Tantrum Anak: Apa Itu dan Bagaimana Cara Menghadapinya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tantrum anak sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Kondisi ini biasanya muncul saat anak menunjukkan emosi secara meledak-ledak, baik melalui tangisan, teriakan, maupun perilaku agresif. Memahami apa itu tantrum anak dan bagaimana cara menghadapinya sangat penting agar proses tumbuh kembang anak tetap berjalan positif.
Pengertian Tantrum Anak
Menurut Syamsuddin dalam Mengenal Perilaku Tantrum dan Bagaimana Mengatasinya (2013), tantrum adalah suatu ledakan emosi yang kuat sekali, disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, serta menghentak-hentakkan kedua kaki dan tangan ke lantai atau tanah (Chaplin, 1981, dikutip dalam Syamsuddin). Tantrum bersifat alamiah, terutama pada anak yang belum bisa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan rasa frustrasi mereka (Fetsch & Jacobson, 1998, dikutip dalam Syamsuddin). Perilaku tantrum adalah perilaku yang normal pada anak berusia 15 bulan sampai 6 tahun — orang tua tidak perlu risau jika anak mengalaminya, sekalipun tampak dalam bentuk perilaku agresif, karena ini bukanlah perilaku permanen yang abnormal. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak usia balita, ketika kemampuan mengungkapkan keinginan dengan kata-kata masih terbatas.
Definisi Tantrum Menurut Ahli
Tantrum merupakan reaksi emosional yang wajar dan bagian dari proses belajar anak mengelola perasaan. Anak yang sedang tantrum sering kali belum mampu mengontrol dirinya, sehingga respons yang muncul bisa sangat intens. Secara tipikal, tantrum mulai terjadi saat anak mulai membentuk sense of self — pada usia ini anak sudah cukup memiliki perasaan "me" dan "my wants", tetapi belum memiliki keterampilan memadai untuk memuaskan keinginan mereka secara tepat. Tantrum mencapai puncaknya pada usia 2–4 tahun, dengan prevalensi sekitar 23–80% (Fetsch & Jacobson, 1998, dikutip dalam Syamsuddin). Data dari Potegal dan Davidson (2003, dikutip dalam Syamsuddin) menunjukkan bahwa anak berusia 18–24 bulan mengalami tantrum sebanyak 87%, usia 30–36 bulan sebanyak 91%, dan usia 42–48 bulan sebanyak 59%, dengan durasi rata-rata 2 menit pada usia 1 tahun hingga 5 menit pada usia 4 tahun.
Landasan Teoritis Tantrum
Syamsuddin menjelaskan perilaku tantrum melalui beberapa perspektif teori agresivitas (Krahe, 2001, dikutip dalam Syamsuddin): pandangan etologis memandang tantrum sebagai hasil energi internal yang terakumulasi dan dilepaskan akibat stimulus eksternal; pandangan psikoanalisa Freudian melihatnya sebagai manifestasi instink destruktif (tanatos); hipotesis frustrasi-agresi memandang tantrum sebagai dorongan untuk mengakhiri kondisi deprivasi akibat interferensi eksternal terhadap perilaku yang diarahkan pada tujuan; sementara pendekatan sosial kognitif menekankan bahwa perilaku tantrum dapat dipelajari melalui proses sosialisasi, termasuk pengkondisian instrumental (hadiah dan hukuman) serta peniruan.
Ciri-ciri Tantrum pada Anak
Saat tantrum, anak bisa menangis keras, berteriak, memukul, atau bahkan membanting barang. Menurut Tasmin (2002, dikutip dalam Syamsuddin), bentuk perilaku tantrum bervariasi menurut usia: anak di bawah 3 tahun cenderung menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, hingga membenturkan kepala; anak usia 3–4 tahun menambahkan perilaku menghentak-hentakkan kaki, berteriak-teriak, meninju, dan membanting pintu; sedangkan anak di atas 5 tahun dapat menunjukkan perilaku memaki, menyumpah, memukul saudara atau teman, hingga memecahkan barang dengan sengaja. Dryden (2007, dikutip dalam Syamsuddin) turut membedakan agresivitas yang diarahkan keluar (merusak objek atau menyakiti orang lain) dan agresivitas yang diarahkan ke dalam diri (menggaruk kulit sampai berdarah, membenturkan kepala). Selain itu, mereka juga kerap menolak berkomunikasi dan sulit ditenangkan. Perilaku ini merupakan ekspresi dari rasa tidak nyaman yang sedang mereka rasakan.
Penyebab Tantrum pada Anak
Munculnya tantrum anak bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri anak maupun lingkungan sekitar. Memahami sumbernya dapat membantu orang tua memberikan respons yang tepat.
Faktor Internal
Usia dan perkembangan emosi menjadi pemicu utama. Anak yang masih kecil biasanya belum mampu mengekspresikan keinginan secara verbal. Selain itu, Tasmin (2002, dikutip dalam Syamsuddin) menjelaskan bahwa rasa lapar, kebutuhan yang tidak terpenuhi, serta ketidakmampuan anak mengungkapkan diri dan keinginannya turut memicu tantrum, sehingga orang tua meresponnya tidak sesuai dengan keinginan anak.
Faktor Eksternal
Lingkungan yang kurang kondusif, pola asuh yang inkonsisten, serta perubahan rutinitas dapat membuat anak lebih mudah mengalami tantrum. Sikap orang tua yang kurang sabar atau terlalu sering melarang juga berpengaruh terhadap kemunculan perilaku ini. Menurut Fetsch dan Jacobson (1998, dikutip dalam Syamsuddin), penyebab tantrum juga erat kaitannya dengan kondisi keluarga, seperti anak terlalu banyak mendapat kritikan dari anggota keluarga, masalah perkawinan orang tua, gangguan saat anak bermain oleh saudara lain, persaingan dengan saudara, serta kurangnya pemahaman orang tua mengenai tantrum sehingga meresponnya sebagai sesuatu yang mengganggu.
Cara Efektif Menghadapi Tantrum Anak
Mengelola tantrum anak membutuhkan strategi yang tepat agar anak merasa dipahami dan belajar mengendalikan diri. Setiap keluarga mungkin akan menemukan cara yang paling sesuai dengan karakter anak masing-masing.
Strategi Orang Tua Mengelola Tantrum
Sebaiknya orang tua tetap tenang saat menghadapi anak yang sedang tantrum. Menurut Syamsuddin, ada tiga hal yang perlu dilakukan sesegera mungkin: memastikan segalanya aman, mengontrol emosi diri, serta tidak peduli terhadap pandangan sinis atau reaksi negatif dari lingkungan sekitar (Tasmin, 2008, dikutip dalam Syamsuddin). Jauhkan anak dari benda-benda yang rawan dirusak. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah membawa anak ke kamar dan mengisolasinya selama 2–3 menit sambil menyampaikan, misalnya, "mama akan meninggalkan ade di kamar ini sampai kamu tenang dan siap untuk bicara dengan tenang" (Tavris, 1989, dikutip dalam Syamsuddin). Berikan ruang untuk anak menenangkan diri, lalu ajak bicara setelah suasana lebih kondusif. Hindari membentak atau langsung memenuhi keinginannya.
Hal yang Harus Dihindari Saat Anak Tantrum
Menurut Syamsuddin, mengabaikan atau mempermalukan anak di depan umum dapat memperburuk keadaan. Tindakan seperti membujuk, berargumen, atau memberikan nasihat moral saat tantrum berlangsung justru ibarat "menyiram bensin dalam api" — anak akan semakin kuat mengekspresikan kemarahannya. Meminta anak diam dengan menjanjikan hadiah juga perlu dihindari, karena hal ini justru mengajarkan anak menggunakan tantrum sebagai senjata untuk meluluskan keinginannya (Mah, 2008, dikutip dalam Syamsuddin). Selain itu, membalas kemarahan dengan kekerasan justru membuat anak makin sulit mengontrol emosi — memaksa anak diam dengan kata-kata kasar atau hukuman fisik hanya akan mengajarkan anak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi masalah (Lorenz, 2010; Tasmin, 2008, dikutip dalam Syamsuddin). Perlu dicatat, sebuah penelitian oleh Gina dan Jessica (2007, dikutip dalam Syamsuddin) menemukan bahwa orang tua sering merespon anak yang tantrum dengan cara yang tidak tepat — 59% mencoba menenangkan anak secara keliru, 37% mengacuhkan, dan 31% menyuruh anak diam.
Rekomendasi Praktis Mengatasi Tantrum
Beberapa langkah yang dapat dicoba antara lain:
Alihkan perhatian anak pada kegiatan lain yang positif (Tavris, 2008, dikutip dalam Syamsuddin).
Berikan pelukan atau sentuhan lembut untuk menenangkan — namun perlu diklarifikasi bahwa Syamsuddin secara spesifik mencatat: jika anak meronta-ronta, memukul, atau mencakar, tindakan memeluk sebaiknya tidak dilakukan karena hanya akan memicu dan memprovokasi orang tua bertindak kasar.
Konsisten dengan aturan yang sudah dibuat agar anak belajar tentang batasan — misalnya melalui teknik komunikasi kreatif seperti making a game out of the child's demand (Lorenz, 2010, dikutip dalam Syamsuddin), yaitu mengalihkan tuntutan anak dengan permainan bahasa yang membuat anak memahami batasan tanpa konfrontasi langsung.
Setelah tantrum mereda, Syamsuddin menyarankan agar orang tua menunjukkan ekspresi cinta pada anak dan membiarkannya merasa aman, serta mengevaluasi penyebab tantrum tersebut. Jika ingin mengajarkan nilai atau nasihat baru, sebaiknya tidak dilakukan segera setelah tantrum berakhir, melainkan ketika keadaan sudah tenang dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Kesimpulan
Tantrum anak merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang wajar dan bersifat universal, meskipun sering membuat orang tua kewalahan. Dengan memahami penyebab dan landasan teoritisnya — mulai dari pandangan etologis, psikoanalisa, hipotesis frustrasi-agresi, hingga pendekatan sosial kognitif (Krahe, 2001, dikutip dalam Syamsuddin) — serta menerapkan cara efektif menghadapi tantrum anak, proses pembelajaran emosi anak bisa berjalan lebih baik. Pendekatan yang sabar dan konsisten akan membantu anak belajar mengelola perasaan serta membentuk perilaku yang sehat di masa depan.