Konten dari Pengguna

Self-Compassion dan Perannya bagi Kesehatan Mental

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Self-Compassion. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Self-Compassion. Foto Unsplash.

Banyak orang diajarkan untuk berbaik hati pada orang lain, tetapi lupa bersikap lembut pada diri sendiri. Saat gagal atau melakukan kesalahan kecil, kritik dalam kepala sering kali jauh lebih keras daripada komentar siapa pun. Di sinilah konsep self-compassion menjadi relevan untuk dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Self-Compassion: Apa Itu dan Bagaimana Cara Memahaminya

Self-compassion bisa dipahami sebagai sikap memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, terutama saat berada dalam masa sulit.

Menurut Monica Handryani dan Ira Kesuma Dewi dalam artikel ilmiah “Pentingnya Self Compassion untuk Setiap Individu” yang diterbitkan di Tabularasa: Jurnal Ilmiah Magister Psikologi pada 2025, self-compassion membantu individu memahami penderitaannya dan merespons rasa sakit dengan kebaikan hati terhadap diri sendiri, bukan dengan sikap menghakimi secara keras.

Artikel tersebut juga menjelaskan bahwa self-compassion berkaitan dengan sikap tidak menyalahkan diri sendiri saat gagal, tetap memperlakukan diri dengan hangat, serta menerima bahwa kegagalan, kelemahan, dan penderitaan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Definisi dan Komponen Self-Compassion

Dalam psikologi positif, self-compassion adalah kemampuan memberi dukungan pada diri sendiri saat terluka, kecewa, atau merasa tidak cukup baik. Ada tiga komponen utama yang sering dijelaskan: self-kindness (bersikap ramah pada diri), common humanity (menyadari bahwa semua orang bisa salah), dan mindfulness (mengenali emosi tanpa berlebihan). Contohnya, ketika nilai ujian jelek, seseorang dengan self-compassion akan mengakui rasa kecewa, mengingat bahwa orang lain juga pernah gagal, lalu mencari cara belajar yang lebih efektif.

Perbedaan Self-Compassion dan Self-Esteem

Self-esteem berkaitan dengan seberapa tinggi seseorang menilai dirinya, sedangkan self-compassion lebih menekankan cara memperlakukan diri ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Self-esteem sering naik turun mengikuti pencapaian, sementara self-compassion cenderung lebih stabil karena hadir juga di saat gagal. Misalnya saat ditolak kerja atau berselisih dengan pasangan, orang yang hanya mengandalkan self-esteem bisa langsung merasa tidak berharga, sedangkan mereka yang punya self-compassion lebih mampu menerima kenyataan pahit dan tetap melangkah.

Pentingnya Self-Compassion bagi Kesejahteraan Psikologis

Pembahasan tentang pentingnya self-compassion semakin sering muncul karena banyak orang merasa lelah dengan standar diri yang terlalu tinggi. Tekanan untuk selalu kuat dan berhasil bisa membuat seseorang sulit mengakui bahwa ia juga butuh istirahat. Dengan sikap yang lebih welas asih pada diri sendiri, keseimbangan antara usaha dan penerimaan menjadi lebih mungkin tercapai.

Manfaat Self-Compassion bagi Kesehatan Mental dan Emosi

Berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa self-compassion berhubungan dengan tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih rendah. Sikap ini membantu seseorang bangkit lagi setelah jatuh karena ia tidak menghabiskan energi untuk menyalahkan diri terus-menerus.

Artikel ilmiah yang disebutkan sebelumnya menjelaskan bahwa individu dengan self-compassion cenderung lebih mampu menerima diri ketika mengalami penderitaan atau peristiwa negatif, tidak menghakimi diri secara keras, dan tidak menyalahkan diri sendiri saat gagal. Emosi negatif yang muncul tidak dihindari, melainkan disadari dengan kebaikan, rasa kemanusiaan bersama, dan mindfulness, sehingga individu dapat mengelolanya secara lebih sehat.

Dampak Self-Compassion pada Perilaku dan Hubungan Sosial

Dalam keseharian, self-compassion mendorong perilaku yang lebih sehat, seperti berani mencari bantuan profesional saat merasa kewalahan atau memberi waktu untuk beristirahat ketika tubuh dan pikiran lelah. Di sisi lain, sikap ini dapat mengurangi perfectionism yang kaku dan rasa takut gagal yang berlebihan. Ketika seseorang lebih menerima kelemahannya sendiri, empati terhadap orang lain biasanya ikut tumbuh sehingga hubungan terasa lebih hangat dan tidak mudah diwarnai sikap menghakimi.

Kesimpulan

Self-compassion memberi ruang bagi diri untuk menjadi manusia yang wajar, yang bisa salah sekaligus belajar. Sikap ini bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan landasan agar upaya memperbaiki diri tidak berubah menjadi hukuman yang menyakitkan. Dengan memahami apa itu self-compassion dan melatihnya sedikit demi sedikit, kesejahteraan psikologis bisa lebih terjaga di tengah tuntutan hidup yang terus berjalan.

Pada akhirnya, setiap orang berhak memperlakukan dirinya dengan rasa hormat dan kelembutan yang sama seperti saat ia menguatkan teman dekat. Mengganti suara batin yang terlalu keras dengan nada yang lebih hangat mungkin terasa canggung di awal, namun langkah kecil ini bisa menjadi awal perubahan besar bagi kesehatan mental jangka panjang.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Emosi dan Regulasi Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari