting ketika seseorang menghadapi situasi menantang yang memunculkan distress, karena individu perlu mampu bertahan atau mengubah perilakunya sesuai tuntutan situasi selama hal itu tetap melayani nilai dan tujuan yang dipilih.

Dalam konteks kesehatan mental, psychological flexibility berperan dalam pengelolaan emosi, kemampuan menghadapi perubahan, dan penurunan risiko masalah psikologis. Orang yang fleksibel secara psikologis tidak selalu tenang atau bahagia, tetapi mereka bisa mengakui emosi sulit sambil tetap bergerak menuju tujuan yang penting bagi dirinya.

Komponen Utama Psychological Flexibility

Beberapa komponen yang sering dibahas antara lain keterbukaan terhadap pengalaman, kesadaran saat ini, kejelasan nilai, dan tindakan yang berkomitmen. Keterbukaan berarti memberi ruang pada perasaan tidak nyaman tanpa langsung menolaknya, sedangkan kesadaran saat ini berkaitan dengan kemampuan hadir di momen sekarang.

Sementara itu, kejelasan nilai membantu seseorang menentukan arah hidup, dan tindakan berkomitmen membuatnya tetap melangkah meski kondisi tidak ideal. Ketika empat hal ini saling mendukung, psychological flexibility akan terlihat dalam cara seseorang mengambil keputusan dan bersikap di situasi menantang.

Psychological Flexibility dalam Penelitian Modern

Ringkasan literatur yang disusun Doorley menunjukkan bahwa fleksibilitas psikologis berkaitan dengan kualitas hidup yang lebih baik serta gejala kecemasan dan depresi yang lebih rendah. Konsep ini juga banyak digunakan dalam pendekatan terapi berbasis bukti, misalnya terapi yang menekankan penerimaan emosi dan tindakan sesuai nilai pribadi.

Namun demikian, masih ada batasan pengetahuan yang terus diteliti, seperti bagaimana mengukur fleksibilitas secara konsisten dan faktor apa saja yang paling berpengaruh. Sejauh ini, psychological flexibility dipandang sebagai salah satu fondasi penting untuk membantu orang menyesuaikan diri dengan perubahan hidup yang tidak bisa dihindari.

Ciri-Ciri Psychological Flexibility dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam keseharian, ciri psychological flexibility terlihat dari cara seseorang menghadapi konflik di pekerjaan, masalah dalam hubungan, atau tekanan finansial. Orang yang fleksibel secara psikologis tidak selalu punya hidup yang lebih mudah, tetapi mereka cenderung menunjukkan pola respons yang lebih adaptif. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mereka mampu bergerak menuju tujuan dan nilai penting meski sedang membawa emosi yang berat.

Di sisi lain, rendahnya fleksibilitas sering muncul dalam bentuk pola pikir yang kaku dan kecenderungan menghindari rasa tidak nyaman secara terus-menerus. Perbedaan ini akan terasa ketika rencana gagal, muncul kritik, atau terjadi perubahan mendadak yang tidak diharapkan.

Tanda Positif Psychological Flexibility

Beberapa tanda positif yang sering terlihat antara lain kemampuan menerima emosi sulit tanpa langsung bereaksi impulsif, misalnya memilih diam sejenak sebelum membalas pesan yang memancing emosi. Selain itu, orang yang fleksibel lebih mudah mengubah strategi ketika situasi berubah tanpa langsung menilai dirinya gagal.

Mereka juga berusaha konsisten bertindak selaras dengan nilai pribadi, seperti tetap menjaga kejujuran meski situasi menekan untuk berbuat sebaliknya. Dalam konteks kerja, hal ini tampak dari kesediaan belajar cara baru; dalam hubungan, terlihat dari kemampuan mendengar keluhan pasangan sambil tetap menyampaikan kebutuhan diri dengan tenang.

Indikasi Rendahnya Psychological Flexibility

Indikasi rendahnya psychological flexibility sering muncul dalam bentuk keinginan berlebihan untuk menghindari pengalaman tidak nyaman, misalnya selalu menghindar dari percakapan penting karena takut konflik. Lain halnya dengan pola pikir yang dipenuhi kata “harus”, “selalu”, atau “tidak boleh” hingga membuat seseorang sulit melihat pilihan lain.

Seseorang juga bisa tampak sangat terguncang ketika rencana kecil berubah, lalu butuh waktu lama untuk menenangkan diri.

Artikel penelitian yang disebutkan sebelumnya menjelaskan bahwa psychological inflexibility berkaitan dengan berbagai kondisi negatif, termasuk depresi, kecemasan, stres, penyalahgunaan zat, citra tubuh negatif, dan burnout kerja. Sumber yang sama juga menunjukkan bahwa psychological flexibility memiliki hubungan positif dengan well-being, serta berkaitan dengan kepuasan hidup, kebahagiaan subjektif, depresi, generalized anxiety, dan social anxiety.

Kesimpulan

Psychological flexibility membantu seseorang tetap terhubung dengan emosi dan pikirannya tanpa terjebak, lalu memilih tindakan yang mendekatkannya pada nilai hidup yang penting. Kemampuan ini tidak menghapus masalah, tetapi memberi ruang untuk merespons tekanan dengan cara yang lebih sehat.

Dalam jangka panjang, melatih psychological flexibility bisa menjadi salah satu strategi untuk menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup. Langkah kecil seperti belajar menyadari emosi, mengenali nilai pribadi, dan berlatih mengambil tindakan meski merasa tidak nyaman dapat menjadi awal perubahan yang berarti.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Emosi dan Regulasi Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari