Konten dari Pengguna

Somatic Experiencing: Pengertian dan Bukti Ilmiah Efektivitasnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilsutrasi Somatic Experiencing. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilsutrasi Somatic Experiencing. Gambar: Pexels.

Somatic experience menjadi salah satu pendekatan terapi yang banyak dibicarakan dalam dunia psikologi, terutama terkait penanganan trauma. Metode ini berfokus pada hubungan antara tubuh dan emosi, dengan harapan dapat membantu pemulihan setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Untuk memahami lebih jauh, mari simak konsep dan penyebabnya beserta manfaat yang telah dibuktikan melalui studi ilmiah.

Apa Itu Somatic Experiencing?

Menurut Brom, Stokar, Lawi, Nuriel-Porat, Ziv, Lerner, dan Ross dalam Somatic Experiencing for Posttraumatic Stress Disorder: A Randomized Controlled Outcome Study (2017), somatic experiencing (SE) adalah terapi berfokus tubuh (body-focused therapy) untuk menangani orang dengan PTSD yang mengintegrasikan kesadaran tubuh ke dalam proses psikoterapi — pendekatan unik yang tidak digunakan oleh metode penanganan PTSD lainnya. Fokus terapi ini adalah menciptakan kesadaran terhadap sensasi fisik internal, yang dipandang sebagai pembawa ingatan traumatis (Levine, 2010).

Definisi Somatic Experiencing

Dalam teori SE (Levine, 2010), gejala stres pascatrauma dipandang sebagai ekspresi aktivasi stres dan reaksi defensif yang belum selesai terhadap peristiwa traumatis. Tujuan terapi adalah melepaskan aktivasi traumatis melalui peningkatan toleransi terhadap sensasi tubuh dan emosi terkait, mengundang proses pelepasan (discharge) agar aktivasi tersebut mereda.

Bagaimana Somatic Experiencing Bekerja dalam Terapi

Brom dkk. menjelaskan bahwa SE berbeda dari metode terapi exposure karena tidak memerlukan penceritaan ulang peristiwa traumatis secara ekstensif atau lengkap. Klien tetap perlu terlibat dengan ingatan traumatis yang menyebabkan aktivasi tinggi (high arousal), namun klien belajar memantau aktivasi tersebut dan menurunkan regulasinya pada fase awal menggunakan kesadaran tubuh, serta menerapkan mekanisme regulasi diri seperti keterlibatan pada sensasi menyenangkan, ingatan positif, atau pengalaman lain yang membantu mengatur aktivasi. Konsep dasar terapi mencakup titrasi (menjaga aktivasi tetap rendah selama pemrosesan pemicu traumatis), pendulasi (menyeimbangkan bagian tubuh yang teregulasi dan tidak teregulasi), dan discharge (cara membuat aktivasi mereda).

Studi Ilmiah tentang Somatic Experiencing

Brom dkk. melakukan studi terkontrol acak (randomized controlled trial) pertama untuk mengevaluasi efektivitas SE, melibatkan 63 partisipan yang memenuhi kriteria PTSD penuh menurut DSM-IV-TR — 33 pada kelompok intervensi (15 sesi mingguan SE) dan 30 pada kelompok waitlist. Peserta mengalami berbagai jenis peristiwa traumatis, termasuk kecelakaan kendaraan (44,4%), kasus penyerangan (12,7%), serangan teroris (12,7%), dan lainnya.

Bukti Ilmiah Efektivitas Somatic Experiencing

Analisis regresi linear model campuran (mixed model) menunjukkan efek intervensi yang signifikan untuk keparahan gejala pascatrauma (Cohen's d = 0,94 hingga 1,26) dan depresi (Cohen's d = 0,7 hingga 1,08), baik pada perbandingan sebelum-sesudah maupun pada tindak lanjut (follow-up). Pada tingkat klinis, diagnosis PTSD berhasil dibalik (reversed) pada 44,1% sampel melalui terapi, dan hasil ini bertahan pada tindak lanjut. Ukuran efek ini tergolong besar (Cohen's d > 0,8), meski hasil klinis (44,1% kehilangan diagnosis) dianggap moderat.

Brom dkk. menyimpulkan bahwa berdasarkan analisis number-needed-to-treat, hasil studi ini berada dalam rentang terapi yang efektif (< 4), memberikan alasan kuat untuk memasukkan SE dalam kategori terapi yang terbukti efektif untuk PTSD.

Penyebab Terjadinya Reaksi Somatik dalam Konteks Trauma

Brom dkk. menjelaskan bahwa trauma yang tidak terselesaikan dapat membuat tubuh tetap berada dalam kondisi aktivasi stres berkepanjangan — teori SE memandang gejala pascatrauma sebagai reaksi defensif yang belum tuntas terhadap peristiwa traumatis.

Peran Sistem Saraf dalam Somatic Experiencing

Berdasarkan Brom dkk., fokus kerja terapeutik SE melibatkan pemicu aktivasi sistem saraf otonom tingkat rendah melalui narasi traumatis (atau bagian darinya), memantau reaksi tubuh, dan memandu pelepasannya (discharge).

Rekomendasi Penggunaan Somatic Experiencing

Brom dkk. mengusulkan studi lanjutan untuk menguji efektivitas SE pada kelompok yang lebih spesifik seperti trauma militer, kekerasan seksual, dan trauma kompleks — mengingat karakteristik unik masing-masing jenis trauma (dominasi hiperarousal pada trauma kombat, intrusi ruang privat pada kekerasan seksual, dan fitur disosiatif pada trauma kompleks).

Kesimpulan

Somatic experiencing adalah terapi berfokus tubuh untuk PTSD yang menekankan kesadaran sensasi fisik sebagai pembawa ingatan traumatis. Berdasarkan Brom dkk. (2017) — studi terkontrol acak pertama untuk SE — terapi ini terbukti efektif dengan ukuran efek besar terhadap gejala PTSD (Cohen's d hingga 1,26) dan depresi (Cohen's d hingga 1,08), dengan 44,1% partisipan kehilangan diagnosis PTSD pasca-terapi. Studi lanjutan pada populasi trauma spesifik dan penelitian mekanisme fisiologis SE direkomendasikan penulis untuk memperkuat basis bukti ilmiahnya.