Regulasi Diri dalam Psikologi: Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Regulasi diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan pikiran, perasaan, dan perilaku dalam berbagai situasi. Konsep ini semakin relevan dalam kehidupan modern yang penuh tantangan dan perubahan. Regulasi diri dalam psikologi tidak hanya membentuk respons individu, tetapi juga memengaruhi kualitas hubungan sosial dan proses tumbuh kembang, terutama pada usia remaja.
Pengertian Regulasi Diri dalam Psikologi
Pemahaman tentang regulasi diri penting bagi setiap individu, terutama dalam menghadapi tekanan lingkungan dan tuntutan sosial.
Definisi Regulasi Diri
Menurut Ika Wahyu Pratiwi dan Sri Wahyuni dalam artikel Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Regulation Remaja dalam Bersosialisasi (2019), Self Regulation merupakan kemampuan seseorang untuk mengarahkan pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu (Zimmerman, 1990, dikutip dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019).
Definisi lebih operasional diberikan oleh Carey, Neal, & Collins (2004, dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019): Self Regulation adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan tingkah lakunya untuk mencapai tujuan dan memungkinkan orang tersebut untuk menunda kepuasan jangka pendek guna pencapaian hasil yang diinginkan di masa mendatang. Ketika melakukan self regulation, seseorang akan menerima informasi terkait tujuan yang dimiliki, mengevaluasi diri, memiliki keinginan untuk berubah, mencari alternatif perubahan tingkah laku, serta menilai efektivitas dari perubahan tingkah laku tersebut.
Seseorang yang dapat melakukan self regulation dengan baik biasanya menunjukkan tingkah laku yang mencerminkan tujuan dan standar tertentu (Hoyle, 2010, dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019). Sementara itu, Baumeister (dalam De Ridder & De Wit, 2008, dikutip dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019) menyatakan bahwa keefektifan self regulation merupakan aspek penting dalam kehidupan seseorang untuk beradaptasi.
Pentingnya Regulasi Diri dalam Kehidupan Sehari-hari
Goleman (dalam Alfiana, 2013, dikutip dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019) mengemukakan bahwa 80% kesuksesan seseorang sangat dipengaruhi oleh emotional intelligence atau kecerdasan emosi yang salah satu domainnya adalah regulasi diri. Sebaliknya, self regulation yang kurang efektif akan membuat seseorang dapat mengalami gangguan psikologis, salah satunya adalah kecemasan (Maddux, 2009, dalam Alfiana, 2013, dikutip dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019). Dengan regulasi diri yang baik, individu lebih mudah menjaga hubungan sosial, mengelola stres, dan mencapai target personal.
Pintrich & De Groot (1990, dikutip dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019) mengistilahkan self regulation sebagai suatu kegiatan belajar yang diatur oleh diri sendiri, di mana individu mengaktifkan pikiran, motivasi dan tingkah lakunya untuk mencapai tujuan belajarnya.
Regulasi Diri pada Remaja
Pada masa remaja, regulasi diri menjadi faktor penentu dalam proses sosialisasi. Remaja yang memiliki tingkat self regulation rendah pada saat beradaptasi dan berinteraksi mengalami suatu kecemasan dan kekhawatiran karena adanya pikiran negatif bahwa orang lain tidak dapat menerimanya karena faktor latar belakang keluarga, status sosial, faktor ekonomi, dan lain sebagainya (Pratiwi & Wahyuni, 2019). Sebaliknya, apabila remaja dapat melakukan self regulation dengan baik, maka remaja akan dapat mengarahkan dirinya untuk bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan baik tanpa adanya kecemasan yang dialami (Pratiwi & Wahyuni, 2019).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Regulasi Diri
Regulasi diri tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Faktor internal dan eksternal memainkan peran penting dalam membentuk kemampuan ini pada individu.
Tiga Faktor Utama Menurut Zimmerman
Dalam pembentukan regulasi diri, Zimmerman (1990, dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019) mengemukakan bahwa ada tiga faktor, yaitu:
Individu — mencakup pengetahuan individu yang beragam, tingkat kognisi, dan tujuan individu. Pengetahuan yang dimaksud mencakup segala aspek kehidupan yang dimiliki individu, termasuk pengetahuan tentang kemampuan regulasi diri.
Perilaku — mengacu pada upaya individu untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki. Semakin besar dan optimal upaya yang dikerahkan oleh individu dalam mengorganisasikan suatu kegiatan, maka secara tidak langsung akan meningkatkan regulasi individu tersebut (Zimmerman, 1990, dalam Pratiwi & Wahyuni, 2019).
Lingkungan — tekanan dari dukungan orang-orang terdekat dalam meningkatkan self efficacy sehingga berpengaruh terhadap peningkatan self regulation (Pratiwi & Wahyuni, 2019).
Empat Faktor Empiris dalam Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif-fenomenologi Pratiwi dan Wahyuni (2019) terhadap remaja, ditemukan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self regulation antara lain:
1. Kesadaran Individu — kesadaran dari diri individu bahwa bergaul sangat penting dikarenakan manusia tidak bisa hidup sendiri (Pratiwi & Wahyuni, 2019). Adanya pengetahuan yang beragam yang dimiliki subjek membuat mereka sadar bahwa interaksi antar sesama merupakan hal yang penting sehingga dari pemikiran tersebut timbullah niat untuk memperbaiki diri dan berusaha menghilangkan rasa cemas saat berinteraksi.
2. Berpikir Positif — subjek yang semula memiliki self regulation rendah mencoba untuk berpikir bahwa orang lain menyukai dirinya dengan berpikir positif (Pratiwi & Wahyuni, 2019). Berpikir positif menjadi mekanisme koping yang efektif dalam menghadapi kecemasan sosial.
3. Belajar Mengembangkan Tujuan Hidup — subjek meningkatkan self regulation dirinya dengan belajar mengembangkan tujuan hidup yaitu dengan cara menanamkan sikap percaya diri dan mengendalikan diri mereka untuk tetap berpikir positif dalam menjalankan langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut (Pratiwi & Wahyuni, 2019).
4. Mendapat Dorongan Semangat dari Lingkungan — dalam meningkatkan self regulation, subjek mendapat dorongan semangat dari teman-temannya, meski pada awal-awal masih sering merasakan kecemasan dalam bersosialisasi; teman-teman meyakinkan bahwa mereka adalah orang yang berharga, sehingga pada akhirnya meningkatkan kepercayaan diri mereka (Pratiwi & Wahyuni, 2019). Motivasi dari dalam diri dan dukungan dari lingkungan sangat diperlukan untuk mendorong masa depan yang baik.
Strategi Meningkatkan Regulasi Diri pada Remaja
Self regulation yang rendah dapat diperbaiki menjadi tinggi dengan adanya kesadaran dari diri individu, perilaku, dan juga dukungan dari orang-orang sekitarnya sehingga membuat mereka dapat percaya diri dalam berinteraksi dengan rekan sebayanya (Pratiwi & Wahyuni, 2019). Beberapa strategi konkret:
Dari sisi individu: membangun kesadaran bahwa sosialisasi adalah kebutuhan dasar manusia, melatih self concept yang positif sebagai landasan self efficacy, dan secara aktif menetapkan tujuan hidup yang bermakna. Dari sisi lingkungan: dukungan keluarga, peran guru di sekolah, dan dorongan positif dari teman sebaya sangat berpengaruh. Bandura (1977) dalam Social Learning Theory (Prentice-Hall) menegaskan bahwa self efficacy — keyakinan seseorang akan kemampuannya — merupakan mediator penting antara dukungan lingkungan dan perilaku self regulation yang efektif. Zimmerman (2000) dalam Journal of Educational Psychology juga menunjukkan bahwa latihan self monitoring, self evaluation, dan self reinforcement secara konsisten meningkatkan kemampuan regulasi diri.
Kesimpulan
Regulasi diri (self regulation) dalam psikologi merupakan kemampuan mengarahkan pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian Pratiwi dan Wahyuni (2019) dalam JP3SDM membuktikan secara empiris bahwa empat faktor utama memengaruhi self regulation remaja dalam bersosialisasi: kesadaran individu, berpikir positif, mengembangkan tujuan hidup, dan dorongan semangat dari lingkungan. Ketiga faktor Zimmerman (individu, perilaku, lingkungan) menjadi kerangka teoritis yang memayungi keempat temuan ini. Dengan memahami konsep dan faktor-faktor yang memengaruhi regulasi diri, individu — terutama remaja — dapat mengambil langkah yang lebih terarah dalam pengembangan diri dan kemampuan bersosialisasi.