Self Acceptance: Konsep dan Aspek Penerimaan Diri dalam Psikologi
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penerimaan diri atau self acceptance menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kesehatan mental yang baik.
Pengertian Self Acceptance dalam Psikologi
Menurut Naqiyaningrum dalam skripsinya Penerimaan Diri pada Remaja yang Berasal dari Orang Tua Tunggal (2007), mengutip Agoes Dariyo, penerimaan diri adalah kemampuan individu untuk melakukan penerimaan terhadap keberadaan diri sendiri, berdasarkan hasil analisa dan evaluasi terhadap diri sendiri. Sikap penerimaan diri dapat dilakukan secara realistis (memandang kelemahan dan kelebihan secara objektif) atau tidak realistis (menilai diri berlebihan, menolak kelemahan, atau mengingkari hal buruk seperti pengalaman traumatis).
Naqiyaningrum, mengutip Hurlock (dalam Vanny Nurul Azizah), menjelaskan penerimaan diri sebagai tingkat kesadaran individu tentang karakteristik pribadinya disertai kemauan untuk hidup dengan keadaan tersebut — kesadaran akan kelebihan dan kekurangan yang seimbang dapat menumbuhkan kepribadian yang sehat. Sartain menambahkan bahwa penerimaan diri adalah kemampuan individu menerima dirinya sebagaimana adanya secara objektif, tanpa berarti berhenti mengembangkan diri lebih lanjut.
Sepuluh Aspek Self Acceptance Menurut Jersild
Naqiyaningrum, mengutip Jersild, merinci sepuluh aspek penerimaan diri:
Persepsi mengenai diri dan sikap terhadap penampilan — individu berpikir realistik tentang penampilan dan pandangan orang lain terhadap dirinya.
Sikap terhadap kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan orang lain — memandang kelemahan dan kekuatan secara lebih baik.
Perasaan inferioritas sebagai gejala penolakan diri — inferiority complex mengganggu penilaian realistik atas diri.
Respon atas penolakan dan kritikan — mampu menerima kritik bahkan mengambil hikmah darinya.
Keseimbangan antara real self dan ideal self — mempertahankan harapan dan tuntutan diri dalam batas yang memungkinkan.
Penerimaan diri dan penerimaan orang lain — individu yang menyayangi dirinya lebih mungkin menyayangi orang lain.
Penerimaan diri, menuruti kehendak, dan menonjolkan diri — menerima diri bukan berarti memanjakan diri; individu tidak menuntut lebih dari yang layak.
Penerimaan diri, spontanitas, menikmati hidup — memiliki keleluasaan menikmati atau menolak sesuatu sesuai keinginan.
Aspek moral penerimaan diri — fleksibilitas mengatur hidup dengan kejujuran menerima diri tanpa kepura-puraan.
Sikap terhadap penerimaan diri — menerima diri penting untuk menghormati orang lain, meski dalam keraguan.
Tujuh Ciri Orang dengan Penerimaan Diri Positif Menurut Sheerer
Naqiyaningrum merinci tujuh ciri: memiliki keyakinan menghadapi kehidupan (optimis, tidak mudah menyerah); menganggap diri berharga dan sederajat dengan orang lain; tidak menganggap diri aneh atau ditolak orang lain; tidak malu dan tidak hanya memperhatikan diri sendiri; berani memikul tanggung jawab atas perilakunya; mampu menerima pujian dan celaan secara objektif; serta tidak menyalahkan diri atas keterbatasan maupun mengingkari kelebihannya.
Ciri Penerimaan Diri Negatif Menurut Ryff
Naqiyaningrum, mengutip Ryff (Positive Psychology), merinci individu dengan penerimaan diri rendah: merasa tidak puas dengan dirinya, menyesali masa lalu, sulit terbuka, serta terisolasi dan frustrasi dalam hubungan interpersonal sehingga tidak ada keinginan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Faktor yang Mempengaruhi Self Acceptance pada Remaja
Naqiyaningrum, mengutip Hurlock, merinci sepuluh faktor yang berperan dalam penerimaan diri positif: pemahaman tentang diri sendiri; harapan yang realistik (ditentukan sendiri, bukan diarahkan orang lain); tidak adanya hambatan lingkungan; sikap masyarakat yang menyenangkan (tidak ada prasangka); tidak adanya gangguan emosional berat; pengaruh keberhasilan yang dialami; identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri baik; perspektif diri yang luas; pola asuh (anak yang diasuh demokratis cenderung menghargai dirinya sendiri); dan konsep diri yang stabil.
Peran Orang Tua Tunggal terhadap Penerimaan Diri Remaja
Naqiyaningrum menegaskan bahwa kehadiran kedua orang tua merupakan kunci bagi perkembangan anak. Pada remaja dengan orang tua tunggal, ketidakhadiran salah satu orang tua — akibat perceraian, kematian, atau sebab lain — dapat memengaruhi perkembangan psikologis remaja, khususnya pada aspek penerimaan diri. Jika penerimaan diri remaja positif, perkembangan selanjutnya akan baik; sebaliknya, jika negatif, perkembangan dirinya cenderung negatif pula.
Kesimpulan
Self acceptance adalah kemampuan individu menerima keberadaan dirinya secara objektif, dibentuk oleh sepuluh aspek (Jersild) dan ditandai tujuh ciri positif (Sheerer) atau empat ciri negatif (Ryff). Berdasarkan Naqiyaningrum (2007), sepuluh faktor Hurlock — mulai dari pemahaman diri hingga pola asuh — memengaruhi penerimaan diri remaja, dengan peran orang tua tunggal menjadi konteks penting yang memengaruhi proses ini pada masa transisi remaja menuju dewasa.