Reframing Adalah: Pengertian dan Tahapan Teknik Reframing dalam Konseling
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam proses konseling, memahami cara pandang seseorang terhadap masalah bisa menjadi kunci perubahan. Salah satu teknik yang banyak digunakan untuk mengubah pola pikir negatif adalah reframing. Konsep ini semakin dikenal di kalangan konselor karena mampu membantu individu memaknai kembali pengalaman secara lebih konstruktif.
Apa yang Dimaksud dengan Reframing?
Menurut Adilla Fajriani, Syamsul Bachri Thalib, dan Nur Fadhilah Umar dalam artikel Penerapan Teknik Reframing untuk Mereduksi Perilaku Rendah Diri Siswa di SMA Negeri 6 Luwu Utara, reframing berasal dari kata re (pengulangan) dan framing (pembingkaian), sehingga reframing adalah teknik membingkai ulang sebuah kejadian dengan cara mengubah sudut pandang atas kejadian tersebut. Fajriani, Thalib, dan Umar, mengutip Cormier (2008), menjelaskan bahwa reframing (yang disebut juga relabeling) adalah suatu pendekatan yang mengubah atau menyusun kembali persepsi konseli atau cara pandang terhadap masalah atau tingkah laku.
Reframing adalah salah satu teknik dari pendekatan cognitive behavior therapy (CBT). Fajriani, Thalib, dan Umar, mengutip Erford (2016), menjelaskan bahwa reframing mengubah sudut pandang konseptual atau emosional terhadap suatu situasi dan mengubah maknanya dengan meletakkannya dalam suatu kerangka kerja konseptual lain yang tetap cocok dengan fakta-fakta yang sama dari situasi aslinya.
Definisi ini diperkuat oleh beberapa ahli lain yang dikutip Fajriani, Thalib, dan Umar: Bandler dan Grinder mendefinisikan reframing sebagai strategi mengubah susunan perseptual individu terhadap suatu kejadian yang akan mengubah makna yang dipahami; V. Gallos dan Jassey-Bass menyatakan reframing dimaksudkan untuk memperluas gambaran konseli tentang dunianya dalam mempersepsi situasinya secara berbeda dan konstruktif; sementara Wiwoho menjelaskan reframing sebagai upaya membingkai ulang sebuah kejadian dengan mengubah sudut pandang tanpa mengubah kejadian itu sendiri.
Tujuan dan Manfaat Reframing bagi Siswa
Fajriani, Thalib, dan Umar, mengutip Corey (dalam Erford, 2016), menjelaskan bahwa tujuan reframing adalah membantu konseli melihat situasinya dari sudut pandang lain, yang membuatnya tampak tidak terlalu bermasalah dan lebih normal, sehingga lebih terbuka terhadap solusi. Penelitian ini secara spesifik menerapkan reframing dengan tujuan: memberikan cara pandang baru dan positif; mengubah pikiran, keyakinan, dan cara pandang konseli dari irasional menjadi rasional; memperluas gambaran konseli tentang dunianya; serta membingkai ulang cara pandang konseli dari kelemahan menjadi kekuatan dan dari masalah menjadi peluang.
Dua Jenis Teknik Reframing
Fajriani, Thalib, dan Umar, mengutip Cormier, menjelaskan dua jenis reframing yang digunakan sebagai bagian integral dari proses terapi: meaning reframing (susunan makna) — memberi istilah baru pada perilaku tertentu diikuti perubahan makna, sehingga seseorang yang mendapat musibah tragis mampu memaknainya secara positif; dan context reframing (susunan konteks) — memberikan kemampuan individu melihat perilaku sebagai sesuatu yang dapat diterima dalam satu situasi, tetapi tidak pada situasi lain.
Tahapan Teknik Reframing
Fajriani, Thalib, dan Umar, mengutip Cormier (dalam Nursalim, 2013:72), merinci enam tahap prosedur pelaksanaan teknik reframing yang benar-benar diterapkan dalam penelitian ini:
Rasional — konselor meyakinkan siswa bahwa persepsi terhadap masalah dapat menyebabkan tekanan emosi, dilaksanakan dengan meminta siswa menuliskan situasi yang menimbulkan perilaku rendah diri.
Identifikasi persepsi dan perasaan siswa dalam situasi masalah — melalui analisis ABC, konselor menanyakan situasi, pikiran, dan perilaku siswa saat menghadapi situasi yang menimbulkan rendah diri, lalu mendebat keyakinan irasional tersebut.
Menguraikan peran dari fitur-fitur persepsi terpilih — menggunakan metode imagery, konselor mengajak siswa mengenang kembali situasi dan pikiran yang muncul terkait perilaku rendah diri.
Identifikasi persepsi alternatif — konselor membantu siswa menemukan persepsi alternatif yang lebih positif terhadap situasi masalah, misalnya mengubah "teman-teman menertawakan saya" menjadi "teman-teman sangat memperhatikan saya."
Modifikasi persepsi dalam situasi masalah — melalui teknik bermain peran, siswa mempraktikkan langsung persepsi alternatif yang telah ditemukan dalam situasi yang mirip dengan masalah asli.
Pekerjaan rumah dan penyelesaiannya — siswa diberi tugas menerapkan persepsi alternatif dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkuat perubahan pola pikir.
Contoh Penerapan Reframing pada Siswa dengan Rendah Diri
Fajriani, Thalib, dan Umar mencatat contoh nyata dari penelitian: salah satu konseli awalnya berpikir "saya paling pendek dan kecil di antara teman-teman, saya tidak berani menjawab karena pernah saya mencoba menjawab dan teman-teman menertawakan saya." Setelah melalui proses reframing, konseli tersebut menemukan persepsi alternatif — "ternyata teman saya tidak menolak untuk berteman dengan saya, mereka sangat baik, tidak mengejek saya seperti yang saya pikirkan."
Hasil Penelitian: Efektivitas Reframing Secara Statistik
Penting dicatat bahwa artikel asli tidak menyajikan data hasil penelitian. Fajriani, Thalib, dan Umar melaporkan hasil uji-t menggunakan SPSS 25 pada 18 siswa (9 kelompok eksperimen, 9 kelompok kontrol): diperoleh nilai t = -10,544 dengan signifikansi (2-tailed) = 0,000 (< α 0,05), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima — terdapat perbedaan signifikan perilaku rendah diri antara kelompok eksperimen dan kontrol. Rerata gain score kelompok eksperimen sebesar 38,11, jauh lebih tinggi dibandingkan rerata gain score kelompok kontrol sebesar 1,33. Tingkat perilaku rendah diri kelompok eksperimen menurun dari kategori tinggi (pretest) menjadi kategori rendah (posttest) setelah diberikan enam kali pertemuan teknik reframing, sementara kelompok kontrol tetap berada pada kategori tinggi.
Kesimpulan
Reframing adalah strategi efektif dalam konseling kognitif-perilaku untuk membantu individu, terutama siswa, mengatasi pola pikir irasional yang mendasari perilaku rendah diri. Berdasarkan Fajriani, Thalib, dan Umar, melalui enam tahapan terstruktur — rasional, identifikasi persepsi, menguraikan fitur persepsi, identifikasi persepsi alternatif, modifikasi persepsi, dan pekerjaan rumah — teknik ini terbukti signifikan secara statistik (t = -10,544; p = 0,000) dalam mereduksi perilaku rendah diri siswa di SMA Negeri 6 Luwu Utara, mengubah makna dari pengalaman negatif menjadi peluang pertumbuhan pribadi.