Konten dari Pengguna

Survivorship Bias: Pengertian dan Ciri-Cirinya dalam Riset Psikologi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi survivorship bias. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi survivorship bias. Foto Unsplash.

Dalam dunia psikologi, hasil penelitian sering kali menjadi acuan untuk memahami berbagai fenomena mental dan perilaku manusia. Namun, ada satu bias yang kerap luput dari perhatian dan dapat menggiring interpretasi hasil penelitian ke arah yang keliru, yaitu survivorship bias. Fenomena ini penting dipahami agar hasil riset tetap objektif dan dapat dipercaya.

Apa Itu Survivorship Bias?

Survivorship bias adalah kecenderungan untuk hanya memperhatikan data, individu, atau kasus yang berhasil “bertahan” atau lolos seleksi, sementara mengabaikan yang gagal atau hilang sepanjang proses.

Menurut Krishnapriya Kanakkassery Satheesan dalam publikasi “Survivorship Bias in Psychological Research: An Analysis of Trends and Implications”, survivorship bias dapat mendistorsi kesimpulan penelitian karena terlalu berfokus pada peserta yang menyelesaikan studi, sementara peserta yang keluar, tidak merespons, atau mengalami hasil negatif terabaikan. Bias ini dapat membuat hasil penelitian menjadi kurang representatif dan tidak sepenuhnya mencerminkan keragaman kondisi di dunia nyata.

Ciri-Ciri Survivorship Bias

Fenomena survivorship bias memiliki beberapa ciri yang mudah teridentifikasi. Bias ini dapat muncul di berbagai tahap riset, mulai dari pemilihan sampel hingga pelaporan hasil.

Fokus pada Kasus yang Bertahan

Salah satu ciri utamanya adalah perhatian berlebih pada kasus atau subjek yang berhasil menyelesaikan penelitian. Data peserta yang mampu menyelesaikan seluruh proses sering dianggap lebih penting, padahal data mereka yang gagal juga memegang peranan besar dalam mengukur efektivitas atau validitas riset.

Mengabaikan Data yang Gagal

Survivorship bias juga tampak saat peneliti tidak memasukkan data dari partisipan yang gagal atau tidak menyelesaikan penelitian. Kondisi ini dapat membuat hasil analisis menjadi bias karena tidak semua data yang seharusnya dianalisis ikut diperhitungkan.

Dampak dalam Penelitian Psikologi

Dalam riset psikologi, bias ini berdampak pada validitas temuan.

Menurut Krishnapriya Kanakkassery Satheesan dalam publikasi “Survivorship Bias in Psychological Research: An Analysis of Trends and Implications”, survivorship bias dapat terjadi ketika kesimpulan penelitian terlalu mencerminkan peserta yang tetap berada dalam studi, sementara peserta yang keluar atau dikecualikan tidak ikut diperhitungkan. Kondisi ini dapat mendistorsi temuan dan mengurangi generalisasi hasil penelitian.

Studi Kasus Survivorship Bias dalam Penelitian Psikologi

Survivorship bias dapat ditemukan dalam berbagai penelitian psikologi, khususnya pada studi yang melibatkan intervensi atau program jangka panjang. Jika hanya peserta yang bertahan hingga akhir yang dihitung, efektivitas suatu program bisa tampak lebih tinggi daripada sebenarnya. Tren seperti ini berpotensi membuat hasil riset kurang akurat dan sulit digeneralisasi ke populasi lebih luas. Oleh karena itu, peneliti perlu memperhatikan data yang hilang agar kesimpulan yang diambil benar-benar mewakili realita.

Kesimpulan

Survivorship bias merupakan tantangan serius dalam penelitian psikologi. Bias ini dapat mengaburkan gambaran sebenarnya karena hanya berfokus pada kasus yang berhasil bertahan, sementara data yang gagal terabaikan. Dengan memahami ciri-ciri dan dampaknya, para peneliti dapat lebih waspada dalam menyusun desain riset dan menginterpretasi hasilnya, sehingga survivorship bias bisa diminimalisir semaksimal mungkin.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup