Konten dari Pengguna

Rollo May: Teori Eksistensialisme dan Karier Psikolog Humanis

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Eksistensialisme. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Eksistensialisme. Gambar: Pexels.

Rollo May menjadi salah satu sosok penting dalam perkembangan psikologi eksistensial. Pemikirannya tentang makna hidup, kebebasan, dan kecemasan masih relevan dibahas hingga kini.

Profil Singkat Rollo May

Rollo May lahir pada tahun 1909 di Ada, Ohio, Amerika. Minatnya pada psikologi berkaitan dengan kehidupan keluarganya yang bermasalah dan hubungan orang tuanya yang tidak harmonis (Ucep Hermawan, 2021 dalam Konsep Diri dalam Eksistensialisme Rollo May). Kehidupan masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan — orang tuanya tidak akur hingga akhirnya bercerai, serta saudara perempuannya mengalami gangguan psikotik (Hermawan, 2021).

May masuk Union Theological Seminary, di sana berteman dengan salah satu gurunya, Paul Tillich (teolog eksistensialis), yang kelak memiliki pengaruh mendalam pada pemikirannya (Hermawan, 2021). May menderita penyakit tuberkulosis (TBC), dengan terpaksa harus menghabiskan tiga tahun di sanatorium; untuk mengisi waktu-waktu kosongnya dihabiskan dengan membaca literatur Søren Kierkegaard, yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap konsep kecemasan akan eksistensi manusia (Hermawan, 2021). Setelah sakitnya sembuh, ia melanjutkan belajar psikoanalisis di White Institute, bersama Harry Stack Sullivan dan Erich Fromm. May pergi ke Universitas Columbia di New York; pada tahun 1949 ia menerima gelar PhD pertama dalam psikologi klinis yang diberikan oleh institusi tersebut. May meninggal pada Oktober 1994 (Hermawan, 2021).

Psikologi Eksistensial: Konteks Pemikiran May

Psikologi eksistensial dapat dimengerti sebagai ilmu pengetahuan empiris tentang eksistensi manusia yang menggunakan analisis fenomenologis (Hermawan, 2021, mengutip Hall, 1993). Dalam psikologi eksistensial ada tiga aspek yang membentuk eksistensi manusia dalam-dunia yakni: relasi manusia dengan lingkungan sekitar (umwelt), manusia lain (mitwelt), dan dirinya sendiri (eigenwelt) (Hermawan, 2021). Di antara ketiganya, Rollo May menaruh perhatian lebih pada eigenwelt — relasi manusia dengan dirinya — tidak heran jika ia menulis buku khusus untuk membahas tentang "diri": Manusia Mencari Dirinya (Hermawan, 2021).

Konsep Diri dalam Eksistensialisme May

"Diri" dalam pandangan May adalah "daya yang dengan itu manusia mampu menyadari setiap tindakannya dalam dunia" (Hermawan, 2021, mengutip May, 2019). Karena ia daya, maka mesti dirawat; sebab jika hilang akan menimbulkan kecemasan. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas hidupnya — konsep diri menurut May sangat berkaitan dengan hubungan manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya.

Kecemasan menurut May adalah perasaan terancam kehilangan eksistensi, sehingga dituntut mengambil keputusan berdasarkan kebebasannya (Hermawan, 2021). May membedakan antara kecemasan normal (yang objek penyebabnya tampak, misalnya cemas akan kematian) dan kecemasan neurotik (yang berkaitan dengan trauma masa lalu) (Hermawan, 2021). Hal ini juga yang membedakan May dari Freud — Freud meyakini kecemasan adalah sesuatu yang mesti dihindari karena dapat menimbulkan penyakit mental (neurosis) hasil tegangan aparatus mental antara id, ego, dan superego; sementara May meyakini kecemasan adalah efek dari manusia yang kehilangan dirinya, dan mesti dihayati bukan dihindari (Hermawan, 2021).

Lima Akar Kecemasan Manusia Modern

May mengidentifikasi beberapa penyebab manusia kehilangan dirinya dan mengalami kecemasan: pertama, hilangnya pusat nilai bersama; kedua, hilangnya makna "diri" sejak dekade 1920-an di mana martabat manusia tidak lagi diperhitungkan di tengah pertumbuhan ekonomi dan industri kapitalisme; ketiga, hilangnya bahasa antara pribadi; keempat, keterpisahan dengan alam; kelima, hilangnya makna tragedi (Hermawan, 2021).

Kebebasan dan Keberanian sebagai Jalan Kesadaran

Kebebasan menurut May terdiri dari kebebasan psikologis (kemampuan untuk berhenti dalam menghadapi rangsangan dari berbagai arah) dan kebebasan eksistensial (kemampuan memilih untuk keberlangsungan eksistensinya) (Hermawan, 2021, mengutip May, 1981). Kebebasan adalah kapasitas yang dimiliki manusia untuk membuat pilihan dan bertanggung jawab terhadapnya; ia tidak muncul dari ruang hampa, selalu berkaitan dengan struktur tertentu, khususnya keluarga (Hermawan, 2021).

May, mengutip Paul Tillich, menyatakan keberanian adalah gejala ontologis yang menopang eksistensi manusia (Hermawan, 2021). Keberanian terdiri dari: keberanian fisik, moral, sosial, dan kreatif (Hermawan, 2021). Dengan keberanian kreatif, individu mampu mencipta bahkan dari kondisi yang kaos sekalipun.

Tahapan Kesadaran Diri

Beberapa tahap kesadaran diri dalam pandangan May: kepolosan (terjadi pada bayi), pemberontakan (terjadi pada anak usia 2 tahun hingga remaja), kesadaran diri yang wajar (manusia sudah mulai menyadari dirinya dan menjadikan kecemasan serta kesalahan masa lalu sebagai pelajaran), dan terakhir kesadaran diri kreatif — kesadaran akan dunia objektif yang biasanya muncul dalam aktivitas ilmiah, keagamaan, artistik, yang May sebut sebagai kesadaran ekstase (Hermawan, 2021).

Kesimpulan dan Relevansi Pemikiran Rollo May

Eksistensialisme, menurut May, adalah modus berada manusia yang sadar akan dirinya. Konsep "diri" May dapat menjadi alternatif dalam menyikapi kondisi kritis — tetap tegar meski dalam kondisi yang kaos merupakan pilihan untuk hidup dan tidak melakukan bunuh diri psikologis (Hermawan, 2021). Pemikiran May tentang eksistensialisme dan konsep diri memberikan wawasan baru bagi perkembangan psikologi modern — ia mengajak kita memahami makna hidup, kebebasan, dan kecemasan secara lebih mendalam.