Konten dari Pengguna

Secondary Trauma: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya pada Penolong

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Secondary Trauma. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Secondary Trauma. Foto Unsplash.

Secondary trauma sering muncul diam-diam pada orang yang sehari-hari membantu korban bencana, kekerasan, atau penyakit berat. Mereka tampak kuat dan sigap, namun batin bisa ikut terluka karena terus mendengar dan menyaksikan cerita penuh penderitaan. Kondisi ini perlu dipahami sejak awal agar penolong tetap mampu bekerja sambil menjaga kesehatan mental.

Apa Itu Secondary Trauma?

Secondary trauma adalah kondisi psikologis yang muncul ketika seseorang sering terpapar cerita atau pengalaman traumatis orang lain. Kondisi ini banyak dialami perawat, tenaga kesehatan, relawan, konselor, atau pendamping korban yang bekerja dekat dengan penderitaan manusia.

Menurut Dhatu Anindhita Vita Tanaya dan Rudangta Arianti dalam artikel jurnal ilmiah “Gambaran Secondary Trauma Stress Pada Passive Bystander Peristiwa Bullying” yang diterbitkan di Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi dan Kesehatan (J-P3K) pada 2025, Secondary Trauma Stress adalah serangkaian gejala PTSD akibat paparan tidak langsung terhadap peristiwa traumatis yang dialami atau diceritakan oleh orang yang mengalami trauma. Artikel ini juga menjelaskan bahwa bystander bullying dapat mengalami dampak psikologis yang sama dengan korban, seperti rasa takut, cemas, trauma, dan tidak berdaya.

Berbeda dengan trauma primer yang muncul karena mengalami peristiwa mengerikan secara langsung, secondary trauma berkembang dari paparan tidak langsung. Meskipun begitu, gejalanya bisa serupa, seperti sulit tidur, gelisah, atau munculnya bayangan kejadian yang diceritakan korban. Oleh karena itu, memahami apa itu secondary trauma membantu penolong mengenali batas dirinya sendiri.

Perbedaan Secondary Trauma, Burnout, dan Stres Biasa

Secondary trauma berkaitan erat dengan empati yang terus-menerus tersentuh oleh cerita traumatis. Seseorang merasa seolah ikut menyaksikan dan mengalami kejadian pahit yang diceritakan, sehingga pikirannya terus memutar ulang kisah tersebut.

Sedangkan burnout lebih berhubungan dengan kelelahan kronis akibat beban kerja tinggi, tuntutan administrasi, dan lingkungan kerja yang menguras energi. Sementara itu, stres biasa cenderung muncul sesaat karena tekanan harian dan biasanya mereda ketika situasi membaik. Perbedaan ini membantu tenaga penolong mencari bentuk dukungan yang tepat, apakah perlu mengatur ulang beban kerja, atau justru memproses beban emosional yang menumpuk.

Ciri-Ciri Secondary Trauma pada Tenaga Penolong

Secondary trauma sering tampak dari perubahan emosi dan cara berpikir. Penolong bisa merasa sedih berlebihan, mudah tersentuh, atau muncul rasa tidak berdaya ketika menghadapi kasus baru. Di sisi lain, kecemasan meningkat dan pikiran intrusif tentang kisah korban muncul tiba-tiba, misalnya menjelang tidur atau saat sendirian.

Seiring waktu, cara pandang terhadap dunia juga bisa berubah. Tenaga penolong mungkin merasa dunia semakin tidak aman, sulit percaya pada orang lain, atau memandang masa depan dengan lebih pesimis.

Seperti dijelaskan oleh Dhatu Anindhita Vita Tanaya dalam artikel J-P3K yang disebutkan sebelumnya, individu yang tidak terlibat langsung dalam kejadian traumatis tetap dapat mengalami Secondary Trauma Stress. Pada passive bystander peristiwa bullying, tanda yang muncul dapat berupa gejala intrusive seperti flashback, serta gejala avoidance berupa penghindaran terhadap pelaku dan tempat terjadinya bullying.

Gejala Fisik, Perilaku, dan Dampak pada Kinerja

Selain gejala emosional, tubuh juga memberi sinyal. Beberapa penolong mengalami sulit tidur, mimpi buruk, sakit kepala, atau ketegangan otot yang menetap. Kondisi fisik terasa cepat lelah meski jam kerja tidak selalu berubah drastis.

Perubahan perilaku biasanya muncul dalam bentuk menarik diri dari rekan kerja, mudah marah, atau sengaja menghindari kontak dengan pasien tertentu yang kisahnya terasa terlalu berat. Dampaknya pada kinerja bisa berupa penurunan kualitas pelayanan, meningkatnya risiko kesalahan kerja, dan berkurangnya rasa puas terhadap profesi yang dulu terasa bermakna. Bila tanda-tanda ini muncul terus-menerus, penolong perlu mencari dukungan, supervisi, atau konseling agar kondisi tidak semakin berat.

Kesimpulan

Secondary trauma adalah risiko nyata bagi tenaga penolong yang setiap hari bersentuhan dengan cerita dan pengalaman traumatis. Kondisi ini memengaruhi emosi, pikiran, fisik, hingga cara mereka memandang dunia dan pekerjaannya.

Mengenali apa itu secondary trauma dan ciri-cirinya membantu penolong menyadari bahwa kelelahan yang dirasakan bukan sekadar lelah biasa. Dengan pemahaman tersebut, mereka dapat lebih berani mencari bantuan, membangun batas yang sehat, dan menjaga empati tetap hidup tanpa mengorbankan kesehatan mental sendiri.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Healing: Proses Pulih dan Berdamai dengan Diri