Konten dari Pengguna

Sejarah Pendidikan: Perkembangan, Contoh, dan Peranannya di Indonesia

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Pendidikan. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Pendidikan. Gambar: Pexels.

Pendidikan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sejak masa lampau. Sejarah pendidikan mencerminkan perjalanan panjang perubahan cara masyarakat menimba ilmu, mulai dari tradisi lisan hingga sistem sekolah modern.

Pengertian dan Pentingnya Sejarah Pendidikan

Dalam Sejarah Pendidikan di Indonesia dari Masa Prasejarah Hingga Awal Kemerdekaan, pendidikan adalah sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta terampil di masyarakat (Azizah dkk., 2024, mengutip Rahman dkk., 2022). Secara garis besar, sejarah kebudayaan Indonesia — yang tidak terpisahkan dari sejarah pendidikan — dapat dibagi ke dalam beberapa tahapan: masa prasejarah, masa pengaruh Hindu-Buddha, masa pengaruh Islam, dan masa pengaruh Eropa (Azizah dkk., 2024, mengutip Sedyawati dkk., 1991).

Masa Prasejarah

Tujuan pendidikan pada zaman prasejarah adalah agar generasi muda mampu mencari nafkah, membela diri, hidup bermasyarakat, serta taat terhadap adat dan nilai-nilai religi (kepercayaan) yang mereka yakini (Azizah dkk., 2024, mengutip Sumiatie, 2015). Pendidikan yang dijalankan pada masa prasejarah adalah pendidikan informal — belum ada lembaga pendidikan formal; pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga dan dalam kehidupan masyarakat (Azizah dkk., 2024).

Sistem pendidikan pada masa prasejarah berfokus pada pendidikan langsung, yaitu orang tua mengajarkan anak-anaknya secara langsung. Materi yang diajarkan bersifat kontekstual: pengetahuan, sikap, dan nilai mengenai kepercayaan yang dianut, pendidikan untuk mencari nafkah, dan pendidikan bermasyarakat serta gotong royong (Azizah dkk., 2024, mengutip Prasetyo, 2021). Pada masa ini, pendidikan bersifat praktis (keterampilan bertahan hidup), imitatif (meniru orang tua), dan statis (terbatas pada kemampuan orang tua yang tetap) (Azizah dkk., 2024, mengutip Rifa'i, 2016).

Masa Hindu-Buddha

Dalam hubungan guru-murid pada sistem gurukulawesi, guru dan murid tinggal bersama-sama di asrama atau pertapaan; tidak ada batasan waktu belajar, namun siswa juga harus membantu gurunya memenuhi kebutuhan sehari-hari (Azizah dkk., 2024, mengutip Sedyawati dkk., 1991). Jabatan guru dipegang oleh brahmana, sedangkan tempat pendidikan berlangsung disebut widyagocara atau sejenis patapan. Konten pelajaran tidak jauh dari keagamaan dan kesusastraan, sedangkan pelajaran seorang buyut atau mpu dilakukan melalui sistem magang (Azizah dkk., 2024).

Tujuan pendidikan pada masa Hindu-Buddha identik dengan tujuan hidup manusia: untuk mencapai moksa bagi agama Hindu dan untuk mencapai nirwana bagi agama Buddha (Azizah dkk., 2024).

Masa Islam

Proses pendidikan Islam telah berlangsung sejak 14 abad lamanya, bertujuan untuk membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam sehingga mampu mengamalkan syariat agama Islam secara benar (Azizah dkk., 2024, mengutip Sedyawati dkk., 1991). Pendidikan Islam di Indonesia dimulai dengan pelaksanaan pendidikan informal, lalu semakin intensif di masjid-masjid atau langgar dalam bentuk pendidikan non-formal, dan akhirnya dilakukan secara formal melalui pesantren, dayah, maktab, dan kemudian madrasah serta perguruan tinggi Islam (Azizah dkk., 2024, mengutip Sumiatie, 2015).

Sistem pendidikan di pesantren menggunakan metode bandungan (kelompok) dan sorogan (individu). Pola kehidupan yang unik di pesantren ini menjadi ciri khas yang sangat melekat dengan kehidupan pendidikan Islam, dan dengan ini juga pesantren mampu bertahan selama berabad-abad (Azizah dkk., 2024, mengutip Sedyawati dkk., 1991).

Masa Kolonial Belanda

Pada 1818, keluar peraturan pemerintah yang membuat peraturan umum mengenai persekolahan dan sekolah rendah, yang berisi ketentuan-ketentuan mengenai pengawasan, penyelenggaraan pengajaran, dan peraturan pendidikan yang sama sekali tidak menyinggung pendidikan untuk anak-anak pribumi — pendidikan diperuntukkan untuk orang-orang Belanda saja (Azizah dkk., 2024, mengutip Makmur dkk., 1993). Sekolah desa (Volksschool) atau sekolah rakyat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menghasilkan kaum tani dan buruh yang terpelajar, namun sekolah desa kurang berhasil sebagai tempat pendidikan karena dilaksanakan di desa dan perkembangannya sangat lambat (Azizah dkk., 2024).

Semakin banyak kaum terdidik membuat bangsa Indonesia akhirnya menyadari bahwa mereka harus keluar dari belenggu penjajahan, sehingga timbul pendidikan pergerakan nasional yang dimulai dengan berdirinya Budi Utomo pada 1908 — termasuk lahirnya Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara (Azizah dkk., 2024).

Masa Awal Kemerdekaan (1945–1950)

Revolusi kemerdekaan Indonesia mengakibatkan pendidikan mengalami keadaan yang cukup parah — gedung-gedung sekolah banyak dialihfungsikan untuk kantor umum atau diduduki tentara, sementara alat pelajaran pun banyak yang hilang dan rusak, serta guru-guru banyak yang meninggalkan lapangan kerja untuk menjadi tentara (Azizah dkk., 2024, mengutip Sjamsuddin, 1993). Menjelang detik-detik proklamasi, Ki Hajar Dewantara melalui "Sub Panitia Pendidikan dan Pengajaran" merumuskan rencana pengajaran bagi Indonesia Merdeka (Azizah dkk., 2024).

Kurikulum yang sebelumnya dibuat demi memenuhi kepentingan pemerintah kolonial, diubah menjadi sesuai dengan kebutuhan Negara Indonesia yang merdeka — salah satu rumusan panitia tersebut mengenai kurikulum adalah bahwa isi pelajaran harus dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, dengan memberikan perhatian terhadap kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani, dan kewarganegaraan (Azizah dkk., 2024, mengutip Depdikbud, 1979 dalam Sjamsuddin dkk., 1993).

Kesimpulan

Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi beberapa tahapan yang berbeda di setiap masanya: mulai dari masa prasejarah yang memiliki tujuan untuk bertahan hidup, pendidikan masa Hindu-Buddha yang kental dengan keagamaan, masa Islam yang khasnya adalah pesantren, pendidikan masa kolonial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan bangsa barat, hingga pendidikan masa awal kemerdekaan yang penuh dinamika dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia akan pendidikan (Azizah dkk., 2024). Pendidikan di Indonesia setiap masanya memiliki ciri khas perbedaan sendiri, mulai dari karakteristik, tujuan, konten pembelajaran, sarana prasarana, dan sistemnya secara keseluruhan (Azizah dkk., 2024).