Konten dari Pengguna

Secure Attachment Adalah: Pengertian dan Ciri-ciri Utamanya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Secure Attachment . Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Secure Attachment . Gambar: Pexels.

Secure attachment menjadi salah satu konsep mendasar dalam psikologi perkembangan, terutama saat membahas kualitas hubungan seseorang sejak masa kanak-kanak. Istilah ini berhubungan dengan kemampuan individu dalam membangun relasi yang sehat, penuh kepercayaan, dan adaptif baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Memahami secure attachment dapat membantu banyak orang mengenali pola hubungan yang sehat, sekaligus mendukung proses tumbuh kembang secara emosional.

Apa Itu Secure Attachment

Secure attachment adalah pola keterikatan yang terbentuk ketika seseorang, terutama anak, merasa aman secara emosional dalam hubungannya dengan orang terdekat. Menurut skripsi Dini Rifhany, Hubungan antara Secure Attachment dengan Orangtua terhadap Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Perantau di STIS Ummul Ayman Meureudu (2019), Ainsworth (dikutip dalam Meins, 1997) mendefinisikan secure attachment sebagai keterikatan yang aman secara emosional antara orangtua dengan anak dan menjadi dasar perkembangan psikologis. Santrock (2003, dikutip dalam Rifhany) menambahkan bahwa secure attachment merupakan pola attachment di mana bayi menggunakan pengasuhnya, biasanya ibu, sebagai landasan rasa aman untuk memulai mengeksplorasi lingkungan. Hubungan ini umumnya berkembang ketika kebutuhan emosional anak terpenuhi dengan konsisten sehingga membentuk dasar kepercayaan diri dan kestabilan emosi di kemudian hari.

Definisi Secure Attachment

Pada dasarnya, secure attachment tidak hanya mencerminkan kedekatan fisik, tapi juga kedekatan emosional yang kokoh. Papalia (2003, dikutip dalam Rifhany) menjelaskan secure attachment sebagai pola attachment di mana anak merasa percaya pada pengasuh sebagai figur yang selalu siap mendampingi dan responsif, penuh cinta dan kasih sayang ketika anak mencari perlindungan atau kenyamanan, serta selalu menolong dalam menghadapi situasi yang mengancam dan menakutkan. Anak yang tumbuh dengan secure attachment cenderung mampu berkomunikasi secara terbuka dan merasa terlindungi dalam lingkungan sosialnya. Hal ini memudahkan individu untuk menjalin hubungan baru dan menghadapi tantangan kehidupan.

Aspek-Aspek Secure Attachment

Rifhany, mengutip Armsden dan Greenberg (1987), menjelaskan bahwa secure attachment memiliki tiga aspek utama, yang menjadi dasar instrumen pengukuran dalam penelitian tersebut:

  1. Kepercayaan (Trust): keyakinan anak bahwa orang tua memahami dan menghormati kebutuhan dan hasrat mereka, sehingga anak merasa percaya bahwa orang tua akan selalu ada apabila dibutuhkan.

  2. Komunikasi (Communication): kualitas dan tingkat komunikasi verbal antara orang tua dan anak — orang tua dengan secure attachment menunjukkan sikap hangat dan sensitif, serta gaya komunikasi yang santai dan fleksibel.

  3. Keterasingan (Alienation): menggambarkan perasaan diasingkan, kemarahan, dan isolasi interpersonal — orang tua dengan secure attachment tidak melakukan pengasingan terhadap anak, sehingga anak merasa dicintai, dihargai, dan diperhatikan.

Ciri-ciri Secure Attachment

Individu dengan secure attachment dapat dikenali melalui perilaku dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Collins dan Feeney (2014, dikutip dalam Rifhany), ciri-ciri individu yang memiliki secure attachment meliputi rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, serta mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain itu, mereka juga cenderung membangun hubungan yang sehat dan tidak ragu untuk meminta bantuan saat menghadapi kesulitan.

Karakteristik Individu dengan Secure Attachment

Individu dengan secure attachment ditandai oleh lima karakteristik utama (Collins & Feeney, 2014, dikutip dalam Rifhany): (1) selalu percaya bahwa dirinya dicintai dan dihargai oleh orang lain serta mendapat perhatian penuh; (2) menilai figur kelekatannya sebagai responsif, penuh perhatian, dan dapat dipercaya; (3) merasa nyaman dalam sebuah kedekatan atau keintiman; (4) selalu bersikap optimis dan percaya diri; serta (5) mampu membina hubungan dekat dengan orang lain. Pada masa dewasa, Shaffer (2002, dikutip dalam Rifhany) menambahkan bahwa individu dengan secure attachment umumnya menunjukkan tingkat ketergantungan yang tidak berlebihan pada orang lain, menggambarkan hubungan mereka dengan orang tua sebagai hangat dan saling menyayangi, serta responsif terhadap kebutuhan orang lain.

Faktor yang Mempengaruhi Secure Attachment

Menurut Santrock (2003, dikutip dalam Rifhany), faktor-faktor yang memengaruhi secure attachment meliputi peran orangtua (khususnya ibu, yang memiliki hormon prolaktin sehingga hubungan dengan anak lebih dekat, meski anak tetap membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua), komunikasi antara orangtua dengan anak, serta konflik antara orangtua dengan anak. Bowlby (1982, dikutip dalam Rifhany) turut menambahkan faktor kasih sayang, perhatian yang berlanjut, serta temperamen bayi sebagai penentu pembentukan secure attachment.

Pentingnya Secure Attachment dalam Penyesuaian Diri

Secure attachment memiliki peran penting dalam proses penyesuaian diri, terutama pada masa remaja dan dewasa muda. Hubungan yang sehat sejak dini akan memengaruhi cara seseorang merespons perubahan, tekanan, serta membangun hubungan sosial yang lebih luas.

Dampak Secure Attachment terhadap Penyesuaian Diri

Rifhany menemukan bahwa secure attachment berperan besar dalam membantu individu beradaptasi di lingkungan baru, misalnya saat menjalani kehidupan perantauan atau menghadapi tantangan akademik. Seseorang yang memiliki secure attachment cenderung lebih tenang, mandiri, dan mudah bergaul karena telah memiliki dasar kepercayaan yang kuat pada dirinya sendiri maupun orang lain.

Kesimpulan

Secure attachment adalah pola keterikatan yang sehat dan menjadi fondasi penting dalam pembentukan kepribadian serta kemampuan beradaptasi individu. Pola ini ditandai oleh tiga aspek utama — kepercayaan, komunikasi, dan (minimnya) keterasingan (Armsden & Greenberg, 1987) — serta terbukti secara empiris berkorelasi positif signifikan dengan penyesuaian diri, sebagaimana ditemukan Rifhany (2019) pada mahasiswa perantau. Memahami secure attachment akan membantu setiap orang mengenali kebutuhan emosional dan membangun hubungan yang lebih berkualitas seiring perkembangan hidup.