Konten dari Pengguna

Stanley Milgram: Teori, Studi, dan Karier Sang Psikolog

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kepatuhan. Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepatuhan. Gambar: Pexels

Stanley Milgram dikenal luas berkat eksperimen kepatuhan yang mengundang perdebatan di dunia psikologi. Melalui penelitian tersebut, ia berhasil membuka diskusi penting tentang batas antara ketaatan dan moralitas. Artikel ini membahas perjalanan karier, teori, hingga pengaruh Stanley Milgram dalam ranah ilmu perilaku.

Siapa Itu Stanley Milgram?

Nama Stanley Milgram erat kaitannya dengan studi tentang kepatuhan di kalangan psikolog.

Latar Belakang dan Pendidikan Milgram

Menurut Nestar Russell dalam artikel Stanley Milgram's Obedience Studies: An Ethical and Methodological Assessment, pada awal tahun 1960-an psikolog sosial Stanley Milgram menjalankan Obedience Studies — serangkaian eksperimen yang mengklaim menunjukkan bahwa sebagian besar orang biasa bersedia mengikuti instruksi figur otoritas untuk secara nyata menyakiti orang yang tidak bersalah (Russell, 2024). Di lingkaran akademik dan di luar itu, penelitian ini membuat Milgram sekaligus dihormati dan — melalui tuduhan penyalahgunaan subjek penelitian — dicela.

Secara biografis, Milgram menempuh pendidikan di Queens College (New York) sebelum melanjutkan ke Harvard University, di mana ia mengembangkan ketertarikan pada interaksi sosial dan pengaruh otoritas. Ia kemudian mengajar di Yale University dan City University of New York (CUNY).

Awal Karier di Dunia Psikologi

Pengaruh ilmiah Milgram tidak dapat diperdebatkan: Obedience Studies telah menginspirasi literatur yang begitu luas sehingga seorang sarjana menggambarkan kedatangannya dalam dua gelombang utama (Kaposi, 2017, dalam Russell, 2024). Karier Milgram diawali dengan riset tentang konformitas sebelum ia merancang eksperimen-eksperimen untuk menguji batas kepatuhan seseorang terhadap otoritas.

Teori Kepatuhan Stanley Milgram

Teori Stanley Milgram mengenai kepatuhan lahir dari eksperimen yang dilakukan pada awal 1960-an. Teori ini menyoroti bagaimana individu cenderung menaati perintah figur otoritas, meskipun perintah tersebut dapat berlawanan dengan nilai moral pribadi.

Proses Eksperimen

Eksperimen paling terkenal Milgram adalah kondisi New Baseline, seperti ditampilkan dalam dokumenternya Obedience (Milgram, 1965). Dalam eksperimen ini, seorang subjek sukarela berpartisipasi dalam studi yang mengaku menentukan apakah hukuman meningkatkan pembelajaran. Melalui pengundian yang diatur, subjek — dibayar $4,50 — menjadi "guru" yang memberikan pertanyaan memori kepada "pelajar" (aktor). Untuk setiap jawaban yang salah, subjek diperintahkan memberikan kejutan listrik yang meningkat 15 volt setiap kalinya, dari 15 hingga 450 volt. Generator kejutan memiliki label verbal yang semakin mengancam: "SLIGHT SHOCK," "VERY STRONG SHOCK," "DANGER: SEVERE SHOCK," dan "XXX" (Russell, 2024, hal. 109, mengutip Milgram, 1974).

Ketika subjek menolak melanjutkan, eksperimenter mendorong mereka dengan empat instruksi: "Please continue", "The experiment requires that you continue", "It is absolutely essential that you continue", dan "You have no other choice, you must go on" (Russell, 2024, hal. 109).

Temuan Utama

Kondisi New Baseline menghasilkan tingkat penyelesaian 65% — artinya, 65% subjek bersedia memberikan kejutan listrik hingga level tertinggi 450 volt (Russell, 2024). Milgram percaya keputusan subjek menyelesaikan eksperimen merupakan ilustrasi dari kegagalan moral dan, baginya, sebagian besar berperilaku "in a shockingly immoral way" (Milgram, 1964, dalam Russell). Implikasi teori Milgram merambah ke ranah pendidikan, militer, hingga pemahaman tentang genosida dan perilaku kelompok dalam situasi ekstrem.

Kritik Etis dan Metodologis terhadap Studi Milgram

Dengan pembukaan arsip pribadi Milgram sejak pertengahan 1990-an, muncul "gelombang kedua" literatur tentang Obedience Studies. Sebagian literatur ini secara meyakinkan menyarankan bahwa penelitian Milgram begitu bermasalah secara etis dan metodologis sehingga tidak layak mendapat perhatian besar yang diterimanya. Di sisi lain, sebagian sarjana berpendapat masih banyak yang dapat dipelajari dari eksperimen-eksperimen ini (Russell, 2024).

Kritik utama mencakup: tekanan psikologis berat yang dialami subjek tanpa persetujuan penuh, penggunaan penipuan (deception) yang sistematis, serta pertanyaan tentang validitas ekologis hasil eksperimen (Orne & Holland, 1968, dalam Russell, 2024). Baumrind (1964) dalam American Psychologist merupakan salah satu pengkritik etis pertama yang mempertanyakan perlindungan subjek dalam eksperimen Milgram.

Namun, Russell (2024) menyimpulkan bahwa meskipun Obedience Studies tidak etis karena banyak alasan, eksperimen tersebut tetap valid secara metodologis. Lebih jauh, justru karena praktik tidak etis Milgram itulah penelitiannya tetap begitu relevan bagi dunia di luar dinding laboratoriumnya (Russell, 2024). Replikasi etis oleh Burger (2009) dalam American Psychologist juga menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan yang relatif serupa masih ditemukan pada masyarakat modern, memperkuat validitas penemuan asli Milgram.

Pengaruh dan Warisan Stanley Milgram dalam Psikologi

Warisan Milgram terasa hingga kini dalam riset psikologi sosial. Dalam konteks akademik dan di luar itu, eksperimen Milgram menginspirasi perdebatan serius yang merambah ke pemahaman tentang Holocaust — Russell (2024) berargumen bahwa koneksi Milgram-Holocaust yang diduga ini layak mendapat perhatian kritis lebih besar, karena manajer-manajer Nazi yang paling genosidal pun dapat digambarkan sebagai "meticulous goal-directed social engineers" yang, seperti Milgram, secara bertahap belajar cara membuat yang tampaknya tidak dapat dilakukan menjadi dapat dilakukan (Russell, 2024).

Studi Milgram juga menjadi pemicu lahirnya standar etika penelitian modern. Banyak peneliti modern mengadaptasi pendekatan Milgram untuk meneliti perilaku kelompok, kepatuhan terhadap otoritas, dan dinamika kekuasaan di masyarakat kontemporer — termasuk dalam konteks digital dan organisasi.

Kesimpulan

Teori kepatuhan Stanley Milgram memberikan pemahaman mendalam tentang kecenderungan manusia untuk patuh pada otoritas, bahkan ketika hal itu bertentangan dengan nilai moral pribadi. Kondisi New Baseline yang menghasilkan 65% tingkat kepatuhan tetap menjadi temuan empiris paling mengguncang dalam sejarah psikologi sosial. Berdasarkan kajian kritis Russell (2024) dalam Philosophia Scientiæ, meskipun eksperimen Milgram tidak etis karena banyak alasan, eksperimen tersebut tetap valid secara metodologis — dan justru relevansinya bagi dunia nyata berasal dari kenyataan etis yang tidak nyaman itulah. Dengan menelaah karya dan karier Stanley Milgram, kita dapat memahami lebih jauh batas antara ketaatan dan tanggung jawab moral dalam kehidupan sosial.